Debat Warung Kopi ‘One Day No Rice’

One Day No Rice‘ atau dikenal dengan ‘satu hari tanpa nasi’ bagi beberapa kalangan, slogan ini sudah tidak asing. tapi bagi banyak kalangan mungkin ini sedikit asing. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah perdebatan mengenai hal ini yang saya lakukan dengan teman saya. Biasalah, perdebatan warung kopi.

Saya sendiri, gak ambil pusing sebetulnya mengenai ini. Orang saya makannya apa saja asal ada. Tapi tentu saja ada yang ambil pusing. Latar belakang munculnya ‘One Day No Rice‘ ini sebetulnya simpel, mencoba mengurangi propaganda beras yang telah berlangsung sejak lama dan mendarah daging. Konon kita sering impor bukan produksi sendiri. Alasannya gak tau sih. Tujuannya, bagus banget, buat mendidik rakyat agar bisa mendiversifikasikan makanannya atau menganekaragamkan makanannya. Menurut ahli kesehatan, banyak mengkonsumsi karbohidrat itu tidak baik, apalagi yang dimakan hanya karbohidrat saja tanpa diimbangi dengan protein dan vitamin. Nah, kalau orang berduit sih bisa saja mengurangi beras, bahkan mereka malah banyakan dan lebih suka makan protein-proteinan dan vitamin daripada karbohidrat. Tapi bagi rakyat kecil yang gak berduit bagaimana? Apalagi sasaran slogan itu adalah orang menengah ke bawah dan anak kecil (dalam masa pertumbuhan). Orang boro-boro mampu beli daging, beli beras saja susah. Tapi, kalo beli beras susah sih, ya beli singkong saja, murah. Lagian kalori yang dihasilkan hampir sama atau bahkan sama (ini anak gizi yang tahu persis). Yah, kalo masyarakat menengah banget sih mungkin udah biasa melakukan One Day No Rice, wong makannya aja susah. Yang perlu diperhatikan ini yang kecilnya nanggung (mendekati menengah) dan masyarakat menengah–bukan maksud hati mengkasta-kastakan orang. Yang udah terbiasa makan nasi, meskipun yang dibeli adalah beras murah, yang nasinya segunung dan lauknya ikan teri sebiji. Bukannya mereka gak mau makan daging, orang duitnya memang cukup segitu buat beli nasi. Tapi ada cara gampang kok, misalnya sarapan pagi ya diganti sama pisang, ubi atau apa gitu yang lebih murah. Siang barulah makan nasi. Itu simpelnya kalo kita pengen ikutan partisipasi mendukung program tersebut. Yah, gak ribetlah. Kan kadang kita juga jarang makan nasi pagi-pagi kan? Cuma siangnya sih yang suka balas dendam makan nasi segunung. Ah, kayaknya agak ngawur deh tulisannya. Gini aja deh, diterjemahin sendiri aja ya. Namanya juga pas lagi debat, kadang nyambung kadang gak.

Cuma yang jadi masalah adalah dari segi bisnis. Mungkin bagi pebisnis beras, ini adalah ancaman. Jika orang Indonesia benar-benar gak makan beras lagi, maka permintaan beras akan berkurang dan makin lama jadi ancur bisnisnya. kalo menurut pendapat saya sih, no problem dengan semua itu. Bercermin sama Amplop terhadap gempuran sosial media saja (analogikan amplop itu beras dan sosial media itu diversifikasi makanan). Ada suatu perusahaan di Jepang yang bisnis amplopnya gak terpengaruh sama sosial media. Malah pemiliknya bilang gini:

“Setiap orang tidak mungkin makan fast food setiap hari kan? Begitu juga dengan email dan social media. Kami yakin ada titik di mana orang akan menggunakan amplop dan media komunikasi lama di momen tertentu,” kata Masaki. 

Yah bisa diganti gini deh:

“Setiap orang gak mungkin makan daging/singkong (misal beras udah diganti singkong) tiap hari kan? Kita yakin ada titik dimana orang akan makan nasi di momen tertentu.”

Bijak banget kan? Nah, menyambung dari kisah debat tadi, sebetulnya mudah sih bikin orang beralih dari beras (karbohidrat) ke makanan lain (protein, karbohidrat jenis lain, vitamin), kalo semua rakyatnya udah sejahtera. Mungkin pola makannya juga jadi berubah. Kalimat yang tertuju buat Pemerintah dari hati rakyat. Cuma kadang begini sih, dari diri kita juga mesti ada usaha untuk mensejahterakan diri dengan fasilitas terbatas yang sudah ada. Yah, saling timbal balik mungkin lebih bijak.

Segitu dulu deh. Sebetulnya saya juga gak ngerti nulis apa barusan. Itu cuma perdebatan warung kopi yang gak memihak siapapun. Cuma membahas pro dan kontra di mata rakyat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s