Penyelamat Lelaki Tua

lilisAku membaca tulisan yang terpampang di dinding belakang truk milik Bang Diman. Tulisan itu hampir setengahnya.

PENYELAMAT LELAKI TUA

Untuk memperkuat arti tulisan itu, terpampang juga gambar seorang perempuan seksi dengan buah dada yang besar, namun tertutup. Cukup menggoda. Mata sebelah kanannya mengedip padaku.

Bang Diman sedang duduk melepas lelahnya di warung kopi, sebelum melanjutkan perjalanan ke kota di pulau berikutnya. Aku menghampirinya.

“Eh, kamu. Ayo ngopi. Pesan saja, saya yang bayar,” Bang Diman langsung menawari begitu aku meletakkan pantatku ke bangku.

“Terimakasih Bang atas tawarannya. Saya sedang puasa,” tolakku sambil tersenyum.

“Oh, maaf.”

“Bang, aku baru ngeh dengan tulisan dan lukisan di belakang bak. Baru diganti ya?”

“Iya. Biar nggak bosan.”

“Bagus yang kemarin, Bang.”

“Biar ingat isteriku.”

Aku mengerutkan kening. Yang aku tahu kalau biar ingat isteri bisanya tertulis: Bawa Uang Abang Disayang, Gak Bawa Uang Abang Ditendang. He he he.

Kalau begini malah artinya: kala tidak ada isteri mendampingi, datanglah ke Penyelamat Lelaki Tua alias (menurutku) wanita panggilan.

“Dia wanita panggilan,” Bang Diman memulai cerita tanpa kuminta.

Tepat, pikirku. Seperti yang aku bayangkan. Lucu juga. Tapi memang benar adanya. Saat kesepian melanda, apalagi berhari-hari tidak pulang untuk mengantarkan barang si Bos, hiburan perlulah.

“Saya pernah sebulan nggak pulang.”

Kukira ceritanya cuma sampai dua kalimat tadi.

“Sebulan nggak pulang itu rasanya berat. Terutama kalau nggak mendapat belaian dari isteri. Aku bisa tahan nggak merokok sebulan penuh, tapi nggak tahan kalau nggak mendapatkan jatah itu. Kerja jadi nggak nyaman.”

Bang Diman sempat demam karenanya. Ini tidak seperti orang lain yang tidak kuat jika tidak merokok. Tapi kalau tidak dibelai isteri ya jajan di tempat lain. Itulah yang pernah dilakukan oleh Bang Diman. Dia benar-benar puasa merokok selama dua minggu hanya untuk menabung agar bisa jajan.

Setelah terkumpul uang rokok yang sengaja dia sisihkan setiap hari. Pada hari yang telah ditentukan, Bang Diman lalu menghubungi kenalannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah germo.

*

Di sebuah kamar yang cukup kecil dengan satu ranjang untuk dua orang. Cukup leluasa.

Bang Diman  sudah tidak sabar. Dia langsung membuka celana jinsnya.

Perempuan sewaannya itu terkikik-kikik.

“Sabar, Mas. Waktu kita masih panjang kok. Kita ngobrol-ngobrol dulu.”

Bang Diman malu. Dia memakai kembali celananya.

“Dari mana, Mas?” Tanya perempuan itu mengambil sebatang rokok. “Mas merokok kan? Ini, Mas.”

Bang Diman mengambilnya. Perempuan itu menyalakan korek dan menyulutkan ke rokok yang sudah lengket di bibir Bang Diman yang agak gemetar.

“Kamu nggak merokok?”

“Nggak Mas,” perempuan itu tersenyum.

Hening.

“Pertama ya, Mas?”

Bang Diman mengerutkan keningnya pertanda tidak mengerti.

“Mas kelihatan grogi. Seperti baru pertama kali. Tapi sepertinya tebakanku benar kan, Mas?”

“Sering.”

“Enak, Mas?”

“Eh.”

“Enak mana dengan isteri, Mas?”

“Sejujurnya ini yang pertama kali,” Bang Diman menunduk malu. Entah seharusnya dia malu atau berbangga karena sebelumnya belum pernah.

“Tuh kan benar. Nggak apa-apa kali, Mas. Justeru bagus.”

Bang Diman menoleh ke perempuan itu yang beranjak dari duduknya. Bang Diman dagdigdugder melihat lenggokan dan paha mulus perempuan itu. Tapi Bang Diman melihatnya tak lebih dari tiga detik. Dia langsung memalingkan matanya ke arah lain.

Perempuan itu berbalik.

“Mas, aku cari pengaman dulu di minimarket depan ya.”

“Eh…”

“Tenang, aku nggak akan lari kok. Mas nggak bawa pengaman kan? Oya sekalian mau nitip apa buat ngemil? Malam masih panjang loh. Nanti kalau tiba-tiba lapar di tengah malam. Sebelum minimarketnya tutup.”

Bang Diman menggeleng.

*

“Aku nggak bohong kan? Ini aku kembali.”

Bang Diman masih duduk seperti pada posisi awal. Rokoknya tinggal puntung.

“Tapi pengamannya habis, Mas. Gimana? Nggak pakai pengaman nggak apa-apa?”

Bang Diman tak bereaksi.

“Kok diem aja, Mas? Sakit?”

Bang Diman menggeleng.

“Kalau lagi sakit jangan dipaksakan, Mas. Nanti rugi tuh uang. Kan bisa buat belanja isteri mas nanti. Udah punya isteri, Mas?”

“Udah.”

“Pasti cantik. Soalnya Mas ini ganteng loh.”

Bang Diman tersenyum menyangkal.

