Misteri Benang Layang-layang

Seri mengenang masa kecil

Siang itu angin bertiup kencang. Di luar sana, seperti biasa Agung mengejar layangan yang putus. Bila anak yang lain mendapatkannya, ia pasti merampasnya. Selalu. Aku saja geram mendengar ceritanya. Dan aku pernah mengalaminya sekali. Baru saja. Ingin rasanya kupukul dia. Tapi apa daya badanku tak sebongsor dia. Kurus, kecil dan pendek. Aku takkan menang bila melawannya dengan jurus silat manapun.

Aku tak bisa ikut bermain layang-layang bersama teman-temanku lagi karena layang-layangku sudah tidak ada. Aku hanya bisa memandangi mereka yang bersuka cita bermain layang-layang. Kadang-kadang bingung juga, Agung merampas layang-layangku tapi aku tak pernah melihatnya memainkan layang-layangku. Entah ia kemanakan..

Menurut kabar yang kudengar dari Nopi, cucu Nek Long, layang-layangku dijual ke salah satu murid SDN 35, SD tempat ibuku mengajar. Tapi pembelinya bukan anak kampung sini yang bersekolah di situ. Anak kampung seberang di Jalan Raya Pilang, jalan aspal yang berdebu. Dari rumahku, tinggal lurus saja ke arah utara sampai ketemu jalan aspal. Jangan berbelok kiri atau kanan, terus saja, menyeberang jalan raya. Di situlah rumah sang pembeli layang-layangku. Entah benar tidaknya kabar tersebut. Aku belum sempat mengecek kebenarannya. Dan tak perlu kurasa.

Aku tertawa sekaligus iba ketika melihat Salim sibuk mengendalikan layang-layangnya saat ada layangan musuh mencoba menggelas layangannya. Tak sampai satu menit, layang-layang itu terkulai. Layang-layang Salim putus. Milik bayu dan Iqbal menyusul beberapa menit kemudian.

Layang-layang berwarna biru itu memang menjadi musuh besar kami sejak kemarin. Benangnya begitu kuat sehingga kami menyebutnya ‘Layang-layang Kurang Ajar’ karena dengan gampangnya menggelas layang-layang kami. kami tak tahu siapa pemiliknya. Misteri.

Bang Alen dan Nopi pernah mencoba mencari siapa pengendali layang-layang tersebut. Tapi Bang Alen hanya menemukan sebuah kaleng susu penggulung benang tanpa tuan. untunglah ia menemukan petunjuk berupa jejak kaki menuju semak belukar. Jejak kaki itu berukuran sangat besar, lebih besar dari telapak kaki orang dewasa yang normal. Bang Alen dan Nopi tak melanjutkan pencarian musuh yang meresahkan kami itu. Mereka hanya mengabarkan pada kami bahwa benang yang digunakan untuk menggelas layang-layang kami hanyalah benang nilon biasa.

“Mungkin ia memakai ilmu magis,” kata Nopi sambil mengupas pisang ambon yang ditemukannya di pinggir hutan. “Itulah yang menyebabkan layang-layang mereka tak terkalahkan.”

“Berarti mereka pakai hantu?” tanyaku langsung keringat dingin membayangkan hantu melayang-layang saat kami sedang bermain layang-layang.

“Kalian tidak perlu takut. Ilmunya masih dilevel paling bawah. Cetek. Ilmu magisnya hanya bisa digunakan untuk menggelas layang-layang jenis punya kalian. Aku bisa mengatasinya,” Bang Alen menenangkan kami.

“Bagaimana caranya?” kami semua tak percaya.

“Begini.”

Kami semua, aku, Salim, Iqbal dan Bayu serius menunggu sarannya. Sementara Nopi cengar-cengir di samping Bang Alen.

“Ini semua rahasia kita,” Bang Alen berbisik.

“Iya,” jawab kami serempak dengan berbisik juga.

“Kalian harus janji pada diri kalian masing-masing. Semua ini aku lakukan untuk kalian. Demi kalian, oleh dan untuk kalian,” Bang Alen mengepalkan tangannya dengan semangat.

“Kami berjanji,” aku menepuk dadaku. Salim, Iqbal dan bayu mengikuti.

