Nek Long

Nek Long. Sampai saat ini pun aku tak tahu nama sebenarnya. Hanya itu saja yang aku tahu dan aku selalu memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Nek Long artinya nenek tertua dalam bahasa Melayu Belitong. Ia adalah anak yang paling tua dalam keluarganya. Dialah yang sejak aku dilahirkan ke bumi mengasuhku seperti anaknya sendiri. Aku telah menganggapnya sebagai nenek kandungku meski kami sebetulnya jauh dari saudara. Ia hanya tetangga seberang rumah. Tinggal dengan seorang anak perempuannya yang telah bersuami dan memiliki dua orang anak. 

Anak perempuan Nek Long yang tinggal bersamanya bernama Mak Cik Leha. Anaknya yang pertama namanya Alen. Aku memanggilnya bang Alen. Umurnya kira-kira berjarak dua tahun denganku. Adik Bang Alen namanya Dedek, berjarak dua tahun setelahku. Bang Alen inilah teman sepermainanku waktu kecil. Bersama dialah aku menjelajah. Kemanapun ia pergi aku selalu mengikutinya.

Ada lagi tetangga kami. Yang sering kami panggil dengan sebutan mak Mok. Namanya Yati. Aku memanggilnya Mak Mok Yati. Mak Mok artinya bibi gemuk. Mak Mok memang bertubuh pendek dan berbadan gemuk. Ia berjualan bakso di depan rumahnya. Pembelinya adalah murid-murid SD Negeri 35. Dagangannya selalu laris karena baksonya memang terkenal lezat. Sebetulnya ini adalah sebuah keanehan. Mengapa aneh? Keanehan terletak pada baksonya. Kalau orang Jakarta yang membeli pasti mengerutkan kening saat membeli bakso tersebut. Karena tak satupun ada bakso dalam mangkok tersebut. Yang ia temukan hanyalah mie kuning lengkap dengan bihun dan daun seledri serta kuah bakso yang lezat serta beberapa butir kacang tanah yang masih ada kulit arinya. Itulah yang kami sebut bakso. Berbeda dengan versi umum bahwa bakso adalah adonan daging yang dibentuk bulat dan disajikan dengan kuah. Sedangkan mie hanya disajikan sebagai pelengkap bakso itu sendiri.

Mak Mok Yati memiliki anak yang sebaya denganku namanya Agung. Agung tak jauh berbeda dengan ibunya. Agung lebih mengikuti gen ibunya dari pada ayahnya yang kurus. Temanku yang satu ini paling kutakuti. Aku tak berani bermasalah dengannya, karena ia memiliki pusar dua di kepalanya. Konon katanya susah diatur menurut orang tua kami. Hanya Bang Alen yang mampu menghadapinya. Mungkin karena Agung lebih menghormati Bang Alen dari pada aku. Bang Alen adalah yang paling tua di antara kami.

Rumah Mak Mok Yati dengan SD Negeri 35 saling berhadapan. Keduanya dipisahkan oleh lapangan upacara yang sangat luas. Di tengah-tengah lapangan tersebut terdapat pohon Akasia yang merupakan tempat berkumpul murid-murid saat istirahat.

Di bawah pohon akasia yang rindang itu, anak-anak perempuan sering bermain lompat tali. Anak laki-lakinya bermain kejar-kejaran. Kadang-kadang mereka sering mengganggu anak perempuan yang sedang bermain lompat tali. Mereka sengaja jongkok di samping pemegang tali sambil mendongak ke atas saat anak perempuan sedang lompat. Mereka teriak.

“Putih!”

“Merah Jambu!”

Akhirnya, terjadi berbagai keributan. Anak perempuan mengejar sang penjahat yang telah melihat celana dalamnya.

Sebagian anak ada yang membawa layang-layang. Memaninkannya saat istirahat. Bu Fatimah kepala sekolah di situ sering memarahi murid-muridnya yang bermain layang-layang karena sangat mengganggu. Pasalnya bebarapa anak pernah mengadu padanya terkena sayatan benang gelas. Semua itu selalu saja menganggap itu angin lalu oleh murid berandal. Sehari berhenti bermain besoknya lagi akan mengulanginya. Meskipun layang-layang disita, tak menyurutkan semangat bermain mereka. Mereka membeli yang baru atau membuat yang lebih hebat lagi. Salim contohnya, sudah beberapa kali ia di hukum hormat di depan tiang bendera sampai waktu pulang sekolah tiba. Namun ia tak pernah jera dengan kenakalannya.

Lain lagi ulah Agung yang selalu jadi pengganggu di manapun. Di sekolah maupun di luar sekolah. Sekarang sedang musimnya laying-layang. Maka, kenakalannya ia gencarkan pada perampasan layang-layang nak-anak. Belakangan ini ia bekerja sama dengan Salim dan menjadi pasangan penjahat yang kuat, yang ditakuti di kelas satu di SD Negeri 35. Mereka memang sudah keterlaluan. Kemarin, aku yang menjadi korban kenakalannya di luar sekolah. Layang-layangku dirampas mereka. Padahal aku sayang sekali dengan layang-layang itu. Layang-layang paling bagus di antara teman-teman yang lain. Di beli ayahku di toko dekat kantornya.

