The Raid

Raid_PosterSEPERTI biasa gue lebih milih nonton film di bioskop sendirian. Lebih bebas dan bisa nyelip, itu yang penting. Waktu itu, The Raid termasuk film yang ramai diomongin, termasuk gue yang ngomonginnya sama dinding-dinding yang membisu. Halah… sehingga membuat rasa penasaran ini memuncak sampai ke ubun-ubun. Hal tersebut membuat akal sehat jadi hilang: gue datang jam sepuluh tepat saat sekuriti sedang bersiap-siap bertugas—dia lagi memperbaiki sisiran rambutnya saat itu.

Nanti penontonnya pasti berjubel. Tapi semua itu gak masalah karena gue udah datang di awal-awal—dua jam sebelum bioskop buka—dan gue datang sendiri buat jaga-jaga kalau-kalau nanti gue lupa tujuan gue yang sebenarnya: nonton The Raid. Maklumlah, baju-celana-jaket-sepatu diskon 100% bisa membuat kalap siapa saja. Kalau ternyata nanti gue sampai lupa waktu dengan kekalapan yang udah gak tertolong, dan menyebabkan gue telat pesen tiket, dan bangku-bangku strategis udah dipenuhi sama pasangan-pasangan baru jadian, datang sendiri adalah pilihan yang sangat tepat! Brilian! Jenius! Hebat! Fantastis! Gue bisa nyelip di antara mereka. Namun, sebenarnya itulah awal mula penderitaan batin gue. Sia-papun jadi kepingin ngasih uang receh melihat wajah gue yang memelas. Hambar tak bermakna.

Tibalah saatnya gue pesen tiket. Benar saja yang gue bilang tadi, diskon besar-besaran yang gue temuin membikin gue kalap—cuma kalap ngeliat-liat harga yang murah tanpa beli sih.  Studio satu sudah ramai penonton. Hanya tinggal satu saja bangku yang strategis. Tepat berada di tengah-tengah. Apa gue bilang tadi. Itulah salah satu bentuk kecerdasan gue, kebrilianan gue, dibalik kemirisan hidup gue yang hanya mampu nonton film bioskop sendiri—tanpa pasangan.

Dilanjutkan ke perjalanan yang begitu berat menuju bangku-bangku berwarna merah menghadap layar seluas ratusan kertas A4. Seharusnya gue senang karena akhirnya bisa nonton The Raid yang udah gue tunggu sebelum nenek gue lahir. Kegalauan gue semakin menjadi ketika gue melihat sepasang kekasih lagi pegangan tangan. Ga-disnya berkata:

“Sayang, ini kan film action yang katanya serem. Nanti kalau aku ketakutan gimana? Lalu tiba-tiba penjahat di film itu keluar dan mengejar-ngejar aku?”

Sang prianya berkata:

“Aku juga sebetulnya takut menonton film beginian sayang. Tapi, kita kan bisa saling berpelukan buat menghilangkan ketakutan kita berdua.”

“Oh, sayang. Aku jadi makin cinta sama kamu.”

Maksud lo? Terus? Gue bpelukan sama siapa? Pegangan kursi? Angin? Please decxh tolongin gue!

Gue nyakar-nyakar dinding bioskop.

Tapi semua itu risiko yang mesti ditanggung sama pejantan tangguh kayak gue.

Terserah mereka!

Tolong ya! Mereka semua pengecut! Beraninya nonton berduaan. Gue dong! Berani! Berani tiada tara! Hiks hiks hiks. Tapi gue juga pengin nonton berduaaaan! Please! Argh! Siapa aja bantu gue!

Gue sesak nafas. Tolong beri nafas buatan. Uhuk! Uhuk! #sambil megangin leher dengan kedua tangan dan jempol kaki kanan serta kelingking kaki kiri di depan layar#.

Gue duduk di tengah-tengah, di antara muda-mudi yang lagi dimabuk cinta, pamer kemesraan di depan kiri kanan belakang gue. Rasanya pengin bunuh diri aja. Terus lari ke hutan kemudian teriakku, bergelantungan bersama monyet-monyet kesepian. Atau menapaki perjalan-an bersama tikus-tikus got dan mengorek-ngorek sampah bersama kucing liar. Ah, hidup ini terasa hampa. Gue terjebak di hamparan orang pacaran nonton film action yang menyeramkan.

