Saya sebagaimana Saya Berada di Sebuah Gang yang Ternyata tidak Buntu

Rino Aribowo nama saya, kelahiran Tanjungpandan (Belitung) pada 27 Juli 1986 yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saya terlahir dari pasangan yang berbeda suku, ayah berdarah Jawa dan ibu berdarah Sumatera. Entah apa artinya ini, tapi saya ingin menggambarkan bahwa saya memiliki dua sifat yang saling bertolak belakang seperti buruk dan baik: keras dan sabar. Saya memiliki kemauan keras untuk mencapai sebuah tujuan dan sabar menjalaninya hingga tujuan tersebut tercapai.

Saya tinggal di kota kelahiran sejak kecil dan pada tahun 2004 saya mulai melangkahkan kaki untuk melanjutkan pendidikan di Program Diploma III Teknologi Benih, Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Awalnya, IPB bukanlah pilihan saya karena tak satupun jurusan yang ada sesuai dengan hati saya. Namun, manusia adalah makhluk berdinamika yang selalu dikelilingi oleh perubahan dan segala pilihan harus disertai dengan tanggungjawab yang besar. Akhirnya saya lulus dengan IPK terbaik ketiga di Program Diploma III yang saya ikuti pada tahun 2007.

Saya mendapat pekerjaan sebagai leader bagian penanaman di sebuah perusahaan kecil yang terletak di Jalan Raya Cifor (sekarang sudah tidak beroperasi) sebelum saya wisuda. Ada rasa bangga dalam hati saya karena mendapat tantangan yang memikat ini dengan sangat cepat. Saya adalah salah satu dari empat orang yang diterima bergabung dalam sebuah tim produksi sayuran organik. Hal yang lebih membanggakan lagi karena pada akhirnya saya menyadari bahwa setiap pilihan yang diambil itu bukanlah hal yang sia-sia, ilmu yang saya dapatkan di perkuliahan dipakai di sini. Saat itu, saya memang belum bisa membayangkan bagaimanakah dunia kerja itu sampai kita berada di sana dan merasakan keringat menetes setiap detik. Dunia kerja sangat jauh berbeda dengan masa kuliah. Dalam bayangan saya, bekerja itu nikmat karena mendapatkan imbalan berupa uang. Namun, bekerja bukanlah persoalan kerja dan imbalan, melainkan sebuah tanggungjawab baik kepada diri sendiri ataupun perusahaan yang menaungi. Seperti bertanggungjawab atas pilihan berikutnya yang harus saya pilih. Enam bulan kemudian saya keluar dari perusahaan.Hal tersebut saya lakukan karena melihat kondisi perusahaan yang menurut saya seperti kelebihan beban. Ada empat leader di situ yang menangani produksi yang menurut saya dan ketiga anggota tim lainnya cukup ditangani oleh satu orang saja. Kami merapatkan secara internal tim leader produksi sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan. Ada dua hal yang yang menjadi pilihan yang kami ajukan ke pemilik perusahaan, yaitu tiga orang mundur agar bisa mengurangi beban gaji yang terlalu besar atau beberapa dari kami mencoba membantu bagian pemasaran yang ditangani sendiri oleh pemilik perusahaan itu. Ternyata pemiliknya lebih menyetujui tiga anggota tim untuk mundur. Meskipun begitu kami bertiga tetap membantu satu anggota tim yang tersisa untuk tetap meneruskan agar perusahaan tersebut bangkit. Ternyata perusahaan tersebut pada akhirnya tutup dikarenakan alasan internal dari pemilik.

Setelah kemunduran saya dari perusahaan tersebut, beberapa lamaran saya tujukan ke beberapa perusahaan setelah itu. Salah satunya saya mencoba melamar ke sebuah Bank Negeri atas saran teman saya. Saya dipanggil seminggu kemudian. Pada saat wawancara, pewawancara tersebut dengan lugas dan tegas menyebutkan bahwa saya tidak layak diterima sebagai bagian yang saya lamar tersebut yaitu front liner. Alasannya, saya terlalu kaku dan tidak pandai bicara. Namun, dua minggu berselang wawancara tersebut, saya dipanggil lagi untuk psikotes dan wawancara di sebuah bank swasta terbesar di Indonesia. Mengingat pengalaman sebelumnya merupakan pelajaran berharga bagi saya. Saya berusaha untuk tidak menjadi seperti wawancara sebelumnya, kaku dan tidak pandai bicara. Seminggu kemudian saya dinyatakan diterima dengan kerja keras saya berlatih bicara dan memperbaiki kekurangan saya.

