Mencari Rumah Kontrakan

b-620024Kuparkir sepeda motorku begitu saja di sebelah rumah tembok bercat hijau mentereng. Lalu, mengikuti ke mana wanita tua itu masuk. Rumahnya, mungkin.

“Maaf ya, Mas. Rumahnya berantakan. Ini, anak-anak tetangga memang sering main ke sini. Jadinya, rumah saya selalu rame.”

“Eh, Nggak apa-apa kok, Bu.”

Jess…Tuing. Tuing! Tiba-tiba, angin kecil melintas di depan wajahku. Angin kecil itu seolah-olah memberitahukan sesuatu yang harus kulihat. Ya, aku diperintahkan untuk melihat bukti bahwa Tuhan itu Maha Indah dengan menciptakan makhluk super indah.

Jantungku berdetak kencang. Aku bakal lupa dengan tujuanku ke sini kalau wanita tua itu tidak segera membuka pembicaraan kembali.

“Jadinya gimana, Mas?”

“Eh, iya, Bu.”

“Silakan duduk, Mas.”

“Iya, Bu.”

Aku duduk. Kepalaku masih ingin menoleh ke belakang. Tapi kupaksakan untuk tidak. Tapi aku ingin. Maka, sedetik saja kusempatkan untuk melihat wajah super indah itu lagi.

“Jadi, gini, Mas. Ibu punya dua belas rumah kontrakan. Hampir semuanya terisi. Sekarang tinggal rumah yang ada di pinggir kali, tipe dua satu. Dan satu lagi rumah bertingkat. Kamarnya ada tiga, ruang tamu satu, ruang keluarga, dapur dan garasi. Halamannya juga ada. Tapi itu letaknya di pinggir jalan raya. Sewanya agak mahal. Sebetulnya ada satu lagi di Bogor. Lebih murah. Cuma letaknya di kampong banget. Ya, nggak mungkin juga mas nyewa di sana. Mas kerjanya di Depok. Atau sebetulnya bisa juga sih, Cuma nanti banyak naik kendaraan umumnya dan ongkosnya jadi mahal, sama saja dengan menyewa rumah yang ada di sebelah masjid. Tapi kalau pakai sepeda motor sih nggak masalah menurut saya. Cuma jalannya agak hancur dan kira-kira memakan waktu hampir tiga jam ke kantor kamu di Depok. Tapi itu terserah kamu saja.”

Cetarrr! Tiba-tiba ada suara petir tepat saat wanita tua itu berhenti menjelaskan. Kurang lebih seperti tanda titik yang ditebalkan sekaligus dimerahkan. Atau malah ditambah tanda seru yang mengharuskan wanita itu berhenti bicara karena aku tidak mengerti sama sekali yang dia bicarakan. Ah, bodo’. Aku masih ingin menoleh ke belakang sekali lagi. Tapi, sayangnya tidak bisa karena wanita itu bicara kembali sebelum penjelasannya tadi kutanggapi.

“Jadi kamu pilih sewa rumah yang mana?”

“Eh?”

“Kalau yang di pinggir kali, harga sewanya sedang. Kalau di pinggir jalan raya persis, mahal banget dan saya kira kamu nggak mampu bayar. Kalau yang di Bogor, murah.”

Aku mengangguk.

“Jadi, kamu pilih rumah yang di Bogor? Baiklah Ibu ambilkan kuncinya.”

“Eh, belum, Bu. Saya pikir-pikir dulu.”

“Itu tadi kamu mengangguk?”

“Itu pertanda saya mengerti, Bu.”

“Oh, begitu.”

“Hmm…tadi katanya ada yang di sebelah masjid. Itu berapa, Bu?”

“Sedang.”

“Sedangnya berapa, Bu?”

“Kira-kira satu juta per bulan. Kalau setahun, sebelas juta Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan rimbu.”

“Hah!”

“Hah kenapa?”

“Eh, nggak, Bu.”

Maksudnya hah’ kok harganya hampir tidak ada bedanya. Bilang saj dua belas juta!