“Bagus. Kalian juga harus berjanji tak seorangpun dari kalian mengikuti ke mana kami pergi. Mungkin kami akan kembali besok pagi,” Bang Alen mengingatkan. “Ini adalah perjalanan magis!”

“Baiklah, Bang. Kata Nek Long janji itu harus ditepati. Karena orang yang menepati janji adalah pahlawan.

“Iya Bang, kami juga ingin menjadi pahlawan,” Iqbal meneruskan.

“Benar, Bang,” Bayu dan Salim ikutan.

“Tidak hanya kalian, kami juga ingin menjadi pahlawan. Setidaknya kami mencoba sekuat tenaga kami untuk menjaga perdamaian permainan layang-layang kalian. Kami akan bertapa,” Bang Alen terlihat begitu antusias.

“Kalau kami boleh tahu, ke mana Abang akan bertapa?” tanyaku ragu-ragu akan diberitahu atau tidak oleh Bang Alen.

“Kalian tak perlu tahu,” Bang Alen menggeleng-gelengkan kepalanya. “Oya satu lagi. Ada sebuah syarat yang harus dipenuhi. Ah, berat rasanya aku menyampaikan syaratnya.”

“Apa itu Bang? Sedapat mungkin akan kami penuhi syarat itu,” Bayu memohon.

“Baiklah,” Bang Alen menarik nafasnya dalam-dalam.“Maukah kalian mengumpulkan uang, masing-masing dua ratus perak? Sebab selain untuk biaya perjalanan kami, uang kalian berfungsi sebagai sesaji nantinya.”

“Aku menyumbang lima ratus Bang,” Salim bersemangat. Ia menyerahkan selembar uang lima ratusan, diikuti aku, Bayu dan Iqbal dua lembar uang seratusan.

“Kalian tidak keberatan?”

“Tidaaak!” Jawab kami serempak.

Angin berhembus kencang menyapu wajah kami. Sore itu begitu dramatis. Bang Alen dan Nopi pergi. Di lapangan upacara SDN 35 kami berempat melepas kepergian mereka. Kami tak tahu ke mana mereka akan pergi. Mungkin ke Gunung payung yang ada di desa Air kelubi atau ke gunung Kik Karak yang ada di Kelapa Kampit. Kami tak berani bertanya lagi, takut mempengaruhi kualitas pertapaan mereka. Kami juga yang rugi nantinya, terus menerus dibayangi rasa was-was terhadap ‘Layang-layang Kurang Ajar’ itu.

***

Aku tak bisa tidur semalaman. Aku yakin Bayu, Iqbal dan Salim mengalami hal yang sama denganku. Imsomnia adalah penyakit orang dewasa yang kini melanda kami. Kami memikirkan keselamatan Bang Alen dan Nopi. Bayangkan saja dua anak kecil pergi ke hutan yang banyak ular berbisa, babi hutan serta ‘Penebok’. Penebok adalah orang yang suka memenggal kepala anak kecil untuk dijadikan bahan pondasi jembatan. Entah ini benar atau tidak, cerita Nek Long begitu. Dahulu kala ada anak kampung sini yang menghilang. Menurut kabar anak itu diculik. Warga desa mencari ke mana-mana namun tanpa hasil. Beberapa bulan berlalu kasus penculikan anak kecil tersebut seolah terlupakan. Namun, suatu hari ada seorang bapak tua sedang melewati sebuah jembatan. Ia melihat ada sesuatu yang janggal di pinggir jembatan yang berlubang. Ia melihat benda seperti tulang yang ternyata adalah tengkorak manusia, tak lain adalah tengkorak anak-anak. Bapak tua itu langsung teringat tentang kejadian penculikan anak-anak beberapa bulan sebelumnya. Lalu, ia langsung menghubungkan cerita penculikan dengan tengkorak anak kecil dalam pondasi jembatan. Atas peristiwa itu, maka cerita pak tua itu menyebar dari mulut ke mulut  sampai ke Kota Tanjongpandan. Sejak saat itu, anak-anak tidak diperbolehkan bermain jauh-jauh dari rumah. Penebok selalu mengintai setiap saat di manapun ada anak-anak kecil. Aku merinding mendengar ceritanya.

Malam itu, badanku berkeringat dingin dan bergetar. Rasanya tidak enak.