Gue pelukan sama siapa nanti?

Ghueh pheglughan smamhah shihapah!!

GHUEH PHEGLUGHAN SMAMHAH SHIHAPAH!!

JHAWHAB!!! ARGH!

Plung!

Keluar juga biji duren dari hidung.

Film dimulai dengan adegan sholat subuh yang dilaku-kan oleh tokoh utama pria—Iko  Uwais—diiringi alunan musik latar yang damatis.

WOI! YANG BACA HARAP KONSENTRASI! YANG SERIUS BACANYA! APALAGI YANG BELUM NONTON THE RAID. INI PENTING!

Kemudian beralih ke adegan sang pria menghampiri isterinya yang sedang tidur. Isterinya terbangun. Kira-kira begini dialognya:

“Jam berapa sayang?” Tanya sang isteri.

“Sudahlah kamu tidur aja lagi.”

“Tapi aku minta dibangunin.”

Sang pria, suaminya tersebut mencium kening isterinya.

“Aku cinta kamu,” kata sang isteri kemudian.

“Aku juga cinta kamu,” kata sang suami. “Aku akan pulang hari ini.”

Lalu konsentrasiku pada adegan tersebut buyar seketika karena pasangan di sebelah kiri gue.

“Sayang, mau dong adegan kayak gitu,” kata gadis di sebelah gue.

“Iya sayang. Kamu duluan deh,” kekasihnya meladeni.

“Aku cinta kamu.”

“Aku juga cinta kamu.”

“Deuh…ceneng ceneng cenengnyaaa (senang senang senangnya).”

GUBRAK! Duduk gue merosot ke lantai. Terus mainin pasir di karpet.

“Ada apa mas?” Tanya lelaki yang duduk di sebelah kanan gue.

“Gak apa-apa mas. Cuma syok aja.”

Adegan mulai menegang pas di dalam mobil, para pasukan khusus lagi merapatkan penyerangan apartemen yang isinya penjahat kelas dinosaurus. Tujuan mereka adalah lantai paling atas tempat kediaman pemimpin penjahat. Pemimpin pasukan khusus tersebut memerintahkan agar anak buahnya meriksa senjata mereka, ke-mudian berkata:

“Saya tidak ingin ada bangku kosong satupun saat kita pulang nanti.”

Mantep! Kata-kata yang gue suka. Kalau gue yang jadi pemimpin pasukan itu, gue juga bakal ngomong kayak gitu ke anak buah gue.

Dan tiba-tiba di depan gue ada suara berisik. Mereka lagi berdebat soal aktornya.

“Aduh itu pemimpin pasukannya ganteng banget. Itu Daniel Mananta bukan sih? Kok mirip. Tapi yang ini lebih ganteng deh,” kata dua biji kaum hawa yang duduk di depan gue dengan suara agak keras dan menyebalkan lubuk hati gue yang paling dalam.

“Masih gantengan Daniel Mananta kali.”

“Ih, ganteng apaan. Masih gantengan ini kali.”

“Daniel!”

“Ini.”

“Nggak! Daniel!”

Gue geram dengerinnya. “Sst! Di mana-mana juga masih gantengan saya Mbak!”

Pasukan khusus tadi tiba di lokasi penyerangan. Di sana seorang pria berambut putih sudah menunggu. Ternyata dia adalah seorang letnan yang punya misi ini.

“Duh, itu siapa sih. Lupa. Main di sinetron apa ya?”

“Cinta Fitri? Iya Cinta Fitri.”

“Ih bukan deh.”

“Putri Yang Ditukar kalo gak salah.”

“Bukan. Bukan. Panji Tengkorak!”

“Iya kali ya?”

“Apa Tutur Tinular versi 2012 ya?”

“Aduh bingung deh. Beneran lupa. Suer!”

