Karena Kau Cantik

alexa-meade-milk-artSeorang gadis bertanya pada kekasihnya.

“Kenapa kau mencintaiku?”

“Karena kau cantik.”

“Itu saja?”

Sang pria mengangguk. Kemudian tersenyum.

Bukan itu jawaban yang diinginkan gadis itu sebetulnya. Ada jawaban lain yang dia sendiri juga tidak tahu itu apa.

Waktu berlalu dan mereka menempuh masa pacaran yang ke sekian tahun. Gadis itu bertanya lagi.

“Kenapa kau masih mencintaiku?”

“Karena kau cantik.”

“Itu saja?”

Sang pria mengangguk. Kemudian tersenyum.

Gadis itu tak percaya, karena pria itu belum juga melamarnya. Kalau dia cantik, seharusnya pria itu melamarnya. Dia kemudian berkaca untuk memastikannya. Dia bertanya kepada cermin.

“Apakah kau cantik wahai gadis pemilik wajah di dalam cermin?”

Gadis di dalam cermin itu mengangguk.

Ah, bukan. Dia sendiri yang mengangguk itu. Bukan gadis di dalam cermin.

Waktu kembali berlalu hingga akhirnya sang pria melamarnya. Dan merekapun menikah.

Gadis itu bertanya lagi.

“Kenapa kau menikahiku?”

“Karena kau cantik.”

“Itu saja?”

Pria yang sudah menjadi suaminya mengangguk. Lalu tersenyum.

Gadis itu merenung. Sebetulnya untuk apa juga dia bertanya seperti itu? Itu tak penting, yang penting pria itu mencintainya dan sekarang mereka sudah menikah.

Oh, ada ketakutan dalam dirinya. Ada ketakutan akan penyakit yang selalu menggerogoti manusia. Dia takut menjadi tua, kemudian dia tak cantik lagi. Maka untuk mengantisipasi itu, dia mulai mengkonsumsi obat-obat untuk kecantikan. Dia tidak ingin kehilangan cinta dari pria yang juga dicintainya. Dia tak ingin mati konyol tanpa cinta.

Setiap hari dia mengkonsumsi obat, suntik sana suntik sini, poles sana poles sini dan segalamacamnyalah.

Kemudian waktu kembali berlalu dengan sangat cepat. Dia bertanya lagi pada suaminya tapi dengan pertanyaan yang berbeda.

“Apakah aku cantik?”

Suaminya menggeleng.

“Berarti kau tidak mencintaiku lagi? Apa kau mencintai wanita lain yang lebih cantik?”

Suaminya menggeleng.

“Aku sudah tidak cantik di matamu, berarti kau sudah tak mencintaiku lagi. Ah, kalau begitu percuma aku mengkonsumsi obat dan segalamacamnya itu.”

Wanita yang sudah tidak gadis lagi itu menangis.

Suaminya memeluk dirinya, ”siapa bilang aku tidak mencintaimu. Memang keriputmu sudah terlihat di mana-mana. Tapi aku tetap mencintaimu. Aku mencintaimu karena kecantikan sifatmu bukan wajah dan tubuhmu. Dan kau sudah tidak cantik (sifatmu) karena kau memboroskan uang untuk kecantikan fisikmu yang tak bisa kita pungkiri akan memudar digerogoti waktu. Aku mencintai kecantikan sifatmu karena akan abadi. Meskipun sempat berkurang, tapi aku yakin setelah ini akan kembali cantik. Sedangkan fisik kita, semakin menua akan semakin jelek dan tidak bisa kembali seperti semula.”

Advertisements

2 thoughts on “Karena Kau Cantik

  1. Aaaaakk, kereeen! ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s