Jakarta Sedang Hujan

Nafasku hari ini ditegaskan redupnya matahari pagi Jakarta. Sejalan dengan itu, semakin semangat pula gerimis menghujam tubuhku. Aku semakin menderukan Langkah, berbirama mengikuti alunan kicau panik seriti yang meneriaki pengendara gusar. Seketika hilang sudah mimpi indah semalam.

Beginilah Jakarta, kota yang tak menjanjikan apa-apa selain ladang bermain untuk sekedar uji nyali. Kita semua boleh unjuk gigi paling putih sambil menulis cerita pada dinding kamar. Entah itu tentang lukisan pagi ini ataukah lirik tak tuntas kemarin sore. Yang jelas, lipatlah lengan kemeja dan kencangkan sabuk celana. Selalu. Dan selalu. Kemudian alunkan lirih andalan sepanjang hari.

“Di mana?” tanyaku pada seseorang di seberang sana. Telepon ditutup. Hatiku bertambah deru. Awas nanti, lirihku.

Ah, gerimis semakin risau. Ia diusir paksa ke bumi oleh langit. Jakarta berlinang. Aku menepi di sebuah sudut di mana orang-orang memiliki pemikiran yang sama denganku: menunggu langit kembali tenang. Tak sampai bermenit-menit, sudah berjejer anak-anak kecil yang tak sekolah atau mungkin sekolahnya siang, menggenggam payung berukuran besar.

“Ojeg payung, Om?” seorang dari mereka menawariku. Seorang gadis kecil.

Aku menolaknya dengan tanpa senyum karena aku sedang sibuk dengan tombol-tombol angka di ponselku. Ia beranjak menawari yang lain.

“Yee!” gadis kecil yang menawariku tadi teriak girang. Suara itu mengalihkan perhatianku.

Sepertinya itu pelanggan pertamanya. Yang ditawari segera meraih payung itu dan menerobos. Gadis kecil itumenjulurkan lidahnya ke temannya yang masih berkutat pada calon pelanggan yang sama, berharap-harap, berkomat-kamit. Allah mengabulkan sesaat kemudian. Giliran temannya yang menjulurkan lidah padanya. Yang lainnya juga begitu. Semuanya tampak berlomba-lomba untuk tertawa paling membahana. Sedikitpun tak tergoda untuk cemberut oleh libasan bulir bening yang semakin sebesar kelereng. Malah mereka semakin deras berlari. Mereka menari-nari bersama, dengan harapan hujan semakin panjang. Kalau bisa, hujanlah sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan bahkan sepanjang tahun. Dengan begitu, mereka bisa membeli sepeda baru. Bukan untuk mengobati nafsu kesenangan, mereka pasti akan memodifikasi menjadi sepeda berpayung, dengan payung yang lebih lebar lagi. Maka tarif yang akan mereka dapatkan semakin besar. Dan jika hujan lagi sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan, bahkan sepanjang tahun, tentunya mereka bisa membeli sepeda motor, yang kali ini tidak dimodifikasi menjadi sepeda motor berpayung, melainkan dilengkapi dengan jas hujan yang benar-benar anti basah. Begitu seterusnya sampai akhirnya mereka bisa membeli sebuah mobil. Karena kulihat mereka tampak senang sekali melihat mobil-mobil bagus yang lewat di depan mereka.

“Itu mobilku!”

“Mobilku!”

“Tidak! Itu yang mobil kamu! Itu mobilku!”

“Kamu kan suka warna merah. Mobil itu berwarna putih.”

“Tapi bentuk mobil itu adalah bentuk mobil kesukaanku.”

“Ya sudah, punyaku yang diujung sana saja!”

Kita bisa tertawa lebih keras mendengar tingkah mereka dan berkata ‘mana mungkin’, tapi percayalah bahwa itu bukan sekedar mimpi. Sama sepertiku yang pernah memimpikan sebuah mobil di waktu kecil. Aku sampai bertengkar dengan adikku mengenai mobil. Pertengkaran selalu berlangsung setiap hari, jika kami menyukai mobil yang sama. Aku tak mau kalah karena aku adalah abang. Abang harus menang dan adik harus mengikuti. Pertengkaran itu dipicu oleh kondisi pulau kami yang sederhana, jumlah mobil bagus bisa dihitung jumlahnya. Sepulang sekolah adalah jadwal wajib kami untuk duduk di bangku di bawah pohon depan rumah. Kami memulainya dengan menghitung jumlah mobil yang lewat sambil mengakui mobil yang lewat tersebut punya kami, punya dia, lalu punyaku sampai pada saat kami menyukai mobil yang sama. Tepatnya saat mobil yang bagus bermodel sama dengan sebelumnya tak kunjung lewat lagi, maka bendera pertengkaran dikibarkan. Sampai-sampai ibu jengah mendengar kami.

“Carilah mobil kalian di Jakarta! Di sana ada banyak. Janganlah kalian bertengkar lagi!” dia berteriak dari dapur. Selalu dari dapur. Alangkah sengitnya pertengkaran kami hingga sampai ke telinganya.