Gue garuk-garuk kepala, nemu kutu terus digigit-gigitin sambil ngacungin jempol.

Kemudian tiba-tiba aja suasana jadi nanar. Lima lelaki yang entah apa dosanya itu ditodong di kepala oleh pemimpin penjahat dengan pistol dari jarak dekat.

DOR! Darah muncrat. Satu mati.

“AW!” Mbak-mbak di sebelah gue teriak.

DOR! Lagi. Muncrat juga dan seterusnya sampai empat. Mbak-mbak di sebelah gue teriak dengan intonasi, nada, pitch control, ekspresi yang sama dengan teriakan pertama.

Lelaki yang kelima udah pasrah. Peluru habis. Pistol diletakin di bahu lelaki itu oleh sang pemimpin penjahat. Kemudian dia nyari senjata lain yang agak kerenan dikit mungkin buat ngabisin yang terakhir. Nanggung pikirnya. Di laci meja bukan peluru yang diambilnya, melainkan palu. Pemimpin penjahat itu memukul yang terakhir.

JLEB!

“AW! AW!” Gue teriak. Tapi lebih kayak melonglong ala serigala. Mbak-mbak di sebelah gue lebih sadis teriaknya, kayak kuntilanak kejepit pintu terus dikasih remason. Kami saling menoleh terus teriak sama-sama. Biar lebih keren kami pun menarik nafas panjang-panjang dulu biar lebih apdol. Dia pelukan sama pacarnya. Gue memejamkan mata sambil pelukan sama pegangan kursi. Sedih. Ingin pulang. Cuci kaki. Tarik selimut. Tidur. Mimpi di kejar anjing. Masuk got. Nangis-nangis. Bunuh diri. Modar. Masuk neraka.

Sepanjang film menegangkan banget. Gue gak jauh-jauh dari pegangan kursi. Seharusnya gue beli pop corn biar pas ada adegan seram yang bikin gue kaget, ada yang bisa gue masukin ke dalam mulut. Dengan begitu gue gak teriak, tapi melampiaskan kekagetan dengan mengunyah-ngunyah pop corn. Paling gak itu sebagai variasi selain pegangan sama pegangan kursi.

Semua itu cuma seandainya. Seandainya aja gak ada kata seandainya, mungkin dunia ini gak dibayang-bayangin harapan semu yang berlebihan. Oh lebih nyedih lagi sama harapan gue yang ‘seandainya gue beli pop corn’ itu. Gak nyeni banget. Betapa mimpi yang gue miliki itu terlalu rendah. Orang-orang bermimpi seandainya ada pacar di sampingnya. Ini? Seandainya ada pop corn nemanin gue nonton bioskop. Hal tersebut sebetulnya sudah memperlihatkan betapa menyedihkannya hidup gue. Hidup nyedih dan gak nyeni. Seha-rusnya semua orang prihatin sama gue. Gue ini makhluk Tuhan paling terkasihan, meskipun punya hidung yang mancung dan rambut Andy Lau. Tapi, semua itu gak ada artinya kalau di sini gue lagi menggigit jari pas adegan film kembali tegang. Urat saraf gue ikut menegang. Gue menegang sendirian tanpa ada yang peduli sama gue yang lagi tersiksa dalam ketegangan. Hanya ‘itu’ gue aja yang mengkerut.

Tapi gue bersyukur karena gue gak lebai kayak mereka. Mereka-mereka yang ada di sekeliling gue ini anak alay. Gue gak abis pikir pas adegan penjahat di film itu menusuk-nusuk golok ke dinding triplek pas Iko Uwais sembunyi di baliknya. Anak alay di belakang gue bilang ini itulah.

“Duh kena deh pipinya.”

“Sakit gak ya?”

“Kenapa sih tokoh utamanya harus kena parang?”

“Duh jahat banget sih tuh orang.”

“Duh jerawatnya kena! Jerawatnya kena! JERAWATNYAAA! KENAAA!”

Gue garuk-garuk pantat.

Dan yang lebih parah lagi pas tokoh utamanya gak berkutik melawan kaki tangan penjahat utama yang gak mati-mati.

