Di Sebuah Masjid

mosqueMusim berganti sudah tak sesuai jadwal lagi. Kemarin-kemarin, tepatnya seminggu yang lalu hujan deras, angin kencang, serangan halilintar dan angin puting beliung melanda Bogor. Bertolak belakang dengan sekarang, hari-hari bagai terpanggang api neraka campur maicih[1] level sepuluh. Bagaimana kalau kiamat nanti? Matahari hanya berjarak lima sentimeter saja. Bukan lagi hangus. Mungkin langsung menjadi abu.

Tak perlu terkejut lagi dengan memasang muka lebai sebetulnya. Dari jauh-jauh tahun memang sudah diramalkan akan ada badai matahari tahun ini. Jadi, sudah diperingatkan untuk berhemat air, bahkan menyetok air sebanyak mungkin. Kekeringan tahun ini sepertinya akan lama dan berlangsung pada waktu yang tidak menentu.

Kos-kosan kami ikut terkena dampak dari bencana ini. Sumur kami airnya sudah tak bisa disedot oleh mesin. Teman-teman kos banyak yang numpang mandi di kos teman yang masih memiliki cadangan air. Ada juga yang numpang mandi di mesjid dekat kosan. Semua itu dilakukan demi memuaskan hasrat malas nimba air. Tapi Alhamdulillah ada hikmahnya di balik bencana ini. Anak-anak kos akhirnya merasakan nikmatnya sholat di masjid.

Siang ini lebih ekstrim dari biasanya. Berbagai cara dilakukan anak-anak kos selain mendinginkan badan dengan mandi. Tidur di lantai dilakukan oleh sebagian anak yang suka berhemat. Tak perlu membeli banyak es krim dan menjilat-jilatnya seperti yang dilakukan oleh si Gendut. Tapi, Jengko (tidak pakai “l”) tak seperti yang lainnya. Dia malah membungkus dirinya dengan selimut karena sakit. Perubahan cuaca yang tidak jelas begini memang membuat tubuh menjadi rentan penyakit.

“Bang sudah masuk waktu zuhur. Kita ke mesjid yuk,” ajak Jengko yang bangkit dari kasurnya menuju kamarku. Meskipun sedang sakit dia tetap rajin melaksanakan sholat tepat waktu.

“Nanti sajalah. Aku sedang membereskan tugasku,” kataku padanya. Dia berpegangan ke pintu agar bisa berdiri dengan kuat.

“Masih banyak ya Bang?”

“Masih.”

“Kalau begitu kita sholatlah dulu. Biar nanti tenang mengerjakan tugasnya.”

“Ah, Kamu ini Ko, membuat aku jadi tak tenang mengerjakan tugas. Baiklah. Kita ajak yang lain juga.”

Jengko mengetuk pintu satu per satu.

“Aku sholat di sini saja.

“Air kosong. Kalau mau menimba air sih tidak apa-apa. Biasanya kamu malas menimba air? Ke masjid lebih praktis.”

Ya sudah aku sholatnya di sini. Nanti wudhunya di masjid,” kata Iman berkipas-kipas.

“Mengapa tidak sekalian saja Kang Iman? Sudah tanggung,” kata Jengko lagi.

“Iya. Iya. Tunggu sebentar.”

Akhirnya hanya kami yang berhasil diajak oleh Jengko ke masjid. Itulah yang aku salut dari seorang Jengko. Meskipun dia masih terlampau muda, dia tak segan-segan mengajak kakak-kakak kelasnya. Saling mengingatkan saudara sesama muslim adalah ibadah, katanya lagi.

Siang itu mesjid kosong karena azan zuhur memang sudah lewat satu jam yang lalu. Aku dan iman langsung mengambil wudhu. Tapi Jengko diam saja. Dia berdiri di teras sambil bertopang pada tiang. Wajahnya pucat. Bulu-bulu halus di tangannya berdiri. Beberapa kali dia memejamkan mata.

“Bang. Aku tak jadi sholat di sini,” kata Jengko.

“Kenapa Ko?” Aku mengerutkan keningku.

“Kamu pusing Ko?” Tanya Iman selanjutnya.

“Tidak Man. Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin pulang saja dan sholat di kos,” jawab Jengko sambil tersenyum-senyum tidak jelas dan mencurigakan jika melihatnya.

“Sudah tanggung Ko. Kita sudah berada di masjid.”

“Tapi Bang, aku tetap ingin pulang,” mata Jengko terbelalak.

“Ada apa Ko?” aku melihat ke arah pandangan Jengko. Jangan-jangan dia melihat sesuatu yang kasat mata, pikirku.

“Apa Ko? Kamu melihat apa?” Tanyaku deg-degan.

“Aku tidak melihat apa-apa Bang,” dia langsung melangkahkan kakinya keluar teras masjid. Hari ini dia begitu berbeda.

“Ko, kamu bisa jalan sendiri? Bagaimana kami menopangmu? Membantumu berjalan?” aku menawarinya sambil mengiringinya berjalan pulang ke kos.

“Aku bisa sendiri Bang,” dia mempercepat jalannya.

“Ada apa sebenarnya Ko?” Tanya Iman penasaran.

“Nanti aku ceritakan di kos,” katanya tanpa menoleh. “Aku tak bisa sambil jalan. Ini masih terlalu jauh dari kos kita.”

JLEB!

Misterius. Ini misterius sekali. Pasti ada apa-apanya. Mungkin makhluk halus! Mungkin! Tidak salah lagi!

Setibanya di kos dia segera menuju kamarnya. Kami tetap mengikutinya dengan rasa penasaran yang membuncah-buncah. Tapi Jengko membiarkan kami begitu saja di depan kamarnya sementara dia entah sedang apa di dalam kamarnya yang ditutup. Tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka. Kami masih setia menunggunya bercerita dugaanku mengenai makhluk halus di masjid itu.

“Loh Man? Bang? Kok belum sholat?” Jengko keluar berlilit handuk.

“Memangnya tadi ada apa Ko? Makhluk halus?”

Bukannya menjawab, Jengko hanya tersenyum-senyum simppul. Lalu dia melihat kiri-kanannya.

“Aku kecepirit Bang. Tadi aku kira cuma kentut biasa.” ♂


[1] Kripik pedas fenomenal dengan berbagai tingkat kepedasan

Advertisements

8 thoughts on “Di Sebuah Masjid

  1. huahahahhahahahhaha kirain abis lihat the conjuring 😀

  2. hahaha hanjeeeng tailah hahaha

  3. uwoooooh keren ceritanyaaaa! tapi ketebak melalui judul. coba judulnya bukan itu pasti makin bikin penasaran hehe

  4. Sumber gambar dari mana bang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s