Waktu itu aku masih sekolah TK. Ayahku selalu mengantarku pulang dan menitipkanku di rumah Nek Long, karena Ayah harus kembali lagi ke kantornya dan ibu masih mengajar murid-muridnya di kelas dua. Aku biasanya pergi sendiri ke sekolah tempat ibu mengajar jika aku bosan di rumah Nek Long. Saat ibuku masih mengajar-murid-muridnya, aku selalu berdiri di depan pintu kelas ibuku, memperhatikan orang yang sedang belajar. Kadang-kadang aku juga sering mengganggu murid-muridnya yang sedang belajar, terutama yang bangkunya dekat dengan pintu. Ibuku marah jika sudah begini.

“Lain kali kalau ibu sedang mengajar, Apin tidak boleh berdiri di depan pintu. Kasihan kakak-kakak yang sedang belajar. Nanti nilai ulangannya jelek.”

“Bu, Apin ingin layang-layang.”

“Kan sudah ada.”

“Diambil Angung.”

“Nanti saja. Ibu sedang mengajar.”

Kalau sudah begini, ibuku bisanya meninggalkan murid-muridnya sebentar dan mengantarku ke rumah Nek Long. Di rumah Nek Long aku tidak diperbolehkan ke mana-mana sebelum ibuku selesai mengajar.

“Nek, kok Tegar tidak besar-besar ya?”

Nek Long tertawa.

“Kalau cepat besar kan bisa main. Terus bisa bantuin Apin mengalahkan Agung. Agung nakal tuh Nek. Sukanya main tinju. Kemarin layang-layang diambil paksa olehnya.”

“Terus? Kamu kasih?”

“Iya Nek. Mana berani melawan Agung. Badannya besar. Apin kurus ceking begini. Agung orangnya kuat Nek. Kemarin dia bisa mengangkat sepedanya Salim untuk membuktikan kekuatannya.”

“Makanya Nenek suruh makan, tidak mau makan. Banyak makan biar kuat seperti Agung. Nenek sedang masak singkong rebus. Coba kamu periksa, mungkin sudah matang.”

Nek Long mengipas-ngipasi Tegar yang tertidur pulas di atas tikar lais.

Aku memeriksa singkong rebus.

“Sepertinya sudah Nek. Soalnya baunya harum!” teriakku dapur.

“Iya. Tapi periksa juga pakai garpu. Coba ditusuk. Kalau sudah remah tandanya sudah matang.”

Aku menusuk-nusuk singkong tersebut. Memeriksa semuanya. Lalu laporan.

“Sudah mataaaang!”

“Angkat pakai kain lap biar tangan tidak kena panas.”

“Lapnya di mana nek?”

“Di meja makan.”

Aku mengangkatnya.

“Neeeek! Beraaaat! Panaaaas! Taruh di manaaa?!”

Aku sudah tak kuat lagi mengangkatnya. Uap panasnya menyembur mukaku.

“Neeek!”

“Apa lagi?”

“Tumpaah!”

Nek Long langsung menghambur ke dapur.

“Kenapa bisa tumpah?”

“Berat dan panas. Hehe…”aku nyengir.

“Kena kaki?”

“Aman.”

“Ya sudah. Kipasi adikmu. Nanti bangun.”

Aku mengipasi Tegar yang mulai gelisah karena gerah sementara Nek Long memunguti singkong yang jatuh ke lantai. Singkong yang jatuh lantai ia cuci dengan air hangat agar bersih dari debu dan pasir yang menempel. Ia pisah di piring kecil dan ia simpan di dalam lemari makan yang disebut ‘gerubok’. Di dalam gerubok itu ada dua potong ikan asin, diambilnya dan disajikan di atas meja bersama singkong rebus yang tidak tumpah tadi pada piring yang lain. Aroma ikan asin dan singkong rebus tercium sampai ke ruang tengah tempat Tegar tidur. Aroma tersebut menggugah seleraku. Ada-ada saja yang Nek Long lakukan untuk membuatku betah menunggu ayah dan ibuku pulang kerja.

“Neeek! Gantian mengipasnya!”

Nek Long sudah membawakannya padaku. Aku sudah tak sabar ingin mencicipinya. Perutku tiba-tiba sangat lapar. Hap! Aku melahap sepotong singkong yang dicocol dengan ikan asin. Rasanya sangat nikmat di gigi. Apa lagi singkongnya adalah singkong roti yang remah. Nafsu makanku menjadi-jadi. Satu saja tak cukup mengganjal perutku. Tiga juga belum cukup. Sampai pada potongan singkong yang ke lima barulah aku menyerah. Aku minum air putih sebanyak-banyaknya setelah itu. Aku terbaring lemas.