“Kamu kenapa, Nak?”

Ibu selalu terbangun meskipun aku tak membangunkannya. Perasaannya dan perasaanku seperti menyatu. Ia dapat merasakan apa yang aku rasakan. Ia lalu mengompres keningku. Dan memberikanku parasetamol untuk menurunkan panas serta CTM agar aku bisa tidur.

“Besok tidak usah sekolah saja,” ayah menyarankan ketika ibu membangunkannya.

Antara sadar dan tidak sadar, aku teriak.

“Awas Penebook! Selamatkan layang-layang kita!”

OOO

Pagi-pagi sekali ibu sudah bangun menyiapkan bubur. Aroma daun seledri dan bawang gorengnya membangunkan aku. Ayahku sudah duduk di ranjangku. Memegang keningku, memeriksa panas badanku. Lalu, mengusap rambutku. Aku bangkit, lalu membaringkan badan kembali dan meletakkan kepalku di pangkuannya. Memejamkan mata dan merasakan hangatnya kasih sayang ayah. Begitu damai.

“Rasanya masih panas tidak, Nak?”

Aku menggeleng-geleng kepala.

“Hari ini sanggup ke sekolah?” tanyanya lagi.

Aku menganggukkan kepala.

“Baiklah pangeranku. Ayo kita ke sekolah. Tapi sebelumnya mandi dulu.”

Ayah mengangkat badanku. Lalu ia timang-timang aku seperti bayi. Ia melemparkan aku ke udara lalu menangkapnya kembali.

“Ayaah! Nanti jatuh!”

Ia malah bersemangat mendengar tawa renyahku. Ia lalu menggendongku di belakangnya dengan memegang kedua tanganku di atas bahunya. Kakiku menahan di pahanya seperti sedang memanjat pohon. Celana pendeknya turun sehingga celana dalam bagian belakangnya kelihatan. Adikku tegar yang sudah bangun langsung ikut-ikutan minta digendong. Ayah menyambutnya. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kami. Ia sudah menyiapkan air hangat untuk kami mandi. Bubur dengan lauk ikan asin kurasa menu sederhana yang paling menggugah seleraku pagi itu. Dengan bumbu cinta yang ibu taburkan memberikan aku semangat untuk menjalani hari itu dengan penuh senyuman, meskipun sebetulnya aku berbohong. Badanku masih sedikit panas dan kepalaku juga sedikit pusing.

Fajar menyingsing. Burung pentis (Prionochilus percussus) terbang kesana kemari. Sang jantan mengejar betina. Mereka tertawa riang dengan siulan pagi hari mereka. Dedaunan basah membuat bumi ini semakin segar meskipun di belahan yang lain masih banyak keadaan yang bertolak belakang dari suasana pagi itu.

Ayah sudah siap dengan pakaian dinasnya, sedangkan ibu masih sibuk dengan pekerjaan dapurnya. Biasanya jam setengah tujuh, tepat saat kami berangkat ibu sudah menyelesaikan semua tugas dan bersiap mandi dan berangkat ke SDN 35.

Bang Alen memanggilku saat melewati rumah kami. Ia memberi isyarat bahwa janjinya kepada kami sudah ditepatinya. Nanti siang ia akan menunjukkan hasil pertapaannya. Aku sudah tidak sabar menunggu siang. Layang-layang biru musuh kami pasti akan menerima ganjarannya siang ini dan tak ada lagi pengganggu ketentraman permainan kami.

OOO

Siang itu.

Amboi, senang rasanya. Perasaan bercampur aduk. Senang, penasaran dan sedih menjadi satu. Kami senang karena sebentar lagi kami bisa bermain dengan tenang. Rasa penasaran menggebu-gebu karena Bang Alen tak kunjung datang ke tempat yang telah dijanjikan. Sudah hampir setengah jam kami menunggu. Kemudian perasaan sedih itu muncul juga karena kami akan menyaksikan kekalahan musuh sebentar lagi. Entah bagaimana perasaan musuh saat itu melihat layang-layangnya yang sok meraja saat itu tiba-tiba terkulai tak berdaya.

