Ketika Isteriku Cemburu

Aku bisa mengetahui matanya sedang berbicara tentang kegalauan hatinya melalui rasa yang ia transfer ke sudut mataku. Dia merasa tidak nyaman dengan perbincangan kami yang sangat seru. Perihalnya adalah tidak ada kawat yang bisa menyambungkan pikirannya dengan cerita-cerita yang ada di pikiran kami yang sejak lama terlupakan dan terungkit kembali di hari ini. Dia semakin melipat-lipat wajah sampai akhirnya dia mencubit lenganku. Sayangnya cubitan itu tidak mempan untuk melerai mulut yang semakin seru beradu cerita. Mulutku berhenti bersuara ketika lawan bicaraku tiba-tiba mengelap bibirku.

“Maaf, sebetulnya sedari tadi aku ingin bilang ada bekas cokelat di bibirmu.”

Aku tidak tahu kenapa aku bisa seceroboh itu. Matanya kemudian membesar seraya menarik nafas sedalam-dalamnya yang kemudian diembuskannya secara paksa sehingga menghasilkan amarah yang diekspresikan dengan bunyi tak nyaman. Dia meraih dan menggenggam erat koper yang sedari tadi menganggur di sampingku. Pergi meninggalkan kami berdua. Tentu saja aku langsung bergegas mengejarnya dan merelakan nostalgia kami terputus dengan kesepakatan sepihak untuk mengakhirinya.

“Maaf, sepertinya aku harus pergi. Sukses buat semuanya,” aku meninggalkan teman lamaku dengan sejumput senyum model lama.

Dia berjalan begitu cepat. Padahal dia sambil menarik dua koper berukuran sedang. Begitulah wanita kalau sedang marah, langkahnya bisa mengalahkan atlit sprint dan tenaganya bisa mengalahkan atlit angkat besi. Tapi tenang saja, biasanya ini tidak akan bertahan lama meskipun aku tidak bisa memastikannya. Sambil cekikikan aku berusaha merubah suasana mendung menjadi musim semi dengan mekarnya bunga-bunga yang indah di hatinya. Mulai dari memperagakan tingkah yang bodoh disengaja, permainan ubah wajah, sampai akhirnya aku menyerah dan mengikuti langkahnya menuju ruang tunggu transit ke Bali.

Aku sengaja tidak duduk di sampingnya karena dengan begitu aku kesulitan melihat perubahan pada wajahnya. Aku memilih duduk di kursi yang berada di depannya sehingga kami bisa berhadapan. Aku memasang senyum manis sambil memainkan mata padanya. Kupikir dia akan senyum, ternyata tidak. Dia malah memalingkan wajahnya kea rah lain sambil melipat kedua tangannya di dada. Atau mungkin saat mataku lengah, dia sebetulnya tersenyum.

“Maafkan aku, Sayang. Tadi aku memang ceroboh membiarkan tangannya menyentuhku. Dia sudah meminta maaf kok.”

Dia hanya mengerutkan keningnya seraya memain-mainkan bola matanya.

“…mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” suara petugas yang samar terdengar oleh telingaku meskipun sebetulnya cukup keras karena menggunakan mikrofon. Tapi, percuma saja kalau pikiranku sedang terkonsentrasi pada bidadari yang satu ini. Lagi pula aku tahu isi narasi yang disampaikan itu adalah pemberitahuan tentang keterlambatan ketibaan pesawat kami. Seperti yang sudah-sudah dan sangat biasa. Orang-orang yang tiba-tiba menjadi gelisah cukup untuk memberitahuku keadaan ini.

Isteriku menurunkan sandarannya. Dia tampak tak terima dengan keadaan ini. Membuatnya bosan dan semakin menderukan kekesalan. Maka dari itu, dia memejamkan matanya yang siapa tahu bisa mengurangi ketidaknyamanan hatinya. Kali ini, dia benar-benar tidak mengindahkanku lagi. Akhirnya, aku menunggu waktu yang mendatangiku. Toh, terkadang segalanya selesai tanpa harus diselesaikan. Waktulah yang melakukan itu. Mungkin lebih baik aku mengistirahatkan badan, karena perjalanan kami masih jauh dan bulan madu kami harus dalam keadaan ceria, nyaman, mengesankan, berakhir bahagia, dan semoga mendapatkan hasil yang diinginkan.

