Ketika Matahari Masuk Kamarku Tanpa Izin: Aku Tak Punya Otak Lagi

afandi5Setelah semalam terjadi peperangan di depan kamar kostku, aku langsung terjatuh dan tak sadarkan diri di kasur. Kemudian aku berkelana keliling dunia. Bahkan seperti kembali ke masa lalu. Aku melihat berbagai adegan yang pemerannya adalah aku bersama beberapa aktor lainnya yang aku kenal baik itu dalam kehidupan nyata maupun dunia maya dan imajinasiku. Pada waktu adegan sedang seru-serunya:  aku dicubit-cubit gemas oleh Agnes Monica, Matahari masuk jendela kamarku. Ia mencolek pantatku. Panas. Aku mendapati diriku tergeletak dengan posisi yang sama persis dengan posisi terjatuhku semalam, seingatku. Tertelungkup. Kasurku basah dengan iler. Juga pipi kananku yang menjadi bau karenanya.

“Hai, Matahari. Kenapa kau bertamu jam segini?” Tanyaku sedikit marah karena badanku masih terasa remuk. Apa aku semalam tonjok-tonjokan dengan pacarku? Ah, aku tak ingat. Seingatku kami saling menodongkan pistol.

Matahari mendumel. Aku tak bisa mendengarnya. Ah, iya, kedua telingaku memang biasa terlepas sehabis tidur. Kucari-cari kedua telingaku, kudapati di bawah lemari dan keranjang pakaian kotor. Entah bagaimana kronologisnya hingga ada di kedua tempat itu. Telingaku memang sering berhambur di tempat yang tidak terduga.

“Lihat keluar!” Teriak matahari.

“Ada apa sih?” Aku tak penasaran.

“Lihat!”

Dengan malasnya aku beranjak dari kasur tak empukku. Tak sengaja aku menginjak sabun mandi ketika hendak melangkah. Oya, aku juga tak mengerti kenapa sabun mandi ini berada di tengah-tengah kamar, sama dengan telingaku yang sering kutemukan di tempat yang tak terduga. Aku terpeleset. Sialnya kedua mataku terlepas. Aku tergagap gelap. Tanganku meraba-raba apapun yang ingin diraba sampai menemukan mata. Tapi mata tak jua ditemukan. Beberapa kali aku berjalan membentur tembok dan lemari. Beberapa kali juga kakiku tersandung gelas-gelas bekas kopi yang seringkali kuletakkan sembarang di lantai. Sampai-sampai tak sengaja aku menyenggol alat vital Matahari. Ia berteriak. Aku tertawa. Tapi, ternyata aku tak bisa tertawa. Suaraku tidak ada. Aku baru sadar, mulutku juga terlepas akibat terpeleset tadi. Aku panik. Kenapa kali ini begitu sial!?

Aku hanya bisa mendengar Matahari tertawa melihatku yang ingin menertawakannya. Entah bagaimana hebohnya ia tertawa. Sambil guling-gulingkah? Sambil garuk-garuk tembokkah? Sambil makan tahi kucingkah? Atau sambil berak di muka kucing?

Aku kesal. Aku masih terus meraba-raba. Kebanyakan yang kuraba adalah angin. Tak senang diraba, anginpun menamparku. Kutampar juga angin. Dan kami terlibat pertarungan sengit yang akhirnya dimenangkan angin. Aku ngos-ngosan di sudut kamar. Di mana mataku? Di mana mulutku? Aku bertanya dengan hati pada dinding kamar, akhirnya.

Tiba-tiba dinding kamar menjawab. “Coba kau cari mulutmu di luar.”

Aku keluar. Tapi pintu kamarku di mana?

Lha? Kenapa dinding bisa tahu aku mencari mata dan mulut? Jangan-jangan karena sedari tadi dia melihatku meraba-raba mencari kedua indera itu? Melihat? Berarti mataku ada padanya! Kupukul dinding tersebut sekuat tenaga. Dia teriak kesakitan. Kemudian terdengar sesuatu terjatuh dan hening. Aku buru-buru meraba ke asal suara benda terjatuh itu. Dapat. Ternyata itu mulutku. Aku kembali memukul-mukul dinding berharap mataku yang dipakainya rontok. Dan memang rontok kemudian. Sial memang kali ini. Lain kali inderaku akan aku lem menggunakan power glue saja biar tidak mudah terlepas.

Setelah kudapatkan dan kupasang kesemua inderaku yang tercecer tadi, Matahari kembali menyuruhku melihat keluar. Aku bergegas karena penasaran dengan Matahari yang sebegitu hebohnya seperti Syahrini itu.

“Lihat itu.”

Dan…

Betapa terkejut nan sakitnya ketika melihat adegan di rumah kontrakan seberang sana. Seorang lelaki sedang bermesraan dengan pacarku. Kini mereka terang-terangan rupanya. Ah, untung saja bazokaku baru ditarik dealer karena tidak saggup bayar angsuran lagi. Kalau belum ditarik, habislah kuledakkan kepala mereka.

Lalu dengan sangat tiba-tiba bumi berguncang, angin puting beliung menari-nari nakal, di kamarku sambil mengangkat lemari berisi pakaian dan batu-batu kerikil penangkal sakit perut. Tak sekedar diangkat, angin puting beliung itu melemparku dengan lemari berisi yang macam-macam itu. Lemari itu mengenai kepalaku. Fatal! Otakku terlepas dari kepala.

Tak lama kemudian, kehebohan terhenti. Dan seekor kucing garong yang tadinya sedang mengejar betina berhenti ketika melihat otakku. Karena penasaran dengan bentuknya, ia menjilat-jilatinya. Dan karena enak, iapun memakannya. Habis.

Sekarang aku tak punya otak.

Advertisements

5 thoughts on “Ketika Matahari Masuk Kamarku Tanpa Izin: Aku Tak Punya Otak Lagi

  1. That’s so funny… hahaha 😀 Gubrak. lol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s