Tanjong Pendam, Sore Hari

Menapaki jejak di pasir putih Tanjong Pendam[1]
Nelangsa, mencipta bait puisi
Menangisi karamnya tongkang waktu itu
Sekarang jasadnya telah hilang, dasawarsa lebih
Hanya sisa bangkai tidur di bawah laut, tepi Kalamoa[2]

Pelangi yang masih ada, menenangkanku
Sisa-sisa kaum cemara juga melegakan
Seniman yang bersukacita, mencandaiku
Mengingatkan lukisan masa muda
Meski tak sebagus pantai
Tanjong Pendam, sore hari
Bercahaya jingga kemudian magenta
Mengukir ekspresi muda, sorak soraiku
Dahulu, menggemaskan
Dan sore itu, sebanyak-banyaknya aku memahat jejak
Hingga cukup memberiku energi
Sampai dasawarsa berikutnya
Aku akan kembali mencium aroma pasir yang penuh kenangan ini dengan cerita baru


[1]Sebuah pantai di pusat kota Tanjong Pandan Kabupaten Belitong, tempat di mana muda-mudi melepas penat sambil melihat sunsetyang indah nan romantis
[2]Sebuah pulau kecil di terbenamnya matahari Tanjong Pendam
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s