“Benarkah itu, Bu?” kami serempak loncat dari bangku dan melupakan pertengkaran sedetik yang lalu itu. Kami mendekati ibu untuk memastikan.

“Kupikir betullah itu bujang. Tanya saja pada ayahmu. Dialah yang lebih tahu,” ibuku sepertinya tidak yakin. Ia bergegas ke dapur lagi, takut kami tanya panjang lebar.

“Hore! Aku akan ke Jakarta!” teriakku. Kemudian aku membayangkan kota Jakarta dengan imajinasi yang aku bisa.

“Aku juga!”

Sejak saat itu aku selalu bertanya pada ibu kapan aku bisa ke Jakarta. Nanti, kalau sudah besar, jawabnya sambil memasak. Selalu sambil memasak. Dalam fantasiku, Jakarta dipenuhi mobil-mobil bagus. Itu benar. Dalam lukisan di pikiranku, Jakarta itu adalah gedung-gedung yang tinggi dan juga banyak mobil di dalamnya. Itu sangat benar. Dalam mimpi pada suatu malam, aku bisa bebas memilih mobil yang aku suka. Itulah yang aku ragu, tadinya.

Kemudian mimpi itu terkubur oleh sebuah peristiwa yang sangat besar yang melanda pulau kami. Beritanya mengenai seorang pemuda pulau kami yang tewas mengenaskan di Jakarta. Aku tak diizinkan melihat mayat pemuda itu, meskipun hanya melihat gambar blur-nya yang ada di surat kabar. Namun, pada suatu malam, saat ayah dan ibuku sedang tidur, aku tak kuasa lagi menahan kepenasaranku. Aku memasuki kamar mereka diam-diam, mengendap-endap, dan berhasil. Aku gulung, lalu kumasukkan ke dalam bajuku, kembali ke kamar dan mengunci pintunya. Adikku sedang tidur sehingga tak perlu takut ketahuan dan dilaporkan.

Pelan-pelan aku membukanya. Lembar demi lembar dengan nafastak teratur. Aku terlalu tegang. Benar yang ibu bilang. Seharusnya aku tidak melihat gambar itu. Gambar itu bukan untuk dilihat oleh anak seumuranku. Akibat melihat gambar itu, fantasiku mengenai Jakarta tergelincir. Jakarta memang dipenuhi mobil dan gedung-gedung yang berisi mobil, tapi mobil dan gedung-gedung berisi mobil itu adalah mobil dan gedung-gedung berisi mobil yang berduri-duri tajam. Entah di tempat duduknya atau di bagian luarnya sehingga membuat pemuda pulau kami tewas mengenaskan akibat tertusuk duri-duri tersebut. Maka cita-citaku untuk pergi ke Jakarta kukubur di belakang rumah. Sejak saat itu aku tak pernah lagi berdebat soal mobil dengan adikku.

***

Satu lagi dari mereka menawariku payung. Aku masih bertahan. Tak tergerak untuk menikmati pelayanan yang memuaskan anak sekecil itu meskipun langit belum berkenan meredakan amarahnya. Aku tetap berharap pada ponselku yang tiap lima detik tombol call kutekan.

Di pojokan kulihat Gadis kecil tadi masih tegar menahan getaran. Kuperhatikan ia lamat-lamat. Wajah yang cantik. Suatu saat aku yakin ia akan menjadi primadona masa depan, kalau saja Jakarta berumur panjang dan memperkenankan.

Nasib buruk memang tak peduli wajah. Jadi jangan salahkan Jakarta memelihara gadis kecil secantik dia untuk berkeliaran di bawah dentuman hujan dengan senjata andalannya. Aku juga pernah menerima hantaman menyakitkan. Berkali-kali aku mengasah peluruku untuk membidik berbagai sasaran. Semuanya meleset. Tapi ayahku, lelaki tua yang selalu menjaga tungku pembakar semangat, berkali-kali menggelar peta, atur strategi. Beribu kali peluhku menyentuh bumi sampai akhirnya aku tak ingin bangkit lagi. Mataku sudah tenang dengan pejaman mata yang melenakan. Aku menutup mata untuk semua sasaran dan lebih memilih untuk tidur siang, karena semua hal indah itu bisa kucapai lewat mimpi yang kukehendaki. Tak hanya itu, aku juga sudah menutup telinga perihal lagu merdu tentang Jakarta. Kusalahkan ayah atas semuanya. Dia memaksaku untuk menyeberang ke dunia yang ada dalam fantasi masa kecilku. Dia menyemangati dengan mobil-mobil yang mengagumkanku setiap saat. Tak ada duri dalam mobil dan gedung-gedung berisi mobil-mobil tersebut. Surat kabar yang pernah kubaca juga sudah dibakarnya. Gambar yang kulihat adalah sebuah kebohongan besar dari musuh tokoh kartun kegemaranku. Benar! Aku percaya pada ayah. Tokoh antagonis di serial kartun suka melakukan kebohongan untuk menghalangi ksatria berbuat kebenaran.