“Jangan tiduran setelah makan,” Nek Long menegurku.

“Lemas, Nek,” mulutku menganga mengambil nafas karena lewat hidung saja tak cukup. Bagian bawah bajuku kusingsingkan sehingga pusarku kelihatan. Rasanya perutku tak memiliki ruang lagi untuk udara yang kuhirup.

“Nanti singkongnya mengumpul di perut. Tidak turun-turun ke bawah.”

“Oh begitu ya, Nek?” aku bangun dan bersandar di dinding.

Nek Long memandangiku dengan serius seolah sedang membaca masa depanku. Akan jadi apa aku ini di masa depan. Sering aku mengintip ia menitikkan air matanya saat aku memejamkan mata.

Aku merebahkan badanku di pangkuannya. Ia membelai rambutku. Mataku sayu. Rasa kantuk mulai menguasai. Meski mataku kupaksakan untuk terbuka tetap saja tak bisa. Terlebih saat angin lembut membelai wajahku, mataku semakin sayu dan pandanganku samar. Aku berada di antara nyata dan alam mimpi sampai aku benar-benar tertidur. Biasanya, malam hari kuterbangun dan kudapati aku sudah berada di kamarku.

OOO
Itulah sebagian memoriku tentang tempat aku bermain di masa kecil dan Nek Long. Ini adalah tahun ke 14 sejak kami pindah dari desa itu. Itu berarti ini adalah kali ke 14 aku mengunjunginya. Biasanya kami-aku, ayah, ibu dan adik-adikku-mengunjunginya bersama tiap lebaran. Kali ini bukan saat lebaran.
Usai melihat lapangan sebuah SD tempat ibuku mengajar dulu, aku langsung ke rumah Nek Long yang tak jauh dari situ. Aku memarkir motor di rumah Mak Mok Yati–tapi sekarang bukan Mak Mok Yati yang tinggal di situ, sudah orang lain–dan berjalan pelan. Kuperhatikan dia sedang menimba air. Bayangkan! Menimba air setua itu. Saat aku masih bayi saja dia sudah menjadi seorang nenek. Apalagi sekarang? Dia sudah sangat sepuh tapi masih mampu menimba air. Nek Long memang nenek yang sangat kuat. Entah apa rahasianya.
Krek!
Aku menginjak ranting. Hal tersebut menyadarkannya. Dia menghentikan pekerjaannya, menatapku. Dia tidak sadar. Dia tidak mengenalku, atau nyaris tak mengenalku. Tentu saja, karena aku sudah memelihara kumis dalam setahun terakhir. 
“Apin?!”
Ah, penyamaranku gagal!
“Iya Nek.”
“Apin! Ke mana saja kamu, Cu! Sudah lama sekali tidak bertemu,” dia berjalan ke arahku. Ingin berlari tapi aku cegah.
“Kan Apin sekarang tinggal di Jakarta Nek. Lagian kan biasanya memang pas lebaran Apin ke sini,” aku mencium tangannya. Kemudian memeluknya.
“Kamu tinggal di Jakarta? Berarti nanti kamu tidak akan pulang-pulang lagi ke sini?”
“Insya Allah setahun sekali pulang Nek.”
“Kamu sudah menikah?”
“Ya belumlah Nek. Sigit baru saja diterima kerja. Sudah enam bulan sih.”
Nek Long malah menangis. Dia menatapku lekat. Dia pandangi benar wajahku. “Kamu kok jelek sekali? Wajah kamu berantakan. Tebal kumis dan jenggot.”
“Sengaja Nek. Untuk penyamaran,” aku tertawa kecil.
“Kamu sudah dewasa sekali. Persis saat ayahmu pertama kali ayahmu datang dan tinggal di sini. Kamu persis seperti dia.”
“Begitu ya nek? Oya aku ada sesuatu buat nenek. Ini sengaja aku simpan. Gaji pertamaku bekerja. Sepeserpun tak kubelanjakan.”
Dia menangis lagi. Mungkin teringat saat aku sedang lucu-lucunya dulu. Seorang anak kecil pendiam yang lemah sekarang sudah bisa mencari uang sendiri. Dan uang itu adalah hasil keringat anak kecil tersebut untuk pertama kalinya. Dia menatap amplop itu sangat lama. Membuka lembar demi lembar kenangan masa kecilku.
Roda kehidupan. Setiap makhluk hidup akan tumbuh dan berkembang. Yang kecil menjadi besar. Yang kanak menjadi dewasa. Yang muda menjadi tua.
Lalu dia berkata, “Berarti waktunya akan sebentar lagi.”
Maksud nenek?” aku mengerutkan keningku.
“Maukah tahun depan kamu bawakan lagi nenek sesuatu?”
“Iya Nek. Dengan senang hati. Nenek mau dibawakan apa Nek?”
“Kalau masih sampai umur nenek di tahun depan. Nenek mau memeluk isterimu.”
OOO
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s