Catatan Editor Gadungan

Saat gue ngepost ini, gue lagi ngedit sebuah antologi (karya bersama beberapa penulis). Dan gara-gara itu pula gue kepikiran untuk ngepost yang berhubungan dengan edit mengedit atau secara umumnya menulis. Sebetulnya gue editot gadungan hahaha… alias editor gratisan yang siap membantu siapa saja penulis yang pengen minta editin–kalo yang kenal yah. Hehehe… kalo ada waktu sih gue bantu. Apalagi kalo bayar yah gue pasti ada waktu banget.

Seperti yang gue bilang tadi, gue itu bisa dikatakan editor iseng/iseng-iseng jadi editor. Ada beberapa hal yang sering gue temuin saat mengedit isi buku. Misalnya kata-kata yang kurang huruf atau salah, kalimat yang gak singkron bahkan tanda baca dan penggunaan cetak miring. Menulis itu emang gampang-gampang susah. Kalo sekedar nulis ya udyeeh suka-suka kita aja. Tapi kalo nulis yang sesuai aturan yang dibakukan oleh yang namanya EYD, itu baru susah. Yah, mungkin karena kita sering menganggap enteng yang namanya pelajaran Bahasa Indonesia. Sumpah, gue pun pelajaran Bahasa indonesia waktu masih sekolah gak pernah belajar sedikitpun. Mengisi ujian ya mengalir aja seperti air hehe…

Kembali lagi ke menulis, sebetulnya emang kita gak perlu mengekang diri agar selalu sesuai EYD, paling tidak ada keseragaman dalam tulisan kita. Boleh pake bahasa gaul, tapi mesti konsisten dari awal sampai akhir. Karena nantinya akan mencerminkan kita itu sebetulnya bisa menulis apa gak. Keseragaman dalam penggunaan tanda baca pada tulisan kita akan menambah keindahan sebuah karya. Jangan anggap sepe loh. Beneran.

Bagi penulis pemula memang terkadang masih banyak hal yang perlu diperbaiki soal keindahan tulisannya. Contohnya: gue. Nah kalo kita sadar sebetulnya tulisan kita itu jelek, maka saat itulah editing diperlukan. Editing itu bisa sebagian bahkan seluruh tulisan. Bagi penulis yang perfeksionis, waktu yang dibutuhkan untuk mengedit tulisannya bisa 3 banding 1. Artinya kalo dia nulisnya satu jam, maka ia butuh 3 jam untuk mengedit tulisannya agar sempurna. (Nih gue dapet dari  mentor gue waktu pelatihan menulis cerpen). Bahkan, gak jarang tulisan yang tadinya tiga halaman malah yang benar-benar asli cuma satu halaman saja. Tapi ya gak segitunya juga kali yeee… yang jelas, kita itu perlu memperhatikan EYD dalam tulisan kita. Caranya gampang kok, tinggal buka novel-novel dan perhatiin gimana sih tulisannya, mulai dari kata-kata yang dicetak miring, tanda titik koma, tanda kutip, tutup kurung, buka kurung dsb.

Mungkin itulah sebabnya kenapa tulisan gue itu gak dilirik sama penerbit ya. Masih kacau balau. Tulisan gak diedit. Kalimat yang gak beraturan dibiarin gitu aja. Gak diperiksa lagi singkron apa gaknya.

Satu lagi, dalam editing yang udah gue lakuin, banyak yang mungkin masih bingung sama penggunaan titik dan koma. soalnya ada yang dalam satu kalimat komanya sampai lima biji dan semuanya dalam bentuk kalimat yang seharusnya bisa dipotong aja. Boleh aja sih. Tapi apa gak sebaiknya kalimatnya di potong aja biar yang baca ga nahan nafas pas lagi baca. Itu bisa mempengaruhi mood pembaca juga loh (gak tau juga sih literaturnya dari mana hehe… tapi gue ngerasain gitu). (ra)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s