Siluet

secangkir kopi dalam tidurku, melelahkan
seperti kerongkongan yang berdarah, lalu keluarlah dari gelap
picisan seumpama malaikat yang menjamuku pada khayalan kedua
dua hari sebelum aku masuk ke dalam selimut hangat Sang Permaisuri bintang kejora,
dia bukan kejora

layaknya, titipan salam untukku
kutepis kemarin, karena sesuatu hal terpenting
belum sempat aku sampaikan pada pidato pertemuan cinta pembual malam hari,
mungkin nanti akan kukerlingkan mataku untuk merayu
secarik keheningan agar segera pergi
dan aku di sini mencumbumu dalam hal yang tak pasti
secarik kertas aku tulis dengan pena
lalu aku lebih-lebihkan hingga tercoret dan aku berhenti
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s