Cincin Kawin

H.A.S HANANDJOEDDIN

‘Ruang tunggu keberangkatan bandara H.A.S. Hanandjoeddin Tanjungpandan, Belitung.’

Aku meng-update tweet akun twitterku, sebuah kebiasaan baruku setahun terakhir di saat sedang suntuk. Kutegakkan sandaranku ke kursi dan mengambil nafas dalam-dalam untuk mengurangi peluru-peluru kantuk yang masih menyerang mataku. Padahal sudah tiga kopiko lumer dalam mulutku. Ini yang ke empat, dan masih harap-harap cemas juga bisa mengusirnya.

“Nanti, apa yang harus aku lakukan? Kata-kata seperti apa yang akan kuucapkan, Ma?”

“Pertama kamu harus menarik nafas dalam lalu bilang: will you marry me? Sambil memperlihatkan cincin yang akan kamu berikan padanya.”

Seketika aku menoleh ke arah percakapan di sebelahku. Seorang pemuda bersama ibunya dengan membahas untuk melamar seseorang yang nun jauh di sana. Terlihat ibunya sedang memprektekkan cara melamar. Aku merogoh kantong celanaku, mengeluarkan benda yang sama dengan yang mereka punya: cincin kawin. Aku tersenyum. Kemudian tubuhkuku ringan, aku seperti diangkat dan dibawa ke sebuah tempat. Tempat itu ada di sama lalu.

*

Pertama kali aku tahu bahwa dia itu ada di dunia ini adalah pada saat ia berdiri di samping tembok sedang tertawa renyah bersama mahasiswa baru ekstensi lainnya yang ia kenal dan aku tidak kenal sama sekali. Ia terlihat paling semangat dan paling menonjol. Sayangnya kelihatan agak sengak. Mungkin memang sudah bawaan raut mukanya. Tapi kupastikan, saat itu dialah yang menarik perhatianku, meskipun ada yang seharusnya layak mendapatkan perhatian lebih dibadingkan dia karena memiliki paras yang lebih cantik.

Kupikir, ingatanku tentangnya hanya saat itu saja. Ternyata berlanjut setelah empat bulan kemudian saat aku mencoba mendekati seseorang yang lain, yang ternyata adalah sahabatnya. Namanya Nina. Waktu itu, aku banyak bertanya tentang sahabatnya di facebook yang kemudian pertanyaan itu hilang dengan sendirinya ketika aku merasa nyaman mengobrol dengannya meskipun (ah, tidak meskipun karena memang biasanya orang mengobrol lewat jejaring sosial akan tampak ramah dan santai) kami belum pernah bertemu lagi setelah waktu itu. Dia saja tidak tahu rupaku yang sebenarnya. Kami memang kebetulan tidak satupun mengambil mata kuliah yang sama selama satu semester, sehingga kemungkinan untuk bertemu sangat tipis.

Pertemuan tatap muka dan mengobrol langsung pertama kali kami adalah saat ia mengajakku untuk menemui sahabatnya, yang sebelumnya kucoba dekati. Entah kenapa, aku malah banyak memperhatikan dia yang banyak bicara. Seru sekali. Mungkin, salah satu penyebabnya, karena sahabatnya sudah memiliki pacar yang hubungannya sudah berjalan lebih dari lima tahun lamanya. Kata orang, hubungan yang lama tidak menjamin akan langgeng hingga jenjang selanjutnya. Bisa jadi ada penyalip yang bisa meyakinkan dalam waktu singkat sehingga jenjang selanjutnya itu dijalani bersama penyalip tersebut. Hanya saja, aku tidak berbakat menjadi penyalip.

Pada pertemuan itu, kami banyak bercerita soal masa lalu. Ia bercerita soal kedekatan mereka selama diploma dan aku pun menceritakan bahwa aku sebenarnya angkatan tiga tahun di atas mereka dan sudah sempat bekerja di sebuah perbankan di Jakarta. Mendengar itu, ia langsung bersemangat untuk mengeluarkan suara indahnya dengan banyak bertanya padaku. Ia mendapat panggilan untuk mengikuti psikotest di tempat yang sama di mana aku bekerja dulu.

“Lusa kakak sibuk nggak? Aku nggak tahu di mana gedungya.”

“Nggak.”