Di perbankan saya bekerja di bagian teller. Di sini saya banyak berinteraksi dengan orang-orang bermacam-macam karakter. Sebagai teller, garis depan perbankan, saya berlatih hingga terbiasa untuk tersenyum dalam keadaan apapun. Masalah yang saya hadapi dalam pekerjaan ini lebih banyak lagi dari masalah dalam pekerjaan sebelumnya. Selama dua tahun saya bekerja adalah sebagai teller cadangan dari kantor pusat dan setiap dua minggu sekali bahkan sampai seminggu sekali saya dipindahkan dari satu cabang ke cabang yang lainnya hingga lebih dari 50 cabang dalam 2 tahun masa kerja saya di seluruh wilayah Jabodetabek. Perpindahan yang sangat cepat menuntut saya untuk bisa menyesuaikan diri dengan kondisi masing-masing cabang, mulai dari karyawan bahkan karakter nasabah di wilayah-wilayah tersebut. Perpindahan demi perpindahan tersebut membuat saya juga mulai bisa berpindah dari sedikit bicara ke banyak bicara dan ternyata itu banyak gunanya. Saya dapat membangun banyak link di berbagai wilayah di Jabodetabek dan membantu pemasaran beberapa produk bank tersebut meskipun bukan merupakan tugas saya.

Pada tahun 2010 saya keluar dari bank swasta tersebut dengan alasan untuk melanjutkan jenjang kuliah saya sebagai seorang sarjana yang tertunda. Tadinya saya ingin bekerja sambil berkuliah. Namun, hal tersebut sungguh berat karena kuliah saya berlangsung pada malam hari di Program Alih Jenis Agribisnis Institut Pertanian Bogor yang dimulai pada jam 7 malam. Sedangkan tempat tugas saya lebih banyak di daerah Jakarta yang letaknya tidak melulu di jalur transportasi yang mudah. Peraturan perkuliahan sangat memberatkan sehingga saya harus memilih salah satu saja. Saya memilih kuliah karena berbagai alasan. Pertama, saya ingin bertanggungjawab terhadap diri saya dengan menempuh tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kedua, saya sangat ingin belajar bisnis. Mengapa saya ingin belajar bisnis? Semua itu dikarenakan sebelumnya saya mengalami beberapa kegagalan dalam berbisnis. Selepas saya bekerja dari perusahaan pertama saya mencoba untuk berbisnis domba. Awalnya ide tersebut adalah dari salah satu pekerja kasar (tukang cangkul) agar saya membeli satu ekor domba untuk dititipkan padanya. Dengan begitu bisa menjadi alasan untuk saya agar selalu bisa menjalin silaturahmi dengan mereka setiap saat. Saya tertarik dan itu tidak hanya sekedar untuk menjalin silaturahmi melainkan memunculkan naluri bisnis saya. Pada awalnya bisnis yang saya jalankan berjalan lancar, hingga saya memiliki lebih dari 30 ekor domba. Namun pada pertengahan saya mengalami banyak masalah yang agak sulit untuk diatasi mengingat minimnya ilmu bisnis yang saya miliki. Bisnis saya gulung tikar dua tahun kemudian. Ada beberapa penyebab yang saya lihat dari kejadian tersebut yaitu. Pertama, kekurangfokusan saya terhadap bisnis dan pekerjaan yang sedang saya jalani sehingga menyebabkan kurangnya pengontrolan. Kedua, semua bidang dalam struktur organisasi hanya dipegang oleh seorang saja. Ketiga, saya masih mengutamakan produksi dibandingkan pemasaran. Keempat, saya terlalu bersemangat untuk berbisnis sehingga lupa dengan uang gaji saya habis hanya untuk terus berbisnis (mungkin disebut kekurangan ataukah kelebihan). Untuk itu, saya perlu belajar tentang bisnis dan hidup di lingkungan bisnis.

Di bangku kuliah saya belajar bisnis secara formal yang kemudian saya terapkan di luar kuliah. Bahkan di kuliah tersebut saya benar-benar belajar bisnis dari awal. Saya membaca peluang yang ada di lingkungan kelas malam. Kemudian saya berjualan susu yang saya ambil dari Fakultas Peternakan IPB dan menjual kripik buatan sendiri. Semua itu saya lakukan untuk melatih diri saya agar bermuka tebal demi tercapainya sebuah tujuan. Semua ini sangat berbeda dengan saya delapan tahun yang lalu. Belakangan ini, saya juga lebih banyak berinteraksi dengan berbagai lembaga di masyarakat sehingga menambah banyak lagi pelajaran untuk saya yang haus belajar.

 

Advertisements

2 thoughts on “Saya sebagaimana Saya Berada di Sebuah Gang yang Ternyata tidak Buntu

  1. Hmmm.. iye juak.. ikam duluk e pendiam.. *Belasan tauh yang lalu* o_O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s