Kudekati isteriku yang terkantuk-kantuk, dan duduk di sampingnya. Sekali waktu kepalanya condong ke arahku. Begitu mengenai bahuku,  dia langsung sadar dan membenahi duduknya sambil memalingkan wajahnya seperti tadi. Hatinya belum lumer. Akupun tetap berusaha mencuri sebuah senyum yang selama ini membuatku damai tentram sehari semalam dan memapu membuat pandanganku buta pada wanita lain. Pada saat dia lengah, jemariku mulai berjalan mencari-cari jemari yang selalu berbasuh wudhu tersebut. Namun, suara pemberitahuan ketibaan pesawat kami yang terlampau cepat satu detik, membuat jemariku mencengkeram angina dari jemarinya yang telah berpindah pada gagang koper.

Di dalam pesawat, dia kelihatan bersusah payah menaikkan kopernya ke bagasi kabin.kubiarkan saja, siapa tahu nanti dia meminta bantuan padaku. Mungkin itu membuatnya mau bicara lagi. Namun, sampai kedua koper sudah rapi di situ, aku jadinya diam sejuta huruf. Aku rasa ini benar-benar serius. Tidak biasanya dia marah lebih dari tiga jam. Atau mungkin, karena aku tidak mencium keningnya? Dalam kondisi ramai seperti ini, mana mungkin aku melakukannya. Bukan apa-apa, nanti orang-orang malah iri dengan kemesraan kami. Ah, sebetulnya tidak jadi soal. Yang jelas, aku akan menjelaskannya mulai dari mana?

“Cemberutnya seorang isteri yang shalihah adalah ibadah.”

Dia malah cemberut lebih dalam. Salah! Pujian yang salah. Aku putar otak.

“Apalagi jika merubahnya menjadi senyuman yang menentaramkan dengan kerlingan mata yang membuat awan mendung menjadi seputih salju,” aku lalu mendongak ke jendela, pura-pura melihat awan. “Benar. Sebentar lagi akan putih. Berarti benar kata Ustadz Jaelani.”

Entah siapa itu Ustadz Jaelani. Tinggal di mana dengan siapa. Kutunggu reaksinya satu detik, dua detik, satu menit, dua menit, dan pramugaripun selesai memberikan pengarahan prosedur keselamatan pesawat. Dia masih menatap keluar. Kosong.

“Semoga awan mendung nanti tak berpetir,” lanjutku yang kemudian memejamkan mata.

Wanita memang selalu suka memberikan ujian pada lelaki. Entah itu untuk kepuasannya sendiri atau hal lain yang berhubungan dengan seberapa sayangnya seorang lelaki padanya dengan usaha sebagai buktinya. Meskipun terkadang cukuplah dengan pujian. Hanya saja, terlalu banyak pujian akan membuat wanita jengah dan bosan. Ada kalanya kita memang harus diam dan berpendapat bahwa diam itu emas akan berlaku pada situasi seperti ini.

Lepas ashar, pesawat kami mendarat di Ngurah Rai. Semua penumpang yang sudah tidak sabarlagi ingin menginjakkan kaki ke tanah Bali mulai berdiri satu per satu dan menurunkan barang-barang mereka. Dia masih manis dengan posisinya tanpa merasa terganggu dengan kegelisahan orang-orang. Aku menepuk halus pundaknya agar dia juga bersiap-siap karena pintu kabin sudah dibuka. Dia masih tak bergeming. Karena kabin sudah mulai sepi, aku menurunkan koper-koper kami. Ketika itulah dia beranjak dan berlalu begitu saja keluar pesawat. Aku menggeleng-geleng kepala. Baiklah, ini adalah balas dendam yang manis.

Senja sudah menyongsong ketika kami tiba di hotel. Aku membenamkan diri pada imajinasi di tepi jendela sementara dia sibuk membongkar koper mencari entah. Tadi dia memanggilku, namun suaranya hanya sampai tenggorokannya karena dia baru ingat dia sedang mengibarkan bendera perang. Aku tertawa kecil dan hamper terbatuk-batuk karenanya. Lalu, aku sudahi pengumpulan tenaga yang berlangsung cukup lama. Aku loncat tanpa aba-aba ke ranjang yang empuk. Dia terperanjat tapi tidak memberikan reaksi yang penting. Hanya sekali menarik tubuhnya dan kembali pada pencariannya. Tanganku yang tak bisa menahan ingin ikut dalam pencarian itu lantas tenggelam dalam tumpukan pakaian. Tak sampai setengah menit mengeluarkan sebuah benda: sikat gigi. Dan tak sampai sedetik pula tangannya menyambar. Keningku mengkerut. Tertawa kecil lagi. Kemudian aku keluar mencari suasana.