Pagi itu, Bogor indah sekali. Itu adalah pagi yang jauh berbeda dari pagi-pagi kujalani selama hampir lima tahun terakhir waktu itu. Meskipun bangun sebelum subuh bukanlah hal yang asing bagiku, tapi yang membuat berbeda adalah karena dia. Aku akan menemaninya psikotest ke kantorku yang dulu. Senang sekali membayangkanya. Kami akan mengobrol banyak di bis hingga akhirnya akan terjalin kedekatan.

Tapi semua tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiranku. Aku kaku seperti sebelum-sebelumnya. Aku bingung akan membincangkan topik apa. Aku lupa mengkonsepnya karena terlalu bahagia. Semalaman saja sampai terbawa mimpi. Kemudian perjalanan pagi itu menjadi perjalanan minim kata. Dan ia lebih memilih untuk melanjutkan mimpinya semalam. Sedangkan aku bergelut dengan berbagai pertanyaan dan kutukan terhadap diriku sendiri.

*

“Para penumpang dipersilakan untuk menuju pesawat melalui pintu sebelah kiri.”

Aku terperanjat. Bukan. Itu bukan pesawatku. Juga bukan pesawat ibu dan anak di sampingku.

*

“Kita kepagian. Tapi kalau mau masuk sudah boleh kok. Langsung ke lantai 19 aja. Di sana kan psikotest-nya? Kalau tidak salah.”

“Masih hapal aja.”

“Sedikit.”

Kami duduk di pinggir tangga gedung sambil aku mencoba membuka pembicaraan dan bertekad akan menjadi obrolan yang menarik. Ternyata tidak semudah itu. Ia malah lebih memilih diam dengan pikiran menerawang. Tak lama kemudian ia mengajakku masuk. Di lantai 19 ternyata sudah banyak orang.

Psikotest berlangsung dengan beberapa tahap. Semua rangkaian tes tersebut dilakukan pada hari yang sama. Jika lulus semua dilanjutkan dengan wawancara. Setelah itu tinggal menunggu kabar saja. Dia adalah gadis yang pintar sehingga semua tes dapat dialuinya dengan mudah.

“Kak, bangun. Kasihan sampai ketiuran begitu. Maafin aku ya, Kak sudah merepotkan Kakak.”

“Eh, sudah wawancaranya?” aku mengucak-ngucak mataku dan membenarkan posisi dudukku sambil memperhatikannya membereskan isi tasnya.

“Sudah. Tinggal menunggu hasilnya. Nanti ditelepon katanya.”

“Paling lama sih dua minggu.”

“O yah nggak tahulah. Yuk, Kak kita pulang.”

Sore itu sikapnya berubah lagi. Dia terlihat lebih santai dan ceria. Barulah aku mengerti mengapa dia lebih banyak diam pagi itu. Tak lain adalah untuk menenangkan pikirannya yang sebagian besar diisi oleh kegugupan.

“Yakin langsung pulang, Nin?”

“Ya mau ke mana lagi.”

“Mampir ke Semanggi misalnya.’

“Macet, Kak. Macet.”

“Iya sih.”

Tenang. Masih ada hari esok, pikirku. Tapi tidak tahu kenapa, meskipun seharian aku sudah bersamanya masih saja terasa kurang. Sebagai penutup hari yang menyenangkan itu, kami makan malam di dekat kostannya. Kami banyak bercerita. Seperti kondisi waktu chatting di facebook, suasananya begitu cair. Senang sekali melihat ia bercerita—bukan mendengarkan ia bercerita. Aura kecerdasannya pun keluar melesat-lesat mengindahkan suasana di warung tenda tersebut.

Hari-hari berikutnya aku tidak pernah bertemu dengannya di kampus. Hubungan hanya sebatas chatting dan sms saja, setiap hari, setiap menit. Seminggu kemudian ia memberitahuku bahwa ia lulus dan kembali minta ditemani untuk ke Jakarta tapi kali itu ke kasawan Sudirman untuk medical check up. Kami bertemu di Gambir karena pada saat itu ia berangkat dari Semarang. Sama seperti aku mengantarnya pertama kali, sikapnya dingin kembali. Ia sempat menggerutu karena aku banyak salah rute menuju tempat tujuannya. Kami juga sempat kehujanan dan beberapa kali harus berjalan kaki. Aku mencoba untuk menetralisir suasana. Berhasil! Meskipun sebentar. Pulangnya, aku merencanakan untuk mengajak ia makan malam, seperti sebelumnya, aku masih belum puas seharian bersamanya. Sayangnya ia menolak ajakanku dengan alasan lelah.

