Tweet #PenggalauanYangKhidmat

imagesdfdHidup itu bukan untuk pamer, apalagi mengorbankan oranglain untuk ikut kehendak agar bisa dipamerkan: itu hasil saya.

Semakin siang semakin membosankan. Apalagi ketersudutan yang semakin memuakkan. *selamat wiken dan kondangan

Hari minggu: teh yang udah dingin, martabak sisa semalam, kue cucur, dan sedikit suasana yang tidak mengenakkan.

Melihat ke depan: hanya ada mobil lewat dan tak satupun pengendaranya menyapaku.

Melihat ke depan takkan mengantarkanmu ke tujuan, berjalan/berlari ke depan mungkin akan membuatmu sampai. Mungkin.

Suara dangdutan semalam masih ada hingga siang hari ini. Inginku ke sana untuk menyaksikannya. Sekedar berjoged dan bermabukcinta. Kalau ada

Semakin siang hari semakin gelap. Apa hari-harimu juga demikian? | Bisa jadi. Tapi biasanya kembali terang. Semoga tak keburu malam.

Aku melihat figura-figura yang tergantung di dinding |Oh, itu sebuah keluarga. Keluarga yang bahagia.

Jam 11 lewat dengan suara jarum yang pindah ke detik-detik selanjutnya. Sungguh bunyi yang memuakkan.

Terpikir aku untuk mandi. Tapi tak tergerak raga untuk mandi. Hatipun bergejolak mencari mana keinginan yang sebenarnya.

Apakah rindu itu ada dalam ruang hati yang tak seberapa besarnya? | Bisa jadi.

Hari ini ada dua undangan pada jam yang sama. Bakal menghadiri yang mana terlebih dahulu? | Yang dekat jaraknya: jarak pertemanan.

Di luar gerimis sudah mengundang. Mengundang untuk kembali ke kasur.

Pergi ke  Pantai, Sendiri

Ada yang ke sini hanya untuk ngetweet.sambil melihat air laut yang surut dan kepiting yang tidak ada. Itu gue.

Gue ini seperti seorang yang tertiidur selama belasan tahun. Saat terbangun, gue cuma sendiri. Dan teman-teman sudah lewat mendekati tujuan.

Melihat 2 orang remaja cantik. Ah, itu anak kecil yang sedang bermain pasir. Menggeliat seperti cacing dilempar roti. Ah, ngaco.

Sepasang pecinta kasmaran sedang berpelukan di atas motor. Ah norak sekali mereka. Ini tempat umum, Bung! Tak tahu ada iri pada kalian?

Dan gerimis bersabda pada sebatang pohon. Daunnya melemparkan peluru air ke mukaku. Kubalas dengan mematahkan ranting.

Saya enggan beranjak dari duduk. Kalau saja ada bantal, aku ingin berbaring. Membiarkan langit menghantamkan peluru gerimis ke mukaku.

Ah tak ada gadis yang bisa kurayu dan kuseret ke laut untuk memberi makan ikan-ikan kecil yang kelaparan. Bersedekah pada makhluk lain.

Ingin rasanya aku menjorokkan anak-anak kecil itu ke batu-batuan yang ada di bawahnya.

Batere Bb saya sudah merah, saatnya pulang ke peraduan meskipun langit belum memerah. Sudahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s