Kencing di Balik Pohon

imagesdAkhirnya aku menemukan sebuah pohon yang bagus, terlindung, nyaman dan gelap. Aku bisa membuka risleting celanaku sepuas-puas jidatku kalau begitu.

Kubuka secepat mungkin sambil melihat kiri dan kanan. Hingga benar-benar kuanggap sepi yang valid, barulah aku mengeluarkan anuku. Keluarlah air yang berseni. Nyaman. Melegakan. Surga terlihat dari sini.

Tiba-tiba. Tak disangka tak dinyana.

“Hai Brondong.”

Astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullah,” aku buru-buru mengalihkan anuku ke arah lain dan menahannya.

“Santai saja Masbro. Dandanan eike emang bagindang. Tapi eike normal kok. Masih suka perempuan. Lanjutin aja kencingnya, jangan ditahan. Nanti kencing batu loh. Hi hi hi.”

Sial! Aku digoda lekong.

“Beneran gak tertarik?”

“Ya gak lah. Emangnya gue homo,” suara lakinya keluar.

Dia menarik sedikit roknya.

“Mau ngapain?” aku kaget dan buru-buru mengelap anuku dengan daun tiga kali lalu menaikkan risleting.

“Ya kencinglah. Memangnya mau ngapain?”

“Huft. Syukurlah. Kirain.”

Advertisements

2 thoughts on “Kencing di Balik Pohon

  1. hahaha.. ternyata mau ikut kencing :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s