“Saya pilih yang sebelah masjid aja, Bu.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa, Bu?”

“Kan tadi saya bilang punya dua belas rumah kontrakan.”

“Iya, tadi Ibu memang bilang begitu. Lalu?”

“Rumah yang di Depok masih tersisa dua. Satu lagi di Bogor.”

“Lalu, tadi kan Ibu bilang kalau saya menyewa rumah yang di Bogor ditambah ongkos sama saja dengan menyewa rumah yang di sebelah masjid kan?”

“Iya. Tadi saya bilang begitu. Lalu?”

“Eh, nggak kenapa-kenapa, Bu.”

Entah aku merasa ada yang aneh. Aku seperti kehilangan arah. Halah… Ah, bodo’. Wajah ayu itu. Oh, bersinar-sinar. Dia sedang bermain dengan anak-anak. Itu membuat hatiku dag dig dug derr!

Aku kemudian membayangkan yang tidak-tidak. Hanya membayangkan. Karena aku tahu, aku hanya bisa membayangkan. Seandainya dan seandainya. Seandainya aku bisa mengajaknya menonton bioskop sore ini. tapi, apa daya kami kan tidak saling kenal. Ah, aku lupa dengan tujuanku. AKu ingin lupa. Tapi aku ingat. Kenapa aku ingat? Padahal aku ingin lupa. Ah, kupikir lupa-lupa ingat juga tidak apa-apa. Dia yang berparas bidadari itu membuatku lupa. Dan wanita yang berparas tali jemuran terseruduk banteng itu membuatku ingat.

Tiba-tiba lagi hujan turun dan langsung lebat tidak terkira. Hujan sore itu tanpa basa-basi rupanya. Cukup dengan cetar membahana di angkasa, lalu air gallon tumpah ruah tanpa jeda. Aku terjebak dalam keadaan bahagia. Tapi, kebahagiaanku terusik oleh ocehan wanita tua itu yang terus bicara soal kontrakannya satu per satu hingga siapa dan bagaimana watak penghuninya.

Bodo amat!

Hujan ini membuatku dingin. Agar hangat, aku membayangkan pemilik paras bidadari itu mandi hujan dengan tangtop tipis. Kemudian dia menari-nari sambil tertawa riang. Kemudian aku datang, mencoba bergabung dengannya. Dia menghindar. Dia berlari ke balik pohon. Suara gendang bertalu-talu. Suara seruling melengking-lengking. Suara gitar menggenjreng-genjreng. Wow amat sangatlah pokoknya. Aku tidak menyerah. Kukejar dia. Aku harus bisa meraih tangannya. Kubuat dia pasrah di pelukanku. Lalu kami menari-nari berdua sambil bernyanyi syalalalala. Orang-orang melihat kami dengan anehnya. Bodo amat! Yang penting aku bahagia. Aku baru saja putus dengan pacarku. Kini aku telah menemukan penggantinya. Adalah dia yang cantik tiada tara. Dan aku harus bisa mendapatkannya. Caranya? Aku harus mengontrak rumah!

“Sebetulnya rumah saya yang saya tinggali bersama anak saya ini mau saya sewakan juga. Cuma belum ada yang mau. Ada kamar kosong di belakang.”

“Saya mau!” Tegas dan singkat serta berapi-api.

Aku mengelap air liur yang terlanjur menetes dengan parahnya.

“Tidak. Hanya boleh perempuan. Bukan karena saya tidak ingin jadi omongan orang karena status janda saya jika kamu yang mengontrak di sini. Saya tidak pernah mempermasalahkan itu. Cuma sebelumnya ada seorang pemuda tampan seperti kamu yang mengontrak di kamar belakang. Dan dia pedofil. Coba kamu pikir, anak perempuanku dirayu untuk jadi pacarnya. Anakku baru kelas 4 SD!” wanita tua itu menunjuk pemilik paras bidadari yang sedang bermain bersama anak-anak lainnya.

-End-

Advertisements

One thought on “Mencari Rumah Kontrakan

  1. ralat, kata “saj” seharusanya “saja” CMIIW 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s