Setangkai Mawar untuk Aisha

Rose-Petals-II-by-Marie-Cameron-2013-oil-on-canvas-6x6in-Isteriku marah-marah melulu kerjaannya. Hari ini saja sudah tiga gelas dan dua piring ia pecahkan. Mana anakku satu-satunya itu yang baru berumur 3 tahun menangis sejadi-jadinya karena lupa dikasih makan. Sebetulnya karena acara Sponge Bob aku ganti menjadi acara gosip. Masalahnya Aura Kasih sedang menjadi topik hangat baru-baru ini. Ia baru saja putus dengan pacarnya. Aku senang sekali. Nah, karena aku menonton Aura Kasih itulah isteriku marah-marah. Ia cemburu. Sangat cemburu. Padahal siapalah Aura Kasih? Hanya seorang artis pujaan, bukan selingkuh-an. Tapi bisa juga dibilang pacar imajiner.

Kupingku sudah kusumpal dengan kapas, namun suaranya masih saja terdengar jelas seperti radio rusak, bahkan seperti suara mobil pick-up tabrakan yang sedang memuat panci dan kuali beserta piring dan perabotan lainnya. Pecah. Tumpah ruah di jalan aspal. Sebetulnya aku ingin menyumpal mulutnya, tapi aku tak berani. Bunuh diri namanya. Malam ini aku siap-siap tidak mendapat jatah batin. Aku sangat membutuhkan itu agar aku semangat bekerja keesokan harinya.

Aku buru-buru keluar rumah mencari sesuatu untuk mendiamkan isteriku. Anakku sudah agak surut suara tangisnya karena Aura Kasih sudah kuganti dengan Sponge Bob lagi. Gampang sekali mendiam-kannya. Kalau mendiamkan speaker butut itu mesti pakai taktik. Aku memutar otak, yang kiri jadi kanan dan kanan jadi kiri. Depan jadi belakang dan belakang jadi depan. Tak lama kemudian, bohlam di atas kepa-laku pecah menghasilkan suara ‘TING!’. Sebuah ide.

Aku memetik setangkai bunga mawar yang baru saja disiram isteriku dua jam yang lalu. Kalau tidak salah ia menyiramnya dengan pupuk. Ia sangat senang sekali dengan bunga. Maka teras rumah kami yang kecil ini dipenuhi dengan bunga. Rumah kami tampak indah dan harum mewangi sepanjang hari. Tak hanya mawar. Ada juga melati dan bunga matahari. Bunga pukul empat dan bunga kamboja kerdil. Mau tak mau aku juga harus menyukai dan mendukung hobi isteriku ini. Aku sering membelikannya bunga saat aku memiliki uang lebih atau uang yang sengaja aku sembunyikan jika mendapat uang lebih. Aku beli de-ngan potnya biar dia puas dan aku juga puas. Dunia ini memang tak lepas dari sogok menyogok. Luma-yanlah buat semangatku kerja esok harinya.

“Ini bunga untukmu, Sayang,” aku memberikannya dengan senyumku yang paling manis.

Ajaib! Ia langsung berhenti marah-marah. Waktu terhenti. Semuanya tak bergerak. Kecuali aku, bisa bergerak dengan seenaknya. Aku tertawa kecil. Ber-joget-joget sedikit sambil mengambil air putih di kulkas. Aku berkeringat. Energiku banyak terbuang gara-gara radio, speaker, tivi atau apalah yang butut-butut tersebut. Setelah itu aku duduk-duduk sambil mengambil bulu ayam dari kemoceng dan mengoles-kan ke hidungnya. Aku juga membuka kancing bajunya yang paling atas dan mendongak ke balik bajunya. Ia memakai kutang berwarna putih. Kemarin juga berwarna putih kalau tidak salah. Atau mungkin ini kutangnya yang kemarin belum diganti? Lalu aku mengendus-endus keteknya, ada bau keringat sedikit. Kuselidik di keteknya ada bulu halus seperti baru dicukur. Tapi dia tetap isteriku yang cantik dan yang kusayang. Aku langsung memeluknya dan mencium keningnya.

Khayalan tingkat tinggi. Pada kenyataannya dia malah tambah marah setelah khayalan satu detikku itu.

“Ini bungaku baru mekar hari ini! Kenapa dicabut, Ayah?!”

Sebetulnya yang kuharapkan, “Ayah. Terimakasih. Ternyata keromantisanmu tak berubah sedari dulu. Aku mencintaimu Ayah.”

Nah, ia mengecup bibirku. Sebelumnya, aku lang-sung mengambil serbet yang ada di pundak isteriku dan melemparkannya ke muka anakku agar ia tak melihat adegan syur ini. Kemudian kami langsung ke kamar melaksanakan sunnah Rasul. Indahnya.

