Kisah Cinta Sang Playboy

5955054385_f2395b4632_mKami akui bahwa Rizal Yudha Pahlefi adalah lelaki paling tampan di sekolah kami waktu itu. Semua wanita tergila-gila pada ketampanannya, termasuk guru-guru muda berkelamin perempuan. Sangat wajar di usianya yang masih sangat muda ia sudah merasakan berbagai jenis cinta dari berbagai jenis bentuk wanita, mulai dari yang nyaris cantik sampai yang sangat cantik. Di bawah yang nyaris cantik itu ia tak pernah. Standar tipenya tinggi Bung!“Tumben kita semua ngumpul di warung Acong. Ini suatu pertanda Boi!” Seru Rizal. Seperti biasa, persediaan kopi di rumahnya sedang habis.“Tepat Zal. Ini pertanda rumah Pak Haji Daud akan ramai oleh orang gila,” jawabku.

Rizal sudah mengecap kesenangan bertahun-tahun lamanya serta menyakiti puluhan gadis-gadis yang tak bersalah. Gadis terakhir yang menjadi targetnya adalah Ambarwati. Setelah itu target sebetulnya banyak, tapi tak ada yang mau dengannya.

Tahukah kawan mengapa bisa begitu? Itu semua karena bencong. Perjalanan cintanya berakhir di tangan seorang bencong. Namanya Ranti. Asli! Bencong tersebut memang cantik, sayangnya bencong. Ide ini tercetus karena ia tak diberi uang jajan oleh orang tuanya selama dua minggu sebagai hukuman bagi Rizal yang suka bolos dan pada saat yang sama ia sedang mengejar-ngejar cinta Ambarwati anak SMK Tanjungpandan yang materialistis abis.

Setiap hari Rizal dibawakan bekal nasi oleh ibunya. Otomatis reputasinya saat itu hancur berkeping-keping.

“Boi. Sekarang kau jadi anak mama. Hebat kau Boi!” Ardi menepuk bahunya. Rizal makan bekalnya di belakang sekolah. Tempat itu sepi dan sengaja dipilih agar tak ketahuan yang lain. Kecuali kami bertiga Bung! Tak ada yang kami tak tahu tentangnya karena ia tipe lelaki yang tak bisa memendam cerita terlalu lama. Cerita dalam otaknya ibarat bisul, kalau sudah keluar mata bisulnya pasti lega. Hidup di dunia serasa di surga.

“Aku sudah tak tahan dengan penyiksaan ini kawan. Aku merasa terhina. Harga diriku terinjak-injak,” curhatnya pada kami.

“Kata Pak Haji Daud, hidup itu mudah. Asal kita mengikuti aturan,” ceramah Aidil.

“Benar kawan. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan sekarang,” Rizal seperti baru mendapatkan ilham.

“Apa itu Boi?”

“Pacar baru kawan! Aku harus mencari pacar baru yang memiliki banyak uang!” teriak Rizal. Hampir saja bekalnya tumpah.

“Bukankah kau sedang mengejar Ambarwati Boi?”

“Makanya otak kau jangan kau letakkan di mata kaki kawan. Suatu saat ilmu percintaan akan kuajar-kan padamu,” janji Rizal pada Aidil. Kenyataannya Rizal tak pernah memberikan ilmunya pada Aidil. Nyaris saja Aidil menjadi bujang tua.

Perburuan itu dimulai dari malam itu di acara kawinan kembang desa Siburik. Di sana ada madun[1], sangat pas untuk mencari mangsa. Mata Rizal liar memperhatikan sekitarnya. Hitam matanya tak pernah berada di tengah, selalu berada di sudut-sudut matanya. Ada gerakan sedikit matanya langsung mencari di mana asal gerakan itu. Tentunya sambil berjoget.

Kami bertiga hanya menunggu di pinggir jalan sambil makan kacang rebus. Tak lama kemudian ia menghampiri kami.

“Bagaimana Zal, perburuanmu malam ini?” Tanya Ardi.

“Semuanya miskin Boi!”

“Gagal? Mari kita pulang. Habislah kita kalau ketahuan Pak Haji Daud, pasti kita dipaksa khatam Al Quran dalam seminggu,” Aidil terbayang-bayang kemarahan Pak haji Daud jika ketahuan nonton ma-dun.

“Tidak gagal Boi. Ada satu target yang mencuri perhatianku. Coba kalian lihat ke arah jam sebelas,” Rizal menunjuk—kalau dilihat dari jauh seperti wanita seksi—yang dimaksud.

“Cantik,” kataku..

“Dari jauh terlihat luar biasa,” tambah Ardi.

Rupanya hanya Aidil saja yang waras,”Tidak salah kau Zal? Itu setengah wanita! Laki-laki Zal! Sudah tak normal kau rupanya akibat tak mampu mendapatkan cinta Ambarwati.”

“Sst! Itulah sebabnya kau tak pernah mendapatkan wanita Dil. Percuma kau kuajarkan teknik mendapatkan cinta kalau kau belum melihat hasilnya nanti,” Rizal menjitak kepala Aidil.

Rizal benar-benar memacari bencong yang kami lihat malam itu. Ternyata itu bencong kaya Bung! Dan Rizal hanya memanfaatkan uangnya saja. Tentu saja sahabatku itu sangat normal. Ia menggunakan uang hasil rampokannya terhadap Ranti (nama bencong tersebut) sebagai modal untuk mendekati -. Cinta begitu kejam Kawan!

Semakin lama Aidil semakin paham apa yang di-maksud Rizal. Aidil selalu rajin mencatat teknik-teknik meraih cinta meskipun tak disuruh mencatat—dia mencatatnya secara diam-diam.

Tapi sepintar-pintarnya tupai melompat akhirnya terjatuh juga. Pada suatu malam yang romantis, Rizal mengajak Ambarwati makan di sebuah kafe di Tanjong Pendam.

“Kau pesan saja apa pun yang kau suka. Tapi kau jangan pesan cinta abang sama kafe ini. Kalau mau langsung saja pesan sama Bang Rizal, dan nanti Bang Rizal kasih gratis untuk Ambar.”

“Ih Bang Rizal genit.”

“Ah masak sih Abang genit?” Rizal mencolek dagu Ambar.

“Tuh kan genit. Ambar jadi malu.”

Jam tujuh lewat sekian, suasana masih romantis.

“Kenapa ya handphone Ambar tiba-tiba nge-hang,” Ambar pura-pura memencet handphone jadul-nya.

“Pakai handphone abang saja dulu. Nanti Abang belikan yang baru. Yang jadul itu dibuang saja,” Rizal memberikan handphone yang baru saja dibeli-kan oleh ranti dua hari yang lalu.

“Bang Rizal baiiik deh,” Ambar mencubit-cubit pipinya.

“Aduh, pipi Abang jadi bersemu merah,” Rizal cekikikan.

Jam delapan tepat barulah suasana menjadi panas, hot, mencekam, mengerikan dan menegangkan.

“RIZAL! KURANG AJAR KAU! BERANI-BERANINYA KAU PERGI DENGAN WANITA LAIN!” Ranti dengan suara lakinya menggebrak meja.

Cerita Lengkapnya ada di buku KUMPULAN CERITA PELUKIS PAGI

[1]dangdutan

[2]itik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s