Dari kejauhan sesosok lelaki bongsor, Agung rupanya, sedang berlari melintasi kami. Entah apa yang akan dilakukannya. Mungkin ia sudah tahu tentang rencana kami untuk mengalahkan ‘Layang-layang kurang ajar’ itu, makanya ia bersiap-siap mencari posisi yang pas untuk memulai pengejaran.

Sang pahlawan datang. Wajahnya sungguh bersinar. Pantulan cahaya matahari menerpa kulit kepala rambut belah tengahnya. Mata kami silau sehingga mengharuskan kami untuk memicingkan mata agar wajah sang pahlawan terlihat jelas. Kami melihat senyumannya yang tulus dan penuh makna. Kami yakin dan percaya bahwa pertapaannya berhasil.

Ini bukan hal yang biasa. Sungguh luar biasa, anak sekecil itu, yang kurusnya melebihi kurusku memiliki ilmu yang tak biasa. Itu adalah ilmu ghaib. Tak sembarangan orang memilikinya. Aku jadi penasaran dengan gurunya. Dari mana pula ia berkenalan dengan seorang guru yang memiliki ilmu ghaib.

Berselang beberapa menit, Nopi dari balik pohon keluar batang hidungnya. Senyumnya sumringah. Ia terlihat senyum dbuat-buat. Ia terlihat seperti selebritis yang sedang dipuja-puja banyak wanita. Dadanya ia busungkan. Dia pikir dalam hatinya kami akan memuji dirinya.Tidak! Cukup Bang Alen saja.

“Kalian pasti sudah menanti-nanti kedatanganku kan? Tenang saja aku sudah berhasil mendapatkan yang kalian inginkan. Kalian tak perlu was-was lagi karena riwayat layang-layang biru akan berakhir sampai di sini.”

“Terima kasih Bang. Abang adalah pahlawan kami.” Salim menyambut tangan Bang Alen, menciumnya.

“Tidak usah sungkan teman. Aku senang membantu kalian,” Bang Alen menepuk pundak Salim.

“Bang sekarang berikan jampi-jampi untuk benang layang-layangku ini Bang,” Bayu menyodorkan gulungan benang layang-layangnya.

“Bang, kalau boleh tahu, di mana Abang belajar ilmu ghaib? Ajari kami,” Iqbal penasaran.

“Hush! Ini kan rahasia. Banyak pengintaian di sini. Nanti bisa-bisa rahasia kita terbongkar. Kita kan tidak tahu siapa yang mengintai kita saat ini,” Salim mengingatkan.

“Benar kata Salim. Kamu sebaiknya diam saja,” Bayu membenarkan.

“Tapi kita juga perlu tahu. Ini juga akan berguna bagi kita nantinya,” Iqbal membela diri.

“Biarlah Bang Alen saja yang tahu ilmunya. Kita terima beres saja,” Aku mencoba menengahi.

Bang Alen kemudian memperlihatkan plastik hitam yang dibawanya. Ia menunjukkan bahwa di dalam plastik hitam inilah sumber kemenangan kami nantinya. Benda seperti apakah yang menjadi jimat kami untuk mengalahkan ‘layang-layang Kurang Ajar’ itu? Berbentuk batu giok, kerikil, sejenis kayu, plastik, pasir, tulang, tanduk, air, besi atau patungkah? Aku penasaran namun tak berani mengungkapkan keingintahuanku.

“Di sinilah letak kekuatan kalian nantinya. Kurasa tak perlu aku beri tahu sekarang. Nanti kalian lihat sendiri sajalah,” Bang Alen mulai membuka bungkusan plastik hitam yang dibawanya.

“Tunggu sebentar!” cegah Salim.

“Ada apa, Pin?”

“Apa tak perlu jampi-jampi, Bang? Ini masalah keramat Bang. Biasanya tak boleh sembarangan buka Bang.”

“Tenang saja. Aman,” Bang Alen meyakinkan.

Kami seakan tak percaya apa yang kami lihat setelah Bang Alen mengeluarkan isi kantong plastik hitam yang dibawanya itu. Empat buah gulungan benang gelas berwarna merah dan biru!

“Aman kan? Aku belinya di toko Koh Ahok. Benangnya yang kubeli ini lebih tajam dibandingkan milik pemilik layang-layang biru itu.”

“Jadi? Bukan bertapa di Gunung Payung?”

OOO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s