Pengamen Tua di Tepi Kampus

Tadi siang, saat saya mengunjungi warteg langgananku di tepian kampus IPB, ada pengalaman menarik. Mungkin dapat disebut sebagai gambaran negeri kita yang sangat kita cintai ini, yang selalu sakit, terpuruk dan semoga saja bangkit.

Pengap, panas, bau keringat bercampur menjadi satu. Suara hingar bingar musik yang di putar sebetulnya tidak tepat dengan suasana seperti itu. Musik keras yang memekakkan telinga sebetulnya membuat aku tidak betah untuk bertahan lama-lama di situ. Makanya aku makan secepat mungkin. Tak biasanya warteg tersebut menyajikan suasana yang sangat tidak nyaman seperti itu. Apa boleh buat, kalau kita sudah merasa cocok dengan makanan dan harganya, terkadang suasana menjadi nomor ke dua puluh.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Pada pertengahan saat saya sedang menikmati hidangan, datanglah seorang bapak-bapak membawa gitar kecil. Wajahnya kusut, bertopi kumal, memakai kemeja yang kancing atasnya tebuka dua sehingga memperlihatkan bulu dadanya yang tipis, bercelana pendek berwarna putih yang sudah melekat kotoran tanah di beberapa sisi, serta sendal jepit snowman berwarna hijau yang sudah putus tapi di permak dengan tali rafia agar bisa dijepit. Pertama-tama dia permisi kepada seluruh pengunjung warteg tersebut.

“Maaf mengganggu waktu bapak-bapak ibu-ibu dan adek-adek semua. Izinkan saya untuk menghibur anda-anda semua,” kata Bapak-bapak yang saya perkirakan sudah berumur 50 tahun lebih tersebut. Senyumnya getir. Sangat miris. Tapi dia berusaha untuk setenang dan setulus mungkin.

Mengapa saya sebut menarik? Sebetulnya ini bukan hal yang luar biasa. Ini sangat biasa terjadi di sekitar kita. Baiklah saya beritahu hal yang menarik tersebut. Saya sudah ceritakan dari awal bahwasanya suasana siang itu panas, pengap dan diiringi alunan musik keras yang memekakkan telinga. Lalu bapak-bapak tua tadi datang dengan tujuan mengamen. Entah karena hidup semakin kepepetkah, sehingga dia tidak lagi memikirkan apakah pantas dia bernyanyi di situ. Suara paraunya tenggelam. Walhasil, dia menghibur kami dengan gerakan mulutnya saja.

Tapi kawan, sesungguhnya bapak-bapak tersebut lebih terhormat pekerjaannya daripada tukang korupsi. Dan tentu saja juga lebih terhormat daripada tukang maling ayam. Bukankah begitu? Karena di tengah carut-marutnya negeri ini, dia masih berpikir hal yang benar, meskipun dia sedikit lupa hal yang seharusnya. Dia berpikir bahwa pekerjaannya tidak korupsi, tidak maling itu suatu hal yang benar dan hal yang seharusnya dilakukan yaitu tidak mengamen di tempat yang ada musik, tapi dikesampingkannya. Ya sudahlah, lagipula bapak-bapak tersebut tidak membuat orang menderita dan menangis-nangis darah seperti tukang korupsi itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s