Figura Ayah

RUPANYA, BEGINI RASANYA BERTAHAN, MUSIM dingin yang lalu
Tangan bergetar dan mulut meratap, doa yang sopan, kala itu
Figura Ayah,
Petuahnya tentang kesan dan pesan, pinggir sungai, dan berjibun-jibun suara serak, dia masih setia pada hayat
Bergerak menyuruhku tegak, menyuruh menjalin temali dan tak menghiraukan hiruk pikuk penasehat mabuk, dia bukan sedang jatuh cinta, melainkan berada di gelombangnya samudera. Jangan dengar nasihatnya!
Jangan lalai!
Sebab tak guna berlari, jika akhirnya letih. Terbaring.
Pikirkan tentang masalah surat kabar pagi ini yang menyebutkan: janganlah akhiri dengan sepi, rianglah, syukurlah, rajamlah air mata, bilang jangan kembali!
Setelah itu kita minum kopi bersama Ayah
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s