“Duh gue boleh ke sana gak ya? Kasihan tuh tokoh utamanya udah capek gitu. Sutradaranya gak mikir lagi. Coba aja dia yang ngelawan penjahat kumisan itu. Gue jadi pengin cabutin tuh kumis penjahatnya. Gemes gue liatnya gak mati-mati. Tolong dong. Mas, bantuin dong pacar saya itu. Kasian dipukulin terus sama si kumis.”

Gue diem seribu bahasa nahan kentut. Gila gue gak kuat lagi nahan. Duut. Gue kentut dari mulut tapi gak gue keluarin. Gue telen lagi.

“Sutradaranya mana sih? MANA SUTRADARANYA!” teriaknya lagi.

“Duh, tokoh utamanya keringetan. Boleh gak ya masuk ke sana buat ngelapin keringetnya.”

Di sebelah kiri:

“Sayang, genggam tanganku. Aku cinta kamu.”

“Aku juga cinta kamu.”

“Sayang, kapan kamu melamarku? Aku berjanji akan menjadi isteri yang solehah.”

Apa coba hubungan dialog mereka sama adegan di film? Di saat semua orang mengomentari dengan cara alaynya sendiri-sendiri, orang pacaran di sebelah gue bisa-bisanya berdialog yang melenceng dari tema yang seharusnya. Gue cabut juga nih dua lembar bulu ketek, terus tempelin di hidung mereka. Bonus dua biji upil segar!

Tanpa ada rasa malu lagi, orang pacaran di sebelah gue main cubit-cubitan pipi. Dan mbak-mbaknya itu kegirangan kayak baru menang judi gaple. Padahal pacarnya itu suka main perempuan. Dia itu playboy! Gue pernah ngeliat dia sama seorang gadis di pangkalan ojeg. Lelaki itu dipanggil sama seorang gadis, ah bukan! Ibu-ibu! Katanya, Bang ke pasar Bogor ongkosnya berapa? Ooo… ternyata tukang ojeg.

Cukup! Gue muak dengan semua ini! Kenapa Cuma gue yang menderita begini. Kenapa cuma gue yang gak bisa nikmatin kerennya film The Raid? Gue kayak lagi dikejar-kejar oleh sekawanan pembantai. Sekuat tenaga, sampai kelelahan, gue bagaikan Iko Uwais yang diserang bertubi-tubi sama penjahat. Ya, gue diserang sama godaan-godaan pembuat galau di kiri kanan depan belakang gue. Dan tolong kalian jangan protes jikalau seandainya manakala gue bilang diri gue bagaikan Iko Uwais. Please, sekali ini aja. Lain kali gue gak akan mengulanginya lagi. Ini demi ngusir rasa rindu gue sama dia yang gak mau diajak nonton oleh sama gue. Tadinya gue pikir bakal terhibur sama nih film, tapi ternyata semuanya berbeda. Pas adegan Iko Uwais teringat sama isterinya yang lagi menungguinya pulang di rumah, gue juga ikut teringat sama dia. Tidak, dia tidak sedang hamil dan nunggu gue kayak isteri Iko Uwais di film itu. Mungkin sekarang dia lagi bersenang-senang di kostannya. Entah nonton DVD sambil makan cokelat atau nonton DVD sambil makan kwaci. Yang jelas, dia pasti lagi bersenang-senang sama marmutnya.

Kalau ingat peristiwa kemarin, sangat memalukan. Dia menolak ajakan gue mentah-mentah. Lebih menya-kitkan lagi dia bilang, “apa? Nonton sama ELOCH? Gak la yaw!”

Pas lagi, teman-teman gue lewat kosannya, juga teman-teman dia. Mereka semua menertawakan gue. Gue jadi malu, nutup muka dan lari ke balik pot bunga. Meraungraung.

Sedih. Hati gue sedih kalau mengingat peristiwa itu. Dan sebetulnya itulah sebabnya kenapa gue sampai terdampar di tengah-tengah pasangan-pasangan lebai ini. Gue terpaksa nonton sendirian karena cewek pujaan hati gak mau diajakin nonton. Ngajak teman laki-laki? No! Gue gak mau dikira homo! Kecuali gratis dua kali nonton. No problem.