Tapi aku menyukai irama ini. Melodi yang dimainkan oleh perjalanan sungguh meresap. Muncul nada-nada romantis di sela-sela ruangan yang membuat suasana hati ini begitu berbeda. Aku rasa langit setuju denganku bahwa cinta yang indah itu adalah cinta yang memabukkan pada rentang waktu sekian lama. Ada ramuan khusus yang membuatnya begitu. Salah satunya dengan sedikit letusan dari pencampuran bahan kimia yang salah. Tak perlu besar, karena akan menghasilkan ketakjuban baru melebihi cita rasa warna pelangi yang menggugah makhluk.

Bintangun muncul satu-satu menelurkan kerlip cahayanya mengiringi adzan magrib yang terdengar rendah dan sayup. Aku masuk kamar dan mendapati isteriku yang sudah rapi dengan mukenahnya. Aku buru-buru ke kamar mandi mengambil wudhu. Begitu aku selesai, ternyata dia sudah sholat duluan. Dia benar-benar marah rupanya sehingga enggan sholat berjamaah.

Aku duduk di sisi ranjang, menunggu dia selesai sholat sambil memperhatikannya. Anggun sekali wanita itu. Wajahnya memancarkan sinar kecantikan bunga yang sedang mekar. Lalu kuperhatikan bibirnya yang melafalkan doa seperti meniupkan kesejukan layaknya embun di kala pagi. Dan jika kugelapkan kamar ini, maka terpancarlah aura tubuhnya yang akan memberi penerangan.

Bali oh Bali, aku jadi tak yakin pantaimu indah melebihi keindahan isteriku ini. Tuhan boleh menciptakan keindahan pantaimu, tapi kau dimiliki oleh dan dititipkan pada semua orang. Sedangkan dia adalah keindahan yang khusus dititipkan kepadaku dan hanya aku yang memilikinya.

Doanya sangat panjang. Mungkin sudah di-list-nya namaku dalam daftar doanya. Isinya tentang kesalahan-kesalahanku agar Tuhan mengampuniku., agar aku sadar dengan apa yang telah kulakukan sepanjang hari ini. Mungkin saja begitu. Soalnya dia kelihatan serius sekali, atau mungkin karena aku baru kali ini menungguinya sholat. Lama sekali. Aku jadi penat dan mengantuk. Maka kuregangkan segala otot agar kantukku sedikit hilang. Begitu aku meregangkan leher, mataku dipaku oleh sebuah tulisan: KIBLAT. Tulisan itu tepat di belakang isteriku yang artinya arah kiblat isteriku terbalik. Aku ingin tertawa keras-keras, tapi kuurungkan karena tidak ingin mengganggu kekhusukannya.

Tak lama kemudian dia menyudahi doanya dengan mengusap telapak tangan di mukanya. Dia langsung melepas mukenahnya. Aku senyum-senyum melihat dia yang masih selalu memalingkan wajahnya ketika melihat aku tersenyum padanya.

“Doanya panjang sekali. Tidak lupa menyelipkan namaku kan, Sayang?”

Dia diam, minggit ke tepi ranjang. Kulihat matanya terpaku pada tulisan kiblat yang kulihat tadi. Aku pura-pura saja tidak memperhatikan dirinya yang sedang bingung amat sangat. Aku tahu, dia pasti sedang menertawakan diri sendiri. Kubiarkan saja dia bergelut dengan pikirannya. Kuraih sajadah dan membalikkan kea rah kiblat yang sebenarnya.

Selesai sholat, aku melipat sajadah tanpa memperhatikan dia yang masih terpaku pada tulisan itu. Dia menyadari kekeliruannya.

“Sayang, kita mencari resto yuk. Laper nih,” ajakku seolah-olah tidak ada yang terjadi padanya.

Bukannya menjawab, dia langsung memelukku dari belakang. Pelukan itu sangat erat dan hangat. Pelukan yang sama persis seperti malam pertama kami.

“Mas, maafkan aku sudah mendiamkanmu seharian ini. Aku sadar atas kekeliruanku. Benar yang dilakukan temanmu itu. Entah kenapa dia yang menyadarinya, bukan aku. Seharusnya akulah yang membersihkan bekas cokelat yang menempel di dagumu. Dan aku tak pantas cemburu karena memang akulah kelalaian itu. Yang akhirnya membuat kelalaian yang lain.”

Aku membalikkan badanku, melihat matanya yang berkaca-kaca. Matanya meleleh luruhkan dinginnya malam. Aku mendekapnya. Dan semakin erat mendekapnya. Mencium keningnya seperti yang sudah-sudah. Hanya saja ini lebih hangat dari biasanya. ♥

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Isteriku Cemburu

  1. laikdis bangetlah, kalo ada tombol bintang lima akan kupencet semuanya, hihi. romantis lagi manis….
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s