“Bener loh, Mas. Saya mau loh jadi isteri, Mas. Ya seandainya saja kita bertemu dua tahun yang lalu. Waktu aku belum berkerja seperti ini. Tentunya bertemu di tempat yang lebih sopan. He he he maksudku tempat yang bersih.”

“Dilihat dari mananya?” Bang Diman mencoba rileks.

“Tapi dilihat dari Monas, Mas. He he he.”

Bang Diman diam.

“Bercanda kok, Mas. Tapi Mas beneran ganteng. Ya mungkin nasib saja yang kurang beruntung. Apalagi mesti menabung dulu untuk bisa beginian. Sebenarnya ada loh yang tarifnya lebih murah dari saya. Mas Diman nggak perlu menabung sampai berminggu-minggu segala.”

Bang Diman mengerutkan kening.

“Mas Topan yang cerita. Mas tahu aku dari Mas Topan kan?”

Bang Diman mengangguk.

“Mas mau roti? Aku cuma beli roti.”

Bang Diman menggeleng.

“Kok Mas cuma bisa menggeleng dan mengangguk aja, Mas? Memangnya grogi banget ya, Mas? Udah… biasa aja, Mas. Anggap kita udah kenal lama.”

“I…iya.”

“Nah, gitu dong. Ada suaranya. Aku juga nggak enak jadinya kalau Mas diem aja.”

“He he he.”

“Ketawa Mas lucu,” perempuan itu membuka bungkus roti. “Mas, aku makan roti dulu ya. Setelah ini aku mandi sambil nanti Mas persiapan. Atau Mas juga mau mandi? Tapi kelihatannya Mas udah mandi sebelum ke sini. Wangi.”

“Iya. Sudah mandi.”

Perempuan itu menggigit roti. Bang Diman memperhatikannya, mulut yang mengunyah-ngunyah itu.

Mirip Aisha, anak sulungnya.

Semua yang dibilang oleh perempuan itu benar. Isterinya memang cantik dan juga sangat baik. Perjuangan mendapatkan isterinya saja sampai berdarah-darah. Terbayang betapa susahnya itu. Tantangan dari mertuanya bahkan dari isterinya sendiri waktu itu. Ditambah lagi dia bukan orang yang berada.

Isterinya memang baik. Buktinya, perempuan itu rela berkorban untuk dirinya, dengan menjadi pendampingnya seumur hidup. Bang Diman, berkali-kali meyakinkan isterinya bahwa nanti kehidupan dia akan berubah. Masih muda, waktu itu, sangat wajar serba berkesusahan.

Bang Diman tidak mampu memenuhi janjinya. Tapi, isterinya itu tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa susah. Masih tetap setia menemani dirinya hingga dikaruniai dua anak perempuan yang sholeha dan berbakti kepada kedua orangtuanya serta pintar. Sangat membanggakan.

Lalu, apa yang terjadi dengan Bang Diman selanjutnya?

“Kamu mirip Aisha. Coba kamu pakai jilbab. Persis.”

“Uhuk!” perempuan itu batuk.

Hening.

Roti masih bersisa.

“Aisha?”

“Anakku.”

Hening.

*

“Lalu? Terjadi, Bang?”

“Menurutmu?”

“Tidak.”

“Tepat.”

“Lalu hubungannya dengan Penyelamat Lelaki Tua? Aku kira artinya menyelamatkan lelaki tua yang sedang dihantui nafsu. Ya dengan memuaskan anu.”

“Sepintas itu maksudnya.”

“Namanya wanita itu Aisha. Dia sangat menyukai namanya. Bagus. Kuceritakan tentang anakku. Dia meneteskan air matanya. Kulihat meskipun samar karena ruang itu sudah digelapkan.”

“Lalu?”

“Dia langsung pergi begitu saja.”

“Kalau begitu bukannya perempuan itu yang menyelamatkan Abang. Justru Abang sendiri yang masih punya iman, Bang.”

“Dia terjangkit HIV. Itulah sebabnya dia mengulur-ulur waktu. Dia juga sempat bertanya padaku yang keberapa kali. Baru pertama? Itulah yang membuat dia berpikir. Ah, sebetulnya aku malu. Hanya karena nafsu hampir saja aku berbuat bejat. Mengorbankan kehormatanku dan keluargaku.”

“Abang tahu dari mana?”

“Sebulan yang lalu aku bertemu lagi dengannya. Dia bercerita banyak tentang kejadian setelah malam itu. Kalimatku yang sederhana tentang jilbab itu ternyata menggugah hatinya, mengingatkan tentang dirinya sebelum tercebur dalam dunia hitam yang sedang dijalaninya waktu itu. Dia sudah berhenti menjadi wanita malam. Dan aku kaget melihatnya berjilbab. Mirip sekali dengan Aisha anakku.”

“Tapi itu bukan anak Abang kan?”

“Ya bukanlah. Tapi sejak saat itu dia memintaku untuk menjadi ayahnya. Dia yatim piatu sejak berumur tiga belas tahun dan dibesarkan oleh pamannya. Sialnya, pamannya itulah yang menjadikan dia seperti itu. Kudengar, rata-rata wanita panggilan dari Topan itu berpenyakit. Kasihan mereka. Ah, nggak tahu juga siapa yang pantas dikasihani di sini. Toh, kebanyakan dari mereka juga senang.”

Aku terdiam mendengar cerita Bang Diman. Kemudian aku merogoh handphone di kantong celanaku, meng-sms:

Mas Topan, saya nggak jadi pesan.

~

4 thoughts on “Penyelamat Lelaki Tua

  1. huwaaaaa….tulis lanjutannya, tulis banngggg… aku sukaaa…

  2. what a good thought 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s