“Jawab!” Ia merebut bunga mawar merah nan can-tik itu dari tanganku. Aku hanya melongo tanpa bisa berkata apa-apa. Aku suami teraniaya. Butuh perlin-dungan Kak Seto.

Tak lama kemudian ia merintih. Jarinya terkena duri mawar. Itulah jeleknya mawar, meskipun indah, durinya menyakitkan. Aku langsung mengambil jari-nya yang tertusuk duri mawar, memasukkan ke mulut-ku dan menghisapnya seperti yang dilakukan di film-film romantis. Isteriku terdiam. Ia benar-benar terdi-am. Aku sambil mendesah. Tuhan memang Maha Adil. Setelah keburukan pasti ada kebaikan. Setiap pertengkaran pasti ada senyuman. Isteriku tersenyum manis sekali. Ini baru isteriku seperti yang kukenal dulu di pengkolan dekat sekolah SMA-ku.

Waktu itu hujan rintik-rintik namun matahari ma-sih menampakkan batang hidungnya kalau ia punya hidung. Aku berjalan pelan. Sangat pelan. Seperti siput yang sedang berlari. Aku sangat gugup. Gugup sekali. Seperti melihat pocong. Aku berjalan dari warung Wak Amit menuju seorang gadis ayu bak bidadari baru jatuh dari khayangan. Bibirnya merah merekah seperti mawar. Merahnya alami bukan karena lipstik. Rambutnya panjang lurus dan tidak keriting. Ada poni menutupi sebagian matanya. Tu-buhnya langsing tipeku. Wajahnya tirus juga sangat tipeku. Ia memakai seragam putih abu-abu. Ia terlihat sangat seksi jika memakai seragam putih abu-abu tersebut. Padahal roknya dibawah lutut. Tapi betisnya yang putih mulus itu memang selalu membuyarkan hafalan rumus fisika dan kimiaku. Apalagi matemati-ka. Hanya biologi saja yang aku ingat mengenai organ reproduksi manusia yang paling jorok itu.

Semakin dekat. Jantungku semakin mau copot. Aliran darahku semakin cepat. Waktu itu aku tak sempat mengukurnya. Yang jelas aku gugup. Di bela-kang badanku yang kurus aku menyembunyikan sesu-atu yang sangat spesial. Tebak apa yang aku sembu-nyikan? Bunga mawar merah yang warnanya semerah bibirnya. Tinggal sepuluh langkah lagi aku dengan-nya. Saat itu bukan hanya jantungku yang semakin bergerak cepat memacu darah. Tanganku juga ikut bergerak-gerak. Getarannya seperti gempa bumi yang sebentar lagi akan terjadi tsunami.

“Aisha,” panggilku. Ia tersenyum. Senyum itu me-nyihirku. Membuat aku mabuk kepayang.

“Iya,” jawabnya. Suara itu. suara yang sangat mer-du, indah dan membuai asmara.

“Tidak apa-apa. Sedang menunggu angkot ya?”

“Iya.”

“Sama. Angkotnya lama sekali.”

“Iya.”

“Seharusnya angkotnya tidak boleh lama.”

“Kenapa?” Aisha mengerutkan keningnya.

“Karena gerimis semakin lama semakin membasa-hi pakaianmu.”

Aisha tesenyum. Ia hanya mengomentari dengan senyum.

“Ini untuk kau Aisha. Kau bisa berteduh di bawah-nya agar kau tidak kehujanan,” aku memberikan se-tangkai mawar merah itu pada Aisha. Kata-kata ko-nyol tersebut keluar juga dari mulutku.

Aisha tersenyum menerima mawar itu. Senyumnya lebar selebar jalan jendral sudirman. “Terima kasih.” Aisha mencium bunga itu dengan penuh perasaan.

“Sama-sama.”

“Aduh!” Aisha mengaduh. Tangannya tertusuk du-ri mawar. Aku langsung mengambil jarinya yang ter-tusuk itu dan memasukkan ke dalam mulutku. Ia tersenyum malu-malu seperti saat ini.

“Cong! Acong! Belanja! Wahai penjaga warung! Aku mau belanja!”

Sial. Ada pembeli. Ia merusak adegan romantis yang jarang-jarang terjadi ini.

“Ayah. Itu layanin pembeli. Aisha mau melanjut-kan masak buat makan siang Ayah. Nanti kalau Aisha udah selesai masak, baru Aisha gantiin jaga warung,” ujar Aisha lembut.

Aku melayang-layang dibuatnya. Suaranya lembut. Selembut sutera.”Iya Aisha. Masak yang enak ya,” aku mengedipkan sebelah mataku.

“Iya Ayah. Terimakasih mawarnya. Aisha suka,” kata Aisha menunduk malu.

OOO

Advertisements

4 thoughts on “Setangkai Mawar untuk Aisha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s