Kembali hubungan hanya sebatas sms. Kini, malah agak jarang dibalas. Hanya seperlunya saja. Aku tidak menyerah. Malah semakin penasaran. Kucoba dengan menggodanya, memanggilnya dengan sebutan yang lucu atau mengajaknya bermain tebak-tebakan. Ia tak berselera membalas semuanya. Namun, ketika aku bertanya soal yang berkenaan dengan perkuliahan, barulah ia membalasnya. Ada apa ini? Aku mulai bertanya-tanya.

Saat itulah aku baru paham istilah galau. Setiap hari komunikasi semakin minim. Aku hanya bisa memandang foto-fotonya di facebook. Membaca komentar-komentar status facebook-nya dan ikut mengomentari tanpa ada balasan kecuali hal yang penting. Ketika aku membuka info mengenai dirinya, aku kembali bersemangat. Sebentar lagi ia berulang tahun. Aku mendapatkan ide cemerlang untuk mencoba agar ia bisa kembali dekat denganku. Ide tersebut aku diskusikan dengan sahabat-sahabatku.

Dimulailah sebuah perjuangan untuk mendapatkan cinta. Beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya, bersama sahabat-sahabatku mencari hadiah yang kira-kira cocok untuk hadiah ulang tahunnya. Tas. Wanita suka tas. Ah, tas yang kuinginkan, yang menurutku terbaik tidak bersahabat dengan dompetku. Sepatu. Aku lupa menanyakan ukurannya dan itu juga tidak mungkin. Boneka. Klasik sekali, tapi ia sangat suka terutama boneka Nightmare. Ah, tapi itu sudah pernah dibelikan oleh mantan pacarnya. Setelah lelah kami berkeliling, akhirnya aku membelikannya sebuah dompet berwarna ungu berharga murah meriah yang kuselipkan sebuah puisi cinta, namun tak pernah sempat kuberikan meskipun telah kusimpan bertahun-tahun. Ah, kado tersebut juga sangat biasa.

Sahabat-sahabatku menghiburku: meskipun kadonya biasa, tapi berikanlah dengan cara yang tak biasa. Hari ulang tahunnya bertepatan dengan hari kerja sehingga aku juga tidak mungkin memberikannya tepat jam dua belas malam. Dan itu pun sebetulnya biasa. Akhirnya aku memutuskan untuk memberikannya pada waktu sebelum subuh, saat dia sudah bangun untuk bersiap-siap berangkat kerja di Jakarta. Dengan gagah berani, di subuh itu (tentunya aku sholat dulu di mushola dekat kostannya) aku meng-sms-nya agar keluar. Tak dibalasnya. Kutelepon juga tidak diangkat. Aku cemas. Lebih dari satu jam aku menunggu, ia tak kunjung keluar. Orang-orang sudah mulai ramai berlalu-lalang. Muka kutebalkan sambil menarik nafas dalam-dalam. Namun, tak beberapa lama kemudian, ia keluar. Untungnya lilin kue ulang tahun sudah kunyalakan meskipun sudah habis setengah.

“Selamat ulang tahun.”

“Ih, kakak repot-repot. Lebai deh,” katanya sambil tertawa tersipu. Tersipu? Entahlah. Karena setelah itu, aku menawarkan diri untuk mengantarnya ke terminal. Ia menolak. Ia memilih berjalan kaki dengan iringan sepeda motorku.

“Biar sekalian aku pulang.”

“Nggak usah, Kak,” ia mempercepat langkahnya. Kemudian di ujung gang seseorang telah menunggunya. Seorang lelaki yang tak kukenali wajahnya karena gelap.

Aku setengah berteriak memanggilnya sambil mengeluarkan kado ulang tahun untuknya yang ingin segera kuberikan. Tapi, lelaki bersepeda motor yang membawanya itu telah hilang di belokan menuju jalan raya. Aku hanya bisa menatap kado berisi dompet ungu murah meriah tersebut. Mulai pagi itu, galauku naik dua belas level.

