Gak Boleh Kalah dengan Kolonel Sanders

GE DIGITAL CAMERASaat aku sedang tiduran di sore hari menunggu mood-ku untuk mengerjakan skripsi yang sedari tadi pagi tidak muncul juga beserta KFC delivery, ada bbm masuk. Dari adik kelasku yang umurnya berjarak empat tahun. Dia sudah lulus.

‘Bang, kemarin Abang jadi memasukkan lamaran di Bank Tangjungpandan?’

‘Jadi. Kenapa?’

‘Abang dipanggil?’

‘Gak. Belum mungkin.’

‘Aku sudah sudah ditelepon dan hari senin wawancara.’

‘O mungkin Abang tidak dipanggil, Cyn. Gak tahulah soalnya umur Abang sudah melewati batas persyaratan.’

‘Jangan berkecil hati begitu, Bang. Kasihan aku jadinya. He he he.’

‘He he he. Memang kenyataannya begitu.’

‘Tapi temanku saja dipanggil. Padahal berkasnya belum lengkap.’

‘Kok bisa?’

‘Berarti ada kemungkinan Abang dipanggil juga.’

‘Memangnya jam berapa kalian ditelepon?’

‘9 pagi.’

Lama tak kubalas.

‘Mungkin gak ada panggilan, Cyn. Sudah hampir lewat jam kerja.’

Bbm terakhir tak dibalas.

Aku memang sudah sadar-sesadar-sadarnya bahwa aku sudah tak memenuhi syarat untuk pekerjaan itu. Dan akhirnya aku kembali memutar rekaman masa lalu. Sekarang aku menyesal karena telah berfoya-foya dengan umurku. Statusku masih mahasiswa, sedangkan teman-temanku sudah tiga tahun berkarir sebagai pegawai negeri di daerah.

Ada penyesalan dengan dua tahun yang lalu saat aku memutuskan resign pada jenis pekerjaan yang sedang kulamar ini. Mau tak mau karena demi melanjutkan kuliah dan memutuskan untuk berkuliah di sebuah kampus yang berkualitas sehingga hampir tidak memungkinkan aku untuk bekerja. Katorku dulu di Jakarta, sedangkan aku berkuliah di Bogor.

Tak kurang dari lima kali aku melamar untuk jenis pekerjaan yang pernah kujalani ini. Entah kenapa, meskipun sudah memiliki pengalaman bekerja, tetap saja aku tidak lolos tes, sehingga aku merasa saat aku diterima kerja dulu, setelah tamat D3, aku sedang dihampiri keberuntungan. Aku juga merasa bahwa sebetulnya aku sangat tidak cocok untuk pekerjaan ini, terbukti dengan kata-kata telak dari seorang yang berkedudukan di sebuah bank yang mewawancaraiku, “Kamu itu tidak cocok menjadi seorang frontliner!”

Hari itu ada enam orang yang diwawancarai dan hanya aku sendiri pelamar laki-laki. Sungguh, aku malu dan sakit hati dikatai seperti itu. Sakit hatinya, dia menjatuhkanku di depan pelamar wanita. Sebulan kemudian, aku ditelepon oleh bank swasta terbesar. Kuikuti serangkaian tes, dan aku lolos. Hari kabar pengumuman itu, ingin sekali aku datang ke bapak-bapak yang sombong itu dan melemparkan surat kontrak kerjaku ke mukanya.

Tapi kemudian, setelah beberapa kali aku gagal untuk melamar jenis pekerjaan dan posisi yang sama, aku akhirnya membenarkan pernyataan menyakitkan bapak-bapak itu. Memang aku tidak cocok bekerja di posisi itu, dan aku sudah semakin tua.

Padahal, pekerjaan yang sedang kulamar ini sangat kuinginkan. Poin pertama yang membuatku tertarik untuk mencoba meskipun aku sudah tahu bahwa aku sudah tak lagi memenuhi persyaratan, adalah bahwa pekerjaan itu untuk penempatan di daerahku.

Semua itu demi ayahku, yang menurut pikiranku, menginginkan aku tinggal dan bekerja di sana. Entah apa alasannya, aku tak tahu. Dan itupun sebetulnya baru tebakanku saja karena sejak kuperlihatkan semangatku untuk memenuhi berbagai persyaratan berkas yang rumit, akhirnya kami berbicara dan hangat kembali. Aku berterima kasih juga kepada Yulia, sahabat SMP, SMA, dan kuliahku yang sudah memberikan informasi serta berkenan mengantarkan berkasku ke bank tersebut.

Lalu aku sms dia, memberitahukan kabar terbaru mengenai surat lamaran yang kuajukan.

‘Cyntia tadi pagi ditelepon oleh pihak bank. Aku belum ada panggilan sampai sore. Sepertinya memang tidak memenuhi syarat.’

‘Wah, anda kurang beruntung sepertinya. Umur anda mungkin menjadi satu pertimbangan. Bersabarlah anak muda.’

‘Mungkin. Yah sudah nasibku.’

‘Itu artinya belum jodohmu. Pasti ada rahasia lain dibalik peristiwa ini.’

‘Yah, mungkinlah.’

‘Waaa… jangan sedih kawan.’

‘Ha ha ha. Gak tahu jugalah. Gak tahu kenapa aku sedang gak bergairah. Sudah gak tahu arah lagi.’

‘Jiah… Kita gak boleh kalah sama Kolonel Sanders. Jari belum habis untuk menghitung kegagalan. Apalagi kamu sekarang sedang skripsi. Mungkin Tuhan menyuruh kamu fokus dulu.’

‘Siapa Kolonel Sanders?’

‘Tanya sama Paman Google.’

Kolonel Harland Sanders mulai memulai usaha pada usia 60 tahun dengan tanpa uang sepeserpun dari pensiunannya. Atau dengan kata lain, dia baru menjadi orang sukses pada saat Tuhan memberikannya bonus umur. Dia adalah pemilik KFC yang dikenal sebagai penyemangat bagi para wirausahawan. Di umur setua itu dia masih tetap ulet dan gigih. Dan aku masih 26 tahun.

*

TOK! TOK! TOK!

Pintu kamarku diketuk.

“Bang, Abang pesan KFC ya? Tuh Mas-masnya sudah datang.”

~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s