Beberapa saat kemudian setelah kegalauan gue mulai mereda. Filmnya berakhir dengan skor seratus kosong buat Iko Uwais. Film diakhiri dengan adegan keluar gerbang rusun penjahat dan tulisan THE RAID. Lampu bioskop menyala.

“Mas kok nangis? Filmnya sedih ya?” Tanya lelaki yang duduk di sebelah kanan gue.

“Nangis? Gak. Saya gak nangis.”

“Itu pipinya basah.”

“Apa?!”

Malu-maluin banget. Air mata keluar di saat yang tidak tepat. Ini film action. Kenapa air mata gue bisa keluar? Oh sungguh memalukan. Sepertinya urat saraf gue udah harus diganti sama yang baru.

Tapi…

TAPI!

THAPHI!!!

JENG JENG JENG!

Kok pipi gue gak basah? Gue berkali-kali mengusap pipi. Kering.

“April mop!” teriaknya sambil menirukan gaya Cherrybelle.

Sial. Umpat gue dalam hati. Terus menyumpah-serapah

“April mop masih beberapa hari lagi Mas,” gue meng-gerutu.

“Hehe…” dia tertawa sambil jalan gemulai dan tangan melambai.

Jadi? Di sebelah gue tadi? Makhluk hermaproditkah?

Kacau! Hari ini kacau! Gue semakin dibuat gila sama cinta. Efeknya sedasyat tsunami di Aceh bahkan lebih parah dari badai matahari. Sebenernya yang lebih parah tsunami apa badai matahari sih? Ah, Om Google lagi ke pasar beli molen, jadi gak bisa nanya.

Gue berdiri setelah ruangan ini kosong. Cuma gue dan…

“Markonah Muslimah binti Dadang Suradang Adiwangsa Maulana Solihin? Kok ada di sini?” gue terkaget-kaget dengan apa yang  gue lihat. Dia cintaku, pujaan hatiku, bidadariku, ratu sejagatku!

“Kang Usep?”

“Sudahlah,” gue pergi meninggalkan dia gitu aja.

“Kang! Kang! Markonah bisa jelasin ini semua.”

“Sudahlah Markonah! Aku tak butuh penjelasanmu!”

“Kang! Please Kang!”

“Pergi kau Markonah!”

“Tidak Kang!”

“Pergi!”

“Tidak!”

Mas-mas sekuriti dan Mbak-mbak penyobek karcis melongo dengan mulut membentuk huruf ‘O’ dengan mata membesar seperti kelereng ukuran besar.

Lalu tiba-tiba:

“AAA!” Markonah teriak.

Gue menoleh reflek ingin tahu kenapa dia berteriak.

“Markonah Muslimah!”

Dia terpeleset oleh kulit pisang—tolong jangan tanya gue kenapa ada kulit pisang di depan layar bioskop! Gue juga gak tau!

Gue langsung menyambutnya.

HAP! HAP! Langsung ditangkap!

Gue berhasil! Terus celebration muterin ruang studio satu.

“Terima kasih Kang Usep. Kalau gak ada Kang Usep mungkin hidung Markonah tambah pesek kebentur lantai.”

“Gak perlu sungkan Markonah. Kang Usep akan selalu menjaga hidung Markonah.”

“Kang Usep.”

“Markonah.”

“Markonah cinta Kang Usep.”

“Kang Usep juga cinta Markonah.”

“Kita pelukan yuk Kang.”

“Hayu…”

Dibalik kegalauan akan datang kebahagiaan. Jadi gak perlu takut buat ngegalau. Karena galau itu menyehatkan badan.

“Mas. Mas Filmnya udah habis Mas,” seseorang menepuk bahu gue.

“Apa? Saya tertidur?”

“Itu air matanya keluar Mas. Habis nangis ya?”

Gue langsung memeriksa pipi.

“April mop!”

_End_

Advertisements

2 thoughts on “The Raid

  1. review moview (sepertinya bukan) paling lucu!. hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s