Kemudian dipaksa lagi untuk membuka mata. Tiba-tiba lagiaku telah berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang tak punya waktu. Aku masih terlalu muda dan lemah untuk bertarung lagi. Tapi aku tak bisa kembali karena ayah telah menutup jalan pulang. Ayah tega. Ia malah tertawa, sedikitpun tak tersentuh nurani prihatinnya. Ia hanya memberiku sebuah kaleng susu kosong yang dikaitkan pada kaleng susu miliknya dengan benang tipis. Saat saluran nafasku terjepit, aku hanya bisa mengucap satu kata pada kaleng susu kosong tersebut, “energi.”

Jangan disangka energi yang kumaksud adalah amunisi fisik yang mampu menguatkan otot-otot dan menyehatkan badanku. Energi itu hanya sebuah lelucon berupa ceritasi kancilatau si katak. Dia pikir semua itu bisa membuatku tertawa? Mau tak mau. Lalu kubilang dengan berat hati, “terima kasih, Ayah.”

Kemudian, aku berdiri di tengah monas. Bertanya-tanya, untuk apa dibangun? Di tanah seluas itu, mengapa hanya satu bangunan saja? Apa istimewanya? Hanya sebuah tiang besar. Setelah kutelusuri, ternyata itu adalah lambang keperkasaan bahwa bangsaku ini mampu lepas dari penyanderaan bangsa putih. Kalau begitu aku ingin menjadi monas! Yang bagian atasnya adalah emas. Kupikir desain monas sama saja seperti manusia, bagian atasnya adalah bagian yang paling berharga. Itulah sebabnya diletakkan paling atas. Bagian atas manusia adalah kepala. Dalam kepala ada otak. Otak itu emas! Emas monas berbentuk api yang tak pernah padam. Otak kita juga api yang selalu berkobar. Lalu kubilang pada ayah secara serius dan bergetar, “terima kasih ayah.” Tak lama kemudian aku berdiri di depan cermin. Berteriak, “Selamat datang di Jakarta!”

Aku bersyukur bahwa nasibku sedikit lebih baik dari gambaran umum yang aku ketahui mengenai sudut-sudut terpencil kota ini. Kaum minoritas yang menguasai tak pelak membuat kaum mayoritas menangisi nasib mereka. Lihatlah gadis kecil itu, berbeda dengan diriku yang dulu.  Ia selalu tertawa. Terlebih saat dia menghitung pendapatannya. Ia kegirangan karena tahu pendapatannya lebih besar dari yang lainnya. Ia tak henti-hentinya menjulurkan lidah pada teman-temannya yang mendapatkan uang lebih sedikit. Dia menari-nari layaknya seorang putri dari kerajaan imajinasinya sendiri. Lucu sekali dia. Aku jadi tak kuasa bertahan untuk tidak mencoba berteduh di bawah payungnya. Lagi pula, matahari semakin pecundang saja.

“Dik, Ojeg payungnya, Dik,’ panggilku.

“Iya, Om!” serunya bersemangat. Dia menjulurkan lidahnya kepada teman-temannya lagi sambil tertawa-tawa. Pagi ini ia laku keras.

“Antarkan Om ke gedung di seberang sana ya,” pintaku.

Gadis kecil itu menyerahkan payungnya padaku, kemudian ia menjauh membiarkan aku berpayung sendiri. Tapi aku tak membiarkannya. Aku merangkulnya. Ada getaran berbeda saat aku merangkulnya. Aku bisa merasakan detak jantung yang mengalirkan darah semangat. Mungkin itulah yang membuat tubuhnya selalu hangat.

Aku tiba di kantor. Semua karyawan heran melihatku. Tak terkecuali para manajer yang kebetulan berpapasan di lobi.

“Ini, Dik,” aku menyerahkan uang lima puluh ribuan padanya.

“Tunggu sebentar ya, Om, kembaliannya,” Gadis kecil itu pergi mencari tukaran uang yang entah di mana.

Aku langsung ke ruanganku, tak menunggunya karena aku memberikannya cuma-cuma.

Belum satu menit aku duduk melepas lelah di ruangan, seseorang mengetuk.

“Masuk.”

“Maaf, Pak. Ini kunci mobilnya. Maaf bengkelnya sedang penuh antrian, jadi servisnya agak lama dan mobilnya baru bisa diambil tadi pagi.Saya minta cepat semalam, tapi tidak bisa. Baru saja saya mau menjemput Bapak, tapi Bapak katanya sudah tiba di kantor,” jelas Mang Ujang takut-takut.

“Tidak apa-apa Mang.”

Kelihatannya ia kaget.

Aku hanya bilang, “Di kota yang semakin sempit ini kita harus lebih banyak tersenyum, Mang. Hanya dengan begitu kita bisa bertahan di saat hujan dan merasakan betapa arifnya kota Jakarta.”

Ia membalas senyum.

***


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s