Selamat Jalan Kawan, Black Silverku!

Black Silver di Samping Gudang lagi Nungging (Tampak Jauh)

Tiba-tiba aja ada telepon masuk.

“Mas, gimana motornya?”

Ternyata yang menelepon adalah tukang kambing sahabat saya.

“Eh, gimana apanya, Pak?”

“Katanya mau dijual?”

“Oh, iya. Mau. Emang siapa yang mau beli?”

“Ada temen saya. Dari kemaren nanyain.”

“Ya udah ke sini aja. Liat dulu barangnya.”

Setengah jam kemudian, Pak Umar, tukang kambing itu datang. Dia melihat-lihat keadaan motorku yang cukup mengenaskan. Dia mengangguk-angguk ketika melihat pose Black Silver yang sangat memalukan. DIA BERPOSE NUNGGING DI SAMPING GUDANG!

Black, maafkan aku. Bukan aku yang meletakkan kau di samping gudang. Tapi tukang rehab asrama, soalnya ngehalangin jalan dan kerjaannya. Ah, sungguh tempat yang tidak terhormat bagimu. Tapi sudahlah daripada dimasukkan ke dalam gudang.

“Mas, dilepas berapa?”

“Saya sih berapa aja, Pak. Lima ratus ribu juga gak apa-apa. Tapi saya gak ngurus lagi macem-macem. STNK mati tapi BPKB ada. Yah paling abislah 2,5 juta sampai beres.”

Pak Umar adalah orang yang hapal betul seluk beluk Black Silverku. Dia juga yang menjadi saksi kemesraanku dengan Black Silver. Dia yang menjadi penengah saat kami marahan. Dia juga yang selalu mengasuh Black Silver saat aku sedang berada di luar kota. Ah, pokoknya Pak Umar adalah saksi cinta kami berdua: Cinta terlarang antara manusia dengan sepeda motor butut.

Black Silver memang menyisakan banyak kenangan manis dan pahit. Kenangan manisnya, dialah yang menjadi temanku saat aku mencoba mendekati banyak cewek. Mulai dari mendekati cewek terus diterima sampai menemaniku saat putus cinta dan ditolak banyak cewek. Black Silver selalu menemaniku menjelajah malam, menyendiri di hutan belantara sambil menangis dan meraung. Atau saat-saat konyol ketika Black Silver lupa aku kasih minum, dia malah mogok di Bogor Nirwana Residence (BNR). Padahal waktu itu aku sedang kopi darat dengan seorang cewek yang seharusnya memperlihatkan karisma seorang cowok: malah aku menuntun Black Silver mencari bensin. Ah, memalukan sekali. Itu menjadi salah satu malam minggu yang kelabu.

Paling tidak, Black Silver telah banyak berjasa. Ingatkah saat Bagus Bastian yang sering MEMINJAMMU? Kau sering mogok dan kehabisan bensin (sengaja hahaha). Cuma yang aku tak terima, kau pernah memalukanku. Kau tiba-tiba mogok saat seorang cewek sedang meminjammu. Hancur reputasiku saat itu. Tak mengapa. Reputasiku masih tersisa setengah dan akan segera pulih. Bagi anak asrama, Black Silver tak ubahnya seperti kucing yang selalu dimanja-manja, dipangku-pangku, dipanggil-panggil, dielus-elus dan sebagainya. Meskipun Black Silver jarang mandi, tak mengurangi rasa sayang anak-anak asrama kepadanya.  Namun, beberapa bulan terakhir, Black Silver mulai dilupakan. Semua karena ia sudah tak bisa difungsikan lagi akibat sebuah kecelakaan di suatu malam minggu yang kelabu di bawah hujan deras yang menghujam bumi.

Waktu itu, Sang Tuan Black Silver alias aku, sedang BBM-an dengan seorang wanita yang sedang kesepian karena menjadi obat nyamuk temannya yang sedang pacaran. Dan aku merasa iba sehingga aku ingin menemani obat nyamuk tersebut agar tak merasa sendiri (Modus). Tapi hujan masih melanda Bogor dengan derasnya disertai kilat yang saling bersahutan dan angin badai yang menghempas jalanan. Aku, sang pemuda gagah perkasa itu, ingin pergi ke wanita kesepian itu, namun ragu. Lama sekali aku berpikir. Akhirnya, aku pergi juga dengan dukungan para fansku di asrama Belitung. Aku terharu sekali. Bahkan mereka rebutan ingin meminjamkan aku jas hujan. Maka, agar mereka tidak saling iri, aku mengadakan audisi.

Dengan bermodalkan jas hujan, akupun berangkat ke medan pertempuran melawan hujan. Ini untuk hati, untuk jiwa yang sepi. Lagu ‘Pejantan tangguh’ Sheila on 7 pun menggema di otakku. Aku merasa kuat!

mari kita dengarkan dulu lagunya Gan! Biar kita sebagai lelaki jadi kuat!

Hingga akhirnya aku tiba di depan Alfamart Laladon sebuah angkot tiba-tiba memutar arah dan…aku terpental sejauh 5 senti meter. Aku terluka parah: lenganku tergores sedikit, bahuku sakit, dan hatiku juga sakit (karena udah kepikiran malam minggu ini bakal jadi malam minggu kelabu lagi). Sopir angkot yang menabrakku, ah jangan sopir angkot deh, bilang aja sopit taksi, agak elitan dikit. Ok, kita ganti kata angkot manjadi taksi!

