Ruang Pengharapan

Tangan ini bergetar luar biasa. Memegang handphone saja tak kuasa. Aku hanya bisa menatap datar pada benda persegi panjang vertikal berwarna coklat pernis yang sudah tak mengkilap lagi. Entah mengapa sedari tadi aku tertarik menatap satu-satunya benda yang berbentuk hampir silinder, yang jika diputar berbunyi ‘ceklek’ dan saat itu pula detak jantungku berdetak cepat. Biasanya benda itu akan diputar dan berbunyi tiap sepuluh menit sekali, menurut perhitunganku atas pengalaman hari ini selama kurang lebih dua kali lipat waktu yang kuhabiskan untuk menempuh tempat ini dari kasur peraduanku.
Kali ini durasinya tak seperti yang seharusnya. Ini ganjil. Aku terantuk-kantuk getir membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Aku, lebih tepatnya kami yang tinggal dua biji, pengganggu jam makan siang mereka, sedang bertanya-tanya mengenai ruang pengharapan di depan kami. Satu persatu kami dipersilakan masuk oleh perempuan berpakaian rapi, asisten pemilik ruangan ini. Terkadang dia memasang raut wajah menentramkan dan terkadang seperti tak ingin kami ada di dunia ini. Sudah kutelaah, dia menentramkan bagi wajah manis. Tersisa dua biji ini, jangan harap! Terlebih jam makan siang sedang di pertengahan.

Mungkin bagian dari kami yang sudah berada di dalam, yang tadinya duduk menunggu sama seperti kami dua biji ini, sedang disiksa dengan sangat kejam. Dia dikeroyok dengan cara menanyainya macam-macam. Dia disiksa dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Menyakitkan. Menusuk ulu hati. Bukankah dia tidak bersalah? Mungkin. Seperti yang sudah-sudah, mereka yang keluar dari ruang pengharapan ini seperti bunga yang layu. Mungkin karena terlalu panas. Seperti ada yang membakar di sana. Nerakakah di dalamnya? Misteri!

Wajah-wajah yang menyeramkan, dalam seni berpikirku, benar-benar tak ada kenikmatan lagi. Mereka berwujud berupa-rupa bentuk. Terkadang menjelma Genderuwo, dengan bulu kaki menyeruak panjang dan tebal. Hanya bulu kaki saja yang terlihat, wajahnya misteri beraut apa. Tak berapa lama berwajah Abaddon, raja setan neraka dari Yunani. Dia menguasai ruang pengharapan yang seketika menjadi neraka. Lalu pengawalnya yang perempuan itu, yang kupastikan sedang berdiri manis menunggu perintah adalah Hecate, seorang ratu sihir yang menyebalkan. Pertama-tama dia memandang kami dan menyihir wajah kami menjadi hilang seri-serinya.

Seseorang keluar seperti telah tercabik-cabik. Wajah lesu namun lega. Hecate bukan memanggilku. Menyebalkan! Aku hampir mati! Wajahnya bengis tanpa senyum. Apa dia tidak malu dengan gincunya yang sudah berserakan? Merengutnya hanya membuat dia kelihatan bertambah tua dan tentu saja memberi kesan bahwa dia bukanlah orang yang sempurna, meskipun dari kelakuan yang ditumjukkannya pada kami sebagai seorang yang sangat hebat dan sangat sempurna.

Tinggal aku sendiri di sini bersama bayangan tentang lima detik yang lalu, seringai perempuan tua itu, Ya! Tua! Aku tak bisa dibohongi lagi karena pikiranku sudah berhasil menghitung berapa kerutan di wajahnya.

Aku melirik arlojiku, jam makan siang hampir saja berakhir. Istilah bagi mereka, tapi bukan untukku saat ini. Aku hanya menunggu kapan mendapat giliran untuk berharap. Ruangan inilah satu-satunya harapanku untuk bertahan hidup sampai sebulan bahkan kuinginkan sampai selamanya. Namun, tak semudah itu untuk dapat terkabulkan. Pertama, aku harus mereka sukai. Kedua, aku harus mampu berkelit. Ketiga, aku harus bisa merayu. Keempat, keajaiban.

Aku tertunduk. Aku duduk tak bersandar. Duduk terbungkuk karena aku tak kuasa menopang kepalaku yang semakin berat dengan macam-macam cerita mengenai ruang pengharapan yang semakin kudefinisikan sebagai ruang pembantaian—tak seorang pun keluar dengan senyum. Aku semakin penasaran sekaligus ngeri dan nyeri. Ingin rasanya mengintip sebagai referensi bagi pikiranku yang sudah ke mana-mana. Sesungguhnya aku ingin menghilangkan getaran yang semakin menjadi-jadi. Memencet tombol handphone dan mengirimkan pesan singkat ke sahabat karib tak menyelesaikan masalah yang serius ini. Akhirnya kakiku mengais-ngais pasir yang jatuh ke lantai dari lekukan-lekukan bawah sepatuku. Terkadang aku juga menggaruk-garuk kerangka kursi. Bahkan merapikan kemejaku yang sudah sangat rapi. Semuanya sudah kulakukan. Tak terkecuali menjulur-julurkan lidah, tersenyum-senyum dan berlatih memasang wajah setampan mungkin. Namun, percuma saja dinginnya AC mempertegas dinginnya tubuhku. Kalau boleh, aku ingin menggigit kusen pintu!

Aku yang terakhir, di hari yang membatin. Dalam penantian yang semakin seru, berlalunya sudah durasi enam lagu yang kunyanyikan dalam pikiran, aku mendengar langkah sepatu yang mendebarkan. Tapi, bukan terdengar semakin dekat, malah jauh. Bahkan seperti sedang sibuk. Mengetuk-ngetuk lantai tak beraturan. Sayup-sayup ada suara. Seperti berteriak. Tapi tidak begitu jelas. Ini mungkin benar! Pembantaian! Andai saja ruang pengharapan ini tidak kedap, mungkin aku bisa mendengar kronologis pembantaian lewat suara dengan sempurna. Sekarang, otakku bekerja keras ke dunia fiksi. Sungguh tragis nasib lelaki yang masuk tersebut. Ataukah dia marah karena pembantaian yang terlalu sadis? Bukankah seharusnya segala harapan tak perlu dipatahkan? Atau mungkin lelaki itu terlalu memaksa dan tak pandai berkelit sehingga merasa harus marah? Namun, dia marahkah?

Lalu langkah sepatu terdengar sangat jelas. Semakin jelas. Semakin mendebarkan! “Ceklek,” pintu terbuka. Aku bersiap-siap. Menarik nafas panjang dan mencoba menghangatkan tubuhku yang mendingin semakin menyentuh. Naas! Bukan lelaki itu yang keluar duluan. Tapi Hecate! Dia histeris. Wajahnya tampak makin tua dan menakutkan. Maskaranya luntur. Rambutnya terurai sebagian. Blazernya sedikit koyak. “Pimpinan kena serangan jantung!”

Badanku menghangat. Jantungku ikut diserang. Pikiranku bertanya-tanya ada apa dengan ruang pengharapan? Otakku kabur dengan pikiran yang menentramkan karena Hecate kemudian menghampiriku dan berkata, “wawancara ini ditunda sampai waktu yang tak ditentukan. Mohon maaf. Pimpinan kami baru saja meninggal.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s