Beberapa hari kemudian ia dikabarkan menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang tak lain adalah angkatan satu tingkat di atasku yang juga salah satu teman nongkrongku di warung samping kampus. Bertambah sakitlah hati ini. Ingin marah. Lha aku ini siapa?

Hari-hariku yang pergi perlahan kembali. Level galauku sedikit demi sedikit menurun setelah menemukan banyak teman yang selalu ada untuk menghiburku. Aku juga menyibukkan diri dengan tugas-tugas kuliah. Setiap hari duduk di depan komputer yang terkonekasi dengan internet, sembari berselancar, chatting dan sebagainya.

Hatiku semakin membaik ketika berkenalan dengan Naila—nama itu mungkin telah lama ada dalam akun facebook-ku. Kami sering bertukar cerita tentang apapun yang pernah atau sedang kami alami, tentu saja sambil aku mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Tapi lebih sering aku yang mendengar (membaca) cerita-cerita yang dialaminya, seperti soal ia berpacaran untuk yang pertama kali, kemudian selalu menyakitinya.

‘Bang, mungkin lebih baik nikah muda, ya, Bang? Biar kelihatan seriusnya, daripada pacaran tapi menyakitkan’

‘Heh, anak kecil udah mikirin nikah aja. Sekolah woi sekolah.’

Aku tertawa tak henti membaca chatting-annya saat itu. Itulah sebabnya aku sering memanggilnya dengan panggilan Ratu Galau, ditambah lagi kegalauannya karena dituntut ayahnya untuk mendapat IP di atas tiga koma lima pada semester itu akibat semester lalu nilainya jeblok (masih gara-gara patah hati). Kisah cerianya hanya soal liburan ke Dufan bersama keluarganya yang kutanggapi dengan perasaan iri karena belum pernah sama sekali seumur hidup.

‘Suatu saat harus ke sana. Nanti bersama isteri saja.’

‘Isteri mana isteri ha ha ha.’

‘Di warung.”

Begitulah setiap hari sembari aku mengerjakan tugas kuliah yang tiada matinya, Naila menjadi penghiburku. Aku lupa soal Nina. Di mana, dengan siapa dan sedang apa Si Nina. Hanya saja, aku tidak pernah berharap untuk bisa bertemu Naila. Dia nun jauh di Malang dan aku tidak mempunyai alasan yang pas untuk menemuinya. Lagi pula, aku harus cepat-cepat menyelesaikan kuliah agar tidak dicap sebagai mahasiswa abadi. Hampir dua puluh enam bukanlah umur yang muda lagi. Akhirnya aku bilang: semoga kita bertemu suatu saat nanti, meskipun dalam keadaan entah.

‘Daleeem bangeet. Amin. Amin. Amin. Semoga ya, Bang. Abang itu baik banget.’

Aku tertawa.

Tak hanya itu yang membuatku semakin membaik dari patah hati. Aku mengobatinya dengan cara mendekati beberapa mahasiswi atas saran sahabat-sahabatku. Hanya saja, semuanya gagal. Kebanyakan akhir kisahnya adalah dikarenakan aku mundur dari perang. Rata-rata mereka sudah memiliki pasangan atau merasa aku bukanlah levelnya. Tapi tidak terlalu sedih karena dari awal aku memang setengah hati. Pelarian? Mungkin saja. Lebih tepatnya coba-coba.

Beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa Nina putus. Mendengar itu timbul lagi perasaan lama yang terpendam. Beberapa sahabat melarangku untuk mendekatinya dan bilang macam-macam soal dia. Beberapa lagi mempersilakan aku untuk mencoba kembali. Ya, aku ingin mencoba. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku takut terjadi lagi seperti yang lalu. Bulan berganti bulan dan aku tetap tak bergeming.

Hingga pada suatu hari di hari minggu, aku bertemu dengannya di mall sebelah kampus kami. Ia sendiri hendak menonton bioskop dan aku pun sama. Akhirnya kami nonton bersama meskipun tidak bersebelahan karena ia telah lebih dulu membeli tiket. Pulangnya aku ingin mengajaknya makan di Solaria, hanya saja mulutku tidak bisa diajak kompromi, kelu. Tapi kemudian diganti dengan sms-an malam harinya.

Kami berbincang banyak. Suasana cair seperti sedia kala. Malam itu, kami blak-blakan buka hati. Aku bilang perasaanku padanya dan dia pun bilang bahwa sebenarnya ia juga waktu itu hampir buka hati. Hanya saja kesalahanku adalah ketidaksabaran. Ia menanyakan kenapa aku yang tadinya menyukai temannya langsung beralih menyukai dirinya. Ia tidak suka seperti itu. Kemudian ia bertanya kenapa aku menyukainya. Aku bingung. Karena cinta memang tidak memerlukan alasan.

‘Dan apakah sekarang masih buka hati?’

Dia tertawa dalam sms-nya. Kemudian sms lagi: ‘Aku sudah punya pacar, Kak. Teman kita juga.’

Dunia hening. Tak ada suara jangkrik atau apapun itu. Angin seolah menamparku. Kunyatakan besok pagi adalah saatnya bendera galau dikibarkan.

‘Kak, jodoh itu rahasia Allah. Dan kalau jodoh tidak akan ke mana’.

Tiba-tiba ia sms lagi. Ah, kalimat ini hanya untuk menyemangati atau apa? Terselip harapan dalam kalimat itu. Lalu kutarik kembali pernyataan untuk mengibarkan bendera galau besok pagi. Kalimat itu begitu menenangkan. Dua bulan kemudian hubungan mereka berakhir.

‘Mungkin yang kemarin adalah yang terakhir, Kak. Aku akan menanti yang benar-benar serius. Langsung datang ke orang tua, misalnya. Hehehe…’

Kalimat itu membuncahkan semangatku lagi. Dalam hatiku berjanji untuk segera melamarnya tanpa harus berpacaran. Aku juga tidak peduli jika akhirnya kami terpisahkan oleh jarak karena ia telah pindah kerja di tempat kerja yang baru di Semarang dengan alas an mendekatkan diri dengan keluarganya mengingat ia juga sudah lebih dulu menyelesaikan kuliahnya. Aku tetap berpegang teguh pada dua kalimat yang selalu terngiang-ngiang dalam otakku.

Setelah menyelesaikan kuliah, aku mendapatkan pekerjaan yang lumayan. Aku sudah membeli cincin dan siap untuk melamarnya dan berangkat ke Semarang.

*

“Para penumpang dipersilakan untuk menuju pesawat melalui pintu sebelah kiri.”

Itu pesawatku. Ibu dan anak di sebelahku mulai beranjak. Aku mengedarkan pandangan mencari seseorang yang tadi bersamaku.

“Ummi, ayo pesawatnya sudah tiba. Ke toiletnya lama banget sih?” aku mengambil koper kecil di bawah kursi.

“Alvin tadi mendadak sakit perut, Bi. Jadi sekalian saja, daripada nanti merengek di pesawat.”

“Ya, sudah. Ayo, Nak. Sini Abi gendong. Ummi tarik kopernya ya.”

Ini pertama kalinya setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki di Jakarta. Tidak ada salahnya libur panjang kali ini dihabiskan di luar Belitung. Di bandara Soekarno Hatta sudah menunggu sahabat karibku yang akan membawa kami berkeliling Jakarta. Tujuan utama kami adalah Dufan. Itu request khusus dariku karena seumur-umur aku memang belum pernah ke sana.

“Alvin gendong sama Om ya. Duh sudah besar ya anakmu. Aku kapan ya?” Rizal meraih Alvin.

“Semoga secepatnya, Zal.”

“Amin,” Isteriku mengamini diikuti Rizal.

Setelah rehat sejenak di hotel dan jalan-jalan di sekitar hotel, besoknya kami langsung di ajak Rizal pergi ke Dufan. Ramai sekali. Tapi bukan masalah karena aku hanya ingin melihat-lihat saja untuk mengobati rasa penasaranku. Lagi pula tidak mungkin Alvin juga ikutan menaiki wahana-wahana yang ada.

“Eh, kamu nggak mau mencoba Jo? Biar Alvin aku yang jaga kalau kamu mau mencoba-coba. Sekalian kalian pacaranlah. Belum pernah pacaran kan?”

Aku tersenyum. “Ha ha ha, iya belum. Tapi pas sudah menikah jangan ditanya lagi.”

“Ya sudah sana pacaran.”

“Jaga Alvin baik-baik, ya,” aku mengingatkan Rizal.

“Tenang. Eh, Naila. Jaga baik-baik ya temanku yang satu itu. Siapkan kantong muntah.”

Isteriku hanya tersenyum mengangguk. Dan kami pacaran.

Setelah puas, aku mengajak isteriku ke salah satu mini resto yang ada di situ. Tadinya ia menolak karena ingin mengambil Alvin terlebih dahulu. Tapi kuyakinkan Alvin akan baik-baik saja.

“Aku ingin kita berdua saja, Mi,” aku mengedip sebelah mataku sambil menyolek dagunya.

“Ih, Abi nakal.”

Kami memilih menu dan menuju kursi yang paling pojok.

“Mi, Ummi ingat nggak ini hari apa?”

“Kamis.”

“Makudnya tanggal berapa?”

“6 Juni”

“Ini tanggal pertama kali kita bertemu.”

*

Waktu itu tanggal 6 Juni empat tahun yang lalu aku tiba di Semarang dengan membawa tekad untuk menagih harapan. Aku sengaja tidak memberitahu Nina terlebih dahulu. Segala informasi megenai alamat rumahya aku cari sendiri lewat teman-teman kampusku yang dulu. Aku akan memberikannya kejutan: langsung datang dan meminta pada orang tuanya.

Semarang, kota yang sangat asing bagiku. Namun, bukan berarti aku akan sulit menemukan rumahnya. Dengan kekuatan cinta, aku yakin akan dengan mudah bisa menemukannya. Benar saja. Aku berhasil menemukan alamat yang di maksud. Hanya saja aku menjadi ragu, sebab di depan rumahnya banyak mobil parkir. Di halaman rumah ada tenda dan kursi serta orang-orang yang sedan duduk-duduk ramai. Kemuian sayup-sayup terdengar dari suara mikrofon:

Saya terima nikahnya Nina Anggraini binti Bagus Prasetyo dengan mas kawin….

Tubuhku bergetar. Harapan hilang. Kalut. Aku berbalik. Pulang.

Di stasiun Semarang, aku hanya duduk diam di peron sambil memain-mainkan cincin. Jodoh memang rahasia Tuhan. Ia benar. Menanti yang benar-benar serius. Itu juga benar. Hanya saja aku terlambat.

Aku menghela nafas. Masih ada hari esok.

“Mas, di sebelahnya kosong?”

Aku menengadahkan kepalaku ke pemilik suara itu. Aku kaget. Sepertinya ia tidak asing bagiku. Tapi aku tidak berani mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku.

“Kosong kok.”

Kami diam cukup lama sampai akhirnya ia membuka suara.

“Maaf, saya sepertinya tidak asing dengan, Mas. Nama…” gadis itu belum sempat melanjutkan kata-katanya.

“Kamu Naila?”

“Bang Jo?”

Kami tertawa.

“Ternyata begini ‘dalam keadaan entah’ itu ya, Bang.”

Dan itulah rencana Tuhan yang misterius itu. Hal kecil yang sering kali kita lupakan ternyata menjadi bagian penting dalam mengubah hidup kita.

*

“Lalu?”

“Aku ingin melamar kamu sekali lagi. Mau nggak kamu menjadi isteriku selamanya? Dan Ratu Bidadariku di surga?”

Ia tertawa. “Abi ini apaan sih.”

“Serius. Soalnya waktu itu kan melamarnya nggak romantis.”

Aku teringat saat keretaku tiba, aku hanya bilang: ini untuk kamu. Kemudian aku langsung buru-buru naik kereta meninggalkan kebingungannya. Dari dalam kereta aku teriak: simpan cincin itu baik-baik! Tahun depan kamu lulus aku kembali!

“Lagi pula cincin kawinnya kan udah dijual untuk bayar hutang. He he he…” aku mengeluarkan cincin yang telah kusiapkan. “Ini sebagai penggantinya.”

Ia tersenyum sambil menunduk. Begitulah Naila kalau sedang tersipu.

“Ah, Abi. Malu dilihat orang.”

Aku tidak mempedulikannya.

“Mungkin cincin ini biasa. Sama saja dengan cincin-cincin lainnya. Tapi setidaknya Abi memberikannya dengan cara yang tidak biasa.”

“Kayaknya biasa deh, Bi.”

“Nggak. Soalnya ini ngasihnya dua kali. Beda.”

Kami tertawa.

“Abi bisa aja. Kalau mau lebih romantis lagi ngasihnya di stasiun Semarang, Bi.”

“Jauh.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s