Sopir taksi tadi menolongku. Bersama temannya, dia meminggirkan Black Silver yang sekarat. Salah satu dari mereka langsung memberi nafas buatan untuk Black Silver. Tapi, dia hanya menaikkan bahu saja pertanda Black Silver gagal diselamatkan. Asisten sopir taksi tadi menepuk bahuku. Mataku sudah berkaca-kaca.

“Tidaaak!” Teriakku (kamera didekatkan ke mukaku hingga kelihatan bulu hidung dan pori-pori kulit muka–aku berlari slow motion diiringi lagu Gerimis Mengundang-Budi Doremi feat Brenda).

Mari kita dengerin lagunya dulu ya Gan!

Sudah kebayang aku bakal batal ke tempat tujuanku. Gerimis pun terus menderas menjadi hujan yang sangat lebat. Aku menepi bersama Black Silver juga sopir taksi dan asistennya.

“Mas, gimana?” Tanya sopir taksi itu padaku.

“Ya sudah gak apa-apa. Saya baik-baik saja. Cuma luka sedikit. Gak parah. Lanjutkan saja mencari penumpangnya.”

“Ganti ruginya.”

“Saya gak minta ganti rugi. Sudah lanjut aja. gak apa-apa.”

“Mobil saya mas.”

Gubrak!

Black Silver Depannya Memble (Tampak Depan)

Apa-apaan ini? Motor siapa yang rusak siapa pula yang minta ganti rugi?

“Kok minta ganti rugi? Seharusnya saya yang minta ganti rugi!”

“Ini bukan mobil saya mas. Ini baru saja dicat. tuh tergores.”

“Loh? Motor saya juga gak bisa nyala.”

“Tapi Mas tetap harus ganti rugi.”

“Kamu yang salah!”

“Mas yang salah gak lihat-lihat.”

“Gak lihat gimana? Kamu yang beloknya tiba-tiba!”

“Saya sudah nge-sen tadi.”

“Ngesen apaan? Saya gak lihat kamu nge-sen.”

“Mas yang gak lihat!”

“Kamu!”

“Kamu!”

“Kamu!”

“Ya udah kita putus!”

Loh?

Karena tidak ada yang mau disalahkan, akhirnya si sopir taksi tadi memanggil teman-temannya. Aku sendiri. Mereka banyakan. Udah kebayang ini aku bakal ditusuk-tusuk pakai pisau. Jalanan sepi dan aku tidak bisa meminta tolong. Andai saja ada cewek cantik lewat, mungkin aku bisa meminta tolong.

“Begini saja, STNK Mas mana? Gantinya nanti saja,” kata seseorang yang mencoba menengahi tapi malah lebih memihak teman-teman sopirnya.

“Enak saja. Dia yang salah. Mas gak usah ikut campur deh. Kalau saya bakal tanggung jawab! Tapi dia juga harus tanggung jawab! Mas, kita gak ada urusan jadi gak perlu ikutan!”

Dan, teman-temannya itu pergi setelah membisiki sopir taksi yang menabrakku itu. Entah apa yang akan direncanakannya.

Akhirnya kami sepakat. STNK-ku ditahan. Aku bakal mengganti kerugiannya dan dia juga bakal mengganti kerugianku. Sayangnya aku lupa meminta alamat sopir taksi dan mencatat nomor obil sopir tersebut. Dasar anak kecil. begitu itu kalo anak kecil yang jadi sopir!

Mereka pergi. Aku sendiri di sebuah gubuk sambil mencoba memberi kabar tentang kecelakaanku. Tapi tak ada reaksi yang berarti. Dan blackberry pun almarhum.

Black Silver dan Bayarannya Rp 450.000,00 (Tampak Atas)

Tentang penggantian kerugian, aku sudah menyiapkannya. Komunikasi akntara aku dan sopir itu pun masih baik hingga suatu saat akhirnya sopir tersebut mengaku menghilangkan STNK Black Silver. Si Sopir hilang ditelan bumi setelahnya karena dia menyadari kerugian yang akan ditanggungnya nanti pasti bakal melebihi kerugian yang akan kutanggung.

Nah, sejak saat itu hingga hari ini. Black Silver masih dalam keadaan diam tak bersuara. Aku tak punya uang untuk membawanya ke Rumah Sakit PMI. Juga tak punya uang untuk membuat STNK yang baru (maklum pajaknya 3 tahun bo’).

Black, maafkan aku yang membiarkanmu berada di samping gudang. Maafkan aku juga yang tidak membawamu ke rmah sakit. Selamat jalan kawan! Selamat menempuh hidup baru dengan pemilik yang baru. Semoga suatu saat ada penggantimu yang lebih baik. Honda Jazz, impianku. Hahaha…

Oya, Black. Kabarnya kalo orang yang pengen beli itu gak jadi, Pak Umar nanti yang akan merawatmu. Katanya lumayanlah nanti buat ngambil rumput. Wah, selamat ya Black, tugasmu malah tambah mulia: Menjadi kendaraan pengambil rumput untuk kambing yang akan dipotong saat lebaran